Ngada, NTT [DESA MERDEKA] – Berhari-hari pascabencana melanda, urusan domestik dan menjaga kebersihan sanitasi menjadi perjuangan berat bagi kaum perempuan di Desa Tado, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Secara geografis, Kecamatan Riung terletak di pesisir utara Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah wilayah semi-arid dengan karakteristik iklim kering yang ekstrem di mana musim kemarau bisa berlangsung hingga 7 bulan berturut-turut.
Ketika gempa bumi mengguncang kawasan ini pada pertengahan Agustus 2026, pipa-pipa air hancur dan sumber air tanah yang tersisa menjadi sangat sulit diakses. Bagi masyarakat Desa Tado, air bukan sekadar kebutuhan harian, melainkan komoditas langka yang menentukan bertahan hidup. Di tengah keterbatasan yang akut tersebut, kebutuhan spesifik seperti kebersihan menstruasi, privasi, dan martabat perempuan paling pertama terancam akibat sulitnya mengakses air bersih.
Kondisi nyata di tingkat tapak inilah yang kemudian direspons langsung oleh Tim Pusat Lingkungan Hidup dan Kebencanaan (PLHK) LPPM Universitas Jember (UNEJ). Alih-alih membawa bantuan seremonial dari atas, tim menerjunkan bantuan kemanusiaan yang berbasis pada jeritan kebutuhan warga di lapangan pada Senin (7/9/2026).
“Kami tidak ingin bantuan berhenti pada pemberian barang, tetapi harus menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat,” ujar Ketua Tim PLHK LPPM UNEJ, Dr. drg. Banun Kusumawardani, M.Kes.
Ia menekankan bahwa perspektif inklusi yang ramah terhadap perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas mutlak diperlukan dalam proses pemulihan di wilayah kering pascabencana.
Bantuan konkret berupa mesin pompa air kini langsung dimanfaatkan warga untuk menarik dan mengalirkan sumber air tanah yang dalam, memulihkan akses air bersih secara mandiri. Air tersebut mengalir langsung untuk kebutuhan minum, memasak, mencuci, hingga sanitasi. Kehadiran pompa ini otomatis memotong rantai beban kerja domestik perempuan Desa Tado yang selama ini harus berjalan jauh memikul jeriken di bawah terik matahari pesisir Riung demi memenuhi kebutuhan air keluarga.
Selain infrastruktur air, para perempuan di desa ini juga menerima paket bantuan khusus berupa mukena dan baju ganti untuk mendukung aktivitas ibadah dan kebersihan harian mereka.

Merespons gerakan berbasis komunitas ini, Kepala LPPM UNEJ, Prof. Dr. Yuli Witono, S.TP., M.P., menegaskan dukungan penuh institusi. Menurutnya, perguruan tinggi wajib menjalankan tridarma pengabdian dengan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar yang fundamental dan sensitif gender di wilayah terdampak bencana.
Kini, air yang kembali mengalir di Desa Tado bukan sekadar pemenuh dahaga di tanah gersang, melainkan simbol harapan baru bagi seluruh warga, khususnya kaum perempuan, untuk bangkit bersama tanpa ada satu orang pun yang tertinggal.
Saya seorang pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, sekaligus sebagai koordinator divisi advokasi Pusat Studi Gender Universitas Jember dan anggota divisi kebencanaan Pusat Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas. Jember. Saat ini saya sedang mengembangkan diri sebagai bagian dari jurnalis warga.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.