Malaka, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Jalanan trans-Malaka seketika berubah menjadi lautan cahaya teologis pada Rabu malam (2/9/2026). Ribuan umat Katolik dari Stasi Weata, Paroki Santa Maria Fatima Betun, berdiri berjejer menembus kegelapan malam. Di tangan mereka, lilin-lilin kecil menyala, bergoyang ditiup angin, mengiringi kedatangan perarakan besar Patung Bunda Maria Nai Veto Malaka.
Tradisi akbar dua tahunan Keuskupan Atambua ini selalu berhasil menggetarkan hati umat. Sejak pukul 18.00 WITA, sayup-sayup lantunan doa Rosario dan lagu pujian mulai menggema, memecah kesunyian Desa Angkaes. Di barisan depan, sirene Patwal Polisi dan dentuman drum band SMA Negeri Wederok membuka jalan. Namun, magnet utamanya ada di belakang mereka: sebuah tandu kayu yang memikul Patung Bunda Surgawi, diangkat bergantian oleh pundak-pundak umat yang penuh peluh dan ketulusan.
“Ini bukan sekadar tradisi, ini kerinduan. Dua tahun kami menunggu Bunda melintasi depan rumah kami,” ungkap salah satu umat dengan mata berkaca-kaca, sembari merapikan patung Maria kecil di altar darurat depan rumahnya.
Perjalanan iman sejauh dua setengah jam itu memuncak tepat pukul 20.30 WITA saat rombongan tiba di Stasi Weata. Kelelahan fisik umat luruh seketika begitu lonceng gereja bertalu, menyambut dimulainya Perayaan Ekaristi Kudus yang dikonselebrasikan oleh empat orang imam.
Dalam keheningan khotbah, Romo Bala, Pr. mengingatkan umat untuk tidak terjebak pada euforia perayaan luar saja. Ia menegaskan bahwa kunjungan ini adalah ketukan bagi hati setiap insan untuk merawat kemanusiaan.
“Kehadiran Bunda Maria di tengah kita adalah berkat nyata. Kunjungan ini harus berbuah pada tindakan konkret kita sehari-hari,” pesan Romo Bala, Pr.
Romo Bala juga mengajak umat merefleksikan nilai-nilai universal Gereja—seperti yang belakangan ini digaungkan Paus Leo XIV dalam Ensiklik Magnifica Humanitas—bahwa di era modern yang penuh tantangan teknologi dan individualisme, menjaga martabat manusia melalui kasih dan perbuatan baik adalah panggilan iman yang paling utama.
“Buat baik itu di mana saja, kapan saja, dan untuk siapa saja. Karena kebaikan yang kita tabur akan berbuah kebaikan bagi hidup kita sendiri,” tegasnya.
Malam kian larut di Malaka, namun lilin-lilin di sepanjang jalan Weata belum padam. Beriringan dengan redupnya api lilin, ada semangat persaudaraan dan iman baru yang justru baru saja menyala di hati umat Stasi Weata.

Desa Membangun Negeri


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.