Padang, Sumatera Barat[DESA MERDEKA] – Asap tebal beraroma gurih santan dan wangi daun pisang mengepul hebat di halaman Kantor Camat Nanggalo sore itu. Di balik pekatnya asap, gelak tawa dan teriakan saling bersahutan memecah keheningan. Bukan karena ada kebakaran, melainkan karena puluhan warga sedang beradu taktik menaklukkan bara api dalam Festival Anak Nagari Nanggalo.
Untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI yang ke-81, Pemerintah Kecamatan Nanggalo bersama Karang Taruna setempat sengaja menggelar acara yang tidak biasa: Lomba Padang Gastronomi alias Lomba Malamang.
Saat “Si Senior” dan “Si Junior” Berbagi Tugas
Malamang—tradisi memasak ketan di dalam bambu berlapis daun pisang—bukanlah perkara mudah. Butuh keahlian khusus agar ketan matang sempurna tanpa membuat bambunya pecah atau gosong. Di sinilah serunya aturan lomba kali ini.
Setiap kelurahan wajib mengirimkan satu tim berisi lima orang, uniknya komposisi usia mereka harus dikombinasikan. Dua anak muda berusia di bawah 40 tahun dipasangkan dengan tiga orang sesepuh di atas 40 tahun. Kolaborasi antar-generasi ini melahirkan pemandangan yang hangat.
Para emak-emak senior bertugas sebagai “otak” di balik rasa. Mereka sibuk mengaduk beras ketan, menakar kekentalan santan, dan memastikan gulungan daun pisang masuk dengan rapi ke dalam delapan batang bambu talang yang wajib mereka masak.
Sementara itu, anak-anak muda mengambil peran sebagai “otot”. Dengan peluh yang bercucuran, mereka bertugas memotong kayu bakar, menjaga nyala api tetap stabil, dan membolak-balik bambu seberat berikilo-kilo di atas tungku yang panas.
Tiga Jam Penuh Keringat dan Tawa
Sejak peluit dimulai pukul dua siang hingga matahari mulai turun pukul lima sore, hawa panas tungku pembakaran tidak menyurutkan semangat warga. Waktu tiga jam terasa begitu cepat karena diisi dengan candaan antar-tetangga.
Bagi masyarakat Minangkabau, Malamang memang bukan sekadar urusan mengisi perut. Tradisi turun-temurun ini adalah perekat sosial. Prosesnya yang panjang dan rumit mustahil dikerjakan sendirian. Nilai kebersamaan inilah yang ingin dihidupkan kembali di tengah gempuran zaman modern.
“Sebagai generasi penerus, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif seperti Malamang ini,” ujar Camat Nanggalo di sela-sela riuhnya acara. Beliau tersenyum melihat warganya berkumpul merajut kerukunan tanpa sekat.
Sore itu, Festival Anak Nagari dengan tema “Bangkit dan Amanah” sukses ditutup dengan aroma harum lemang yang matang sempurna. Di atas segalanya, bukan piala lomba yang paling dicari, melainkan rasa kompak, rukun, dan silaturahmi yang kembali hangat sedekat kepulan asap di halaman kantor camat.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.