Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

LINGKUNGAN · 21 Feb 2025 14:01 WIB ·

Limbah Tambang “Mati” Ancam Gagal Panen 800 Hektare Sawah


					Limbah Tambang “Mati” Ancam Gagal Panen 800 Hektare Sawah Perbesar

Situbondo, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Ratusan petani di Kecamatan Kendit, Situbondo, kini terjebak dalam krisis air yang ironis. Sekitar 800 hektare lahan pertanian di empat desa—Bugeman, Balung, Kendit, dan Klatakan—terancam gagal panen bukan karena musim kemarau, melainkan akibat saluran irigasi yang “tersedak” material sisa tambang.

Masalah ini menjadi pelik karena aktivitas tambang yang menjadi biang kerok sudah lama berhenti beroperasi. Material tambang yang terbawa air hujan mengendap dan menyumbat total aliran irigasi, meninggalkan petani dalam ketidakpastian tanpa ada pihak perusahaan yang bertanggung jawab.

Dilema Tambang Tak Bertuan
Andika, salah satu petani terdampak, mengungkapkan kekecewaannya karena nasib mereka seolah terabaikan. “Material dari tambang dibawa air dan menutup saluran. Kami yang harus menanggung ruginya, padahal tambangnya sudah tidak ada,” keluhnya, Kamis (20/2/2026).

Kerugian ekonomi kini membayangi warga. Tanpa aliran air yang normal, pertumbuhan padi dipastikan tidak optimal, yang berujung pada penurunan bobot gabah saat panen nanti. Upaya petani melapor ke pihak terkait selama ini seolah membentur tembok tinggi tanpa realisasi perbaikan yang nyata.

Respon DPRD: Masalah Komunikasi atau Birokrasi?
Krisis ini memancing reaksi dari DPRD Situbondo. Anggota Fraksi PKB, Suprapto, menyayangkan lambatnya laporan resmi yang masuk ke meja legislatif. Ia mengaku baru mengetahui detail sumbatan material tambang tersebut dan berjanji akan segera mengambil langkah taktis.

“Seandainya warga melapor lebih awal ke DPRD, perbaikan bisa diupayakan lebih cepat. Mengingat pemilik tambang sudah tidak diketahui, maka beban solusi kini ada di tangan pemerintah daerah,” tegas Suprapto.

Langkah Darurat Menuju Normalisasi
Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPP) kini menjadi tumpuan harapan terakhir para petani. Suprapto berkomitmen untuk segera mengoordinasikan pengerukan material tambang agar air bisa kembali mengalir ke sawah-sawah warga.

Normalisasi irigasi mendesak dilakukan dalam waktu dekat. Jika pemerintah terlambat bertindak, Situbondo berisiko kehilangan potensi hasil panen dari 800 hektare lahan, yang secara akumulatif akan mengganggu stabilitas pangan di tingkat daerah.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 51 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menagih Janji Dam di Rumah Warga Sungai Duo

6 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Nestapa Karangsegar: Siklus Abadi Banjir dan Krisis Air

30 Juli 2026 - 15:16 WIB

Dari Sampah Menjadi Berkah di Akar Rumput Singosari

24 Juli 2026 - 07:32 WIB

Camat Singosari menerima penghargaan Kecamatan Inovatif pada Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026 melalui inovasi Sanggar Lingkungan Singosari.

Puting Beliung Terjang Talun Rejo, Warga Menanti Bantuan Pemerintah

5 Juli 2026 - 20:33 WIB

Bumi Butuh Healing: Warga Batu Busuak Belajar Rawat Tanah

25 Juni 2026 - 05:31 WIB

Darurat Sampah: Desa di Pati Wajib Miliki Perdes Kebersihan

18 Juni 2026 - 06:08 WIB

Trending di LINGKUNGAN