Singosari, Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Strategi pembangunan desa berbasis pelestarian tradisi terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi riil di tingkat akar rumput. Hal ini tercermin dalam kesuksesan gelaran Watugede Culture Festival (WCF) 2026 yang berlangsung pada 21–24 Agustus 2026 di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Tidak sekadar menjadi ruang selebrasi, festival swadaya ini berhasil membukukan estimasi nilai transaksi hingga mencapai Rp140 juta selama empat hari penyelenggaraan.
Budaya yang Bergerak ke Ruang Publik
WCF 2026 memilih konsep yang membumi dengan memindahkan panggung pertunjukan langsung ke jalan poros desa. Langkah ini berhasil menghapus sekat antara pelaku seni dan penonton. Budaya tidak lagi diletakkan di menara gading, melainkan hidup di tengah masyarakat.
Parade seni Banteng Maheso Selo Agung menjadi magnet utama yang mengawali rangkaian acara. Yudi, seorang warga dari RW 10, memberikan apresiasi mendalam terhadap keterlibatan generasi muda dalam acara ini.
“Budaya yang mulai terpinggirkan ini memang perlu diangkat kembali. Ini langkah penting agar kesenian tradisional kita tetap dikenal dan dicintai oleh Generasi Z,” ujar Yudi.
Selain parade, festival menyasar anak-anak lewat lomba mewarnai, serta kolaborasi pertunjukan Bantengan klasik dan modern. Menariknya, di tengah kentalnya nuansa tradisi Jawa, panitia menyelipkan unsur modernitas berupa sepeda listrik sebagai salah satu hadiah utama jalan sehat.
Kombinasi unik ini menjadi simbol bahwa Desa Watugede tidak lahir dari ruang kosong. Mereka memilih merawat ingatan sejarah tanpa harus menutup pintu terhadap kemajuan zaman.
Ketika Keramaian Menjadi Rezeki
Sektor ekonomi menjadi pilar yang paling merasakan dampak positif dari perhelatan ini. Sebanyak 70 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) se-Malang Raya difasilitasi untuk membuka lapak dagangan di sepanjang area festival.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak langsung adalah Muhamad Ali, pemilik gerai Dapur Mama.
“Saya sangat senang dengan adanya festival ini. Kegiatan seperti ini benar-benar terbukti meningkatkan pendapatan kami,” ungkap Ali yang mencatatkan omzet sekitar Rp3 juta selama acara.
Agus Supriono, warga RT 01/RW 10, juga menyuarakan hal senada. Bagi warga, festival desa harus membawa dampak nyata pada dapur masyarakat.
“Bagi kami, kegiatan ini tidak sekadar memberikan hiburan gratis bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang pendapatan bagi para pelaku UMKM,” jelas Agus.

Mandiri Bersama Akar Rumput
Ketua Panitia WCF 2026, Imam Effendi, SE., mengungkapkan bahwa esensi dari festival ini adalah kemandirian. Dari total biaya operasional sebesar Rp50 juta, sebagian besar anggarannya diperoleh melalui pendanaan swadaya masyarakat.
“Festival ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat akar rumput mampu bergerak mandiri untuk menjaga warisan budaya mereka,” tegas Imam.
Sinergi ini diperkuat oleh keterlibatan jejaring lintas budaya regional, seperti Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), Lentera Singosari, Pasar Kawulo, Kasepuhan Singhasari, hingga Paguyuban Batik Singosari. Berkat manajemen yang solid, Watugede bahkan sukses menyabet predikat Juara 3 KRENOVA kategori umum dalam ajang Kecamatan Singosari Berseri 2026.
Tantangan Setelah Panggung Dibongkar
Antusiasme masyarakat yang melesat hingga 1.000 peserta jalan sehat tahun ini menjadi indikator keberhasilan acara. Deni, salah seorang perangkat Desa Watugede, mengaku bangga atas lompatan jumlah partisipan ini.
“Tahun lalu peserta kita berkisar di angka 500 orang. Tapi tahun ini, tiket yang terjual tembus sekitar 1.000 peserta. Ini perkembangan yang luar biasa,” kata Deni.
Namun, nilai sejati dari sebuah festival diuji dari apa yang tersisa setelah keramaian berakhir. Ketua FONDASI, Fajar, melemparkan sebuah refleksi penting yang patut menjadi perenungan bersama.
“Apa yang harus kita jaga bersama agar festival ini ruh-nya tidak berhenti sebagai acara tahunan?” pungkas Fajar.
Bagi desa yang memiliki akar sejarah kuat lewat situs Petirtaan Watugede (Ken Dedes) ini, tantangan sebenarnya adalah menjaga agar energi kebudayaan tidak ikut bubar ketika panggung dibongkar. Tradisi yang hidup bukanlah tradisi yang hanya disimpan di masa lalu, melainkan yang dirawat hari ini, dirayakan bersama, lalu diwariskan ke masa depan.

Penulis Desa, Budaya dan Ekonomi Lokal | Pemerhati Masalah Sosial serta Pembangunan Perdesaan


















mantap sukses untuk desa Watugede ,spesial RW 10 pancen joss, dengan dana tanpa bantuan pemerintah mampu menyelenggarakan even besar dengan swadaya sendiri,joss
sukses selalu untuk desa watugede,artikel yang menginspirasi kita semuanya
menginspirasi artikel ini,terimakasih sungguh bermanfaat informasinya,sukses atas terselenggaranya Watugede Culture Festival (WCF)2026
selamat atas terselenggaranya Watugede Culture Festival 2026, terimakasih telah berbagi kisah indah ini
Terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungannya. Semoga semangat swadaya dan kebersamaan warga Watugede ini terus tumbuh. Tulisan ini hanya ikhtiar kecil untuk ikut mengabarkan hal-hal baik yang lahir dari desa.