Ngada, NTT [DESA MERDEKA] – Berhari-hari setelah bencana melanda, perempuan di Desa Tadho, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, menghadapi beban berat. Di satu sisi, mereka harus mengurus kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, mereka juga harus menjaga kebersihan dan sanitasi keluarga di tengah keterbatasan air bersih.
Gempa bumi yang mengguncang kawasan tersebut pada 15/8/2026 semakin memperberat kondisi perempuan Tadho. Gempa merusak pipa-pipa air dan membuat akses terhadap sumber air tanah semakin sulit. Akibatnya, warga harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan air bagi kebutuhan sehari-hari.
Bagi masyarakat Desa Tadho, air bukan sekadar kebutuhan harian. Lebih dari itu, air menjadi kebutuhan vital untuk mempertahankan kehidupan. Karena itu, ketika akses terhadap air terganggu, berbagai aktivitas warga ikut terdampak.
Dalam situasi tersebut, perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan dampaknya. Keterbatasan air membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan kebersihan menstruasi, menjaga privasi, dan mempertahankan martabat di tengah situasi darurat. Dengan demikian, persoalan air bersih tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga menyangkut kesehatan, kenyamanan, dan perlindungan perempuan.
Melihat kondisi itu, Tim Pusat Lingkungan Hidup dan Kebencanaan (PLHK) LPPM Universitas Jember (UNEJ) bekerja sama dengan Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI), Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNEJ, dan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNEJ turun langsung ke Desa Tadho pada 7/9/2026.
Kali ini, tim tidak sekadar membawa bantuan umum. Sebaliknya, mereka menyalurkan bantuan berdasarkan kebutuhan nyata yang ditemukan di lapangan. Pendekatan tersebut menjadi penting agar bantuan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat terdampak.
“Kami tidak ingin bantuan berhenti pada pemberian barang, tetapi harus menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat,” ujar Dr. drg. Banun Kusumawardani, M.Kes.
Sejalan dengan hal tersebut, Dr. drg. Banun Kusumawardani, M.Kes., Ketua Tim PLHK LPPM UNEJ sekaligus Dosen FKG Unej, menegaskan bahwa proses pemulihan pascabencana harus memperhatikan kebutuhan kelompok rentan. Oleh sebab itu, perspektif inklusi perlu diterapkan dalam setiap tahapan pemulihan. Dengan pendekatan tersebut, perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas. dapat memperoleh perlindungan dan akses yang setara.

Pompa Air Ringankan Beban Perempuan Tadho
Sebagai langkah konkret, Tim PLHK LPPM UNEJ menyerahkan mesin pompa air kepada warga Desa Tadho. Mesin tersebut membantu warga mengambil dan mengalirkan air dari sumber air tanah yang dalam. Dengan adanya pompa tersebut, warga kini dapat memanfaatkan air untuk mencuci dan memenuhi kebutuhan sanitasi sehari-hari.
Lebih jauh, bantuan pompa air dari PATPI juga meringankan beban domestik perempuan Desa Tadho. Sebelumnya, mereka harus membeli air untuk kebutuhan keluarga. Dalam kondisi pascagempa, beban tersebut menjadi semakin berat karena kerusakan jaringan perpipaan dan terganggunya akses terhadap sumber air.
Pada saat yang sama, gempa tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur. Bencana juga mengubah kehidupan sehari-hari warga. Karena itu, proses pemulihan perlu menyentuh kebutuhan dasar sekaligus memperhatikan kondisi sosial masyarakat.
Air Mengalir, Harapan Perempuan Tadho Tumbuh
Dalam konteks yang lebih luas, Kepala LPPM UNEJ sekaligus anggota PATPI, Prof. Dr. Yuli Witono, S.TP., M.P., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk hadir bersama masyarakat ketika bencana terjadi.
“Pengabdian kepada masyarakat tidak cukup hanya dengan menyerahkan bantuan. Perguruan tinggi harus hadir untuk memahami kebutuhan warga dan membantu menciptakan solusi yang dapat mereka manfaatkan secara berkelanjutan,” ujar Prof. Yuli.
Menurut Prof. Yuli, bantuan air bersih memiliki arti penting karena menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat. Selain itu, akses air berkaitan erat dengan kesehatan, kebersihan, dan kualitas kehidupan keluarga. Hal tersebut semakin penting bagi perempuan yang selama ini memikul sebagian besar pekerjaan domestik.
“Kami ingin bantuan ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Tadho. Ketika air kembali tersedia, perempuan tidak lagi menghadapi beban yang sama dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pada saat yang sama, kita harus memastikan bahwa perempuan dan kelompok rentan mendapat perhatian dalam seluruh proses pemulihan,” katanya.
Lebih lanjut, Prof. Yuli menambahkan bahwa kolaborasi antara UNEJ, PATPI, dan berbagai unsur di lingkungan kampus menjadi bagian penting dalam memperkuat respons terhadap masyarakat terdampak bencana. Melalui kolaborasi tersebut, perguruan tinggi dapat menggabungkan sumber daya, keahlian, dan kepedulian untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih nyata.
Kini, air kembali mengalir di Desa Tadho. Bagi warga, air itu bukan sekadar penawar dahaga di tengah tanah yang gersang. Lebih dari sekadar kebutuhan dasar, air menjadi simbol harapan dan awal kebangkitan masyarakat pascabencana.
Pada akhirnya, dari Desa Tadho, semangat pemulihan tumbuh bersama. Perempuan, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan seluruh warga bergerak untuk bangkit. Dengan semangat kebersamaan itu, proses pemulihan diharapkan mampu menghadirkan kehidupan yang lebih aman, sehat, dan inklusif tanpa meninggalkan siapa pun.

Saat ini saya sedang mengembangkan diri sebagai bagian dari jurnalis warga.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.