Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 5 Sep 2026 20:29 WIB ·

Duka Pantai Selatan: Lelah Pamong Desa Menjaga Asa


					Duka Pantai Selatan: Lelah Pamong Desa Menjaga Asa Perbesar

Kebumen, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Menatap ombak laut selatan Jawa tidak pernah sama lagi bagi Slamet (bukan nama sebenarnya), seorang perangkat desa di pesisir Kebumen. Sabtu (5/9/2026) pagi itu, secangkir kopi yang baru saja ia seduh di kantor desa terpaksa ditinggalkan begitu saja. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya: Darwaji (55), warga Dukuh Krajan, Desa Gondanglegi, yang hilang ditelan ombak di Pantai Entak tiga hari lalu, akhirnya ditemukan oleh nelayan di perairan Pantai Brecong.

Bagi sebagian besar orang, akhir dari pencarian panjang Tim SAR Gabungan ini adalah sebuah kepastian berita. Namun bagi perangkat desa seperti Slamet, penemuan jasad Darwaji adalah lonceng pembuka bagi babak maraton kerja kemanusiaan yang menguras energi, air mata, dan waktu penantian.

Saat ambulans meraung mendekati rumah duka, Slamet sudah berdiri di sana. Tugasnya hari itu bukan lagi mengetik surat atau mengurus administrasi desa di balik meja nyaman. Ia harus memeluk pundak keluarga korban yang runtuh tersedu, menenangkan warga yang berkerumun, sekaligus memastikan seluruh proses evakuasi berjalan tanpa hambatan.

Di Antara Tumpukan Berkas dan Desir Ombak yang Mengancam
Sepanjang tahun 2026, garis pantai Kebumen seolah tidak ramah. Rentetan kecelakaan laut terus berulang. Mulai dari tragedi remaja yang terseret arus di Pantai Gajah pada bulan April, hingga hilangnya pelajar di lokasi yang sama dua bulan setelahnya. Setiap kali alam meminta tumbal, setiap kali itu pula roda pemerintahan desa di pesisir dipaksa bergeser fokus.

Bagi perangkat desa, kejadian berulang ini memicu sebuah dilema nyata. Di satu sisi, ada target-target administratif desa yang harus dikejar. Namun di sisi lain, ada panggilan moral kedaruratan yang tidak bisa ditunda sekecil apa pun.

“Ketika ada warga yang hilang, kantor desa otomatis berubah menjadi posko darurat seketika,” kisah salah satu kolega perangkat desa di Kecamatan Ambal.

Selama 72 jam pencarian Darwaji, jam kerja mereka melar menjadi 24 jam penuh. Mereka harus membagi waktu antara menanti kabar di bibir pantai bersama Tim SAR, mengkoordinasikan nelayan tradisional yang ikut menyisir laut lepas, hingga memastikan logistik dapur umum swadaya bagi puluhan relawan tetap mengepul.

Bukan Sekadar Beban, Ini Tentang Menjaga Asa Warga
Secara hitungan kertas dan efisiensi birokrasi, keterlibatan intensif ini kerap dipandang sebagai beban sosial yang melelahkan. Anggaran darurat desa yang terbatas harus diputar otak agar mampu menopang operasional pencarian. Pelayanan rutin warga pun terkadang harus melambat karena para pengambil kebijakan kunci sedang bersiaga di tepi pantai.

Namun, jika Anda bertanya kepada mereka apakah kelelahan itu sepadan, jawabannya melampaui angka-angka statistik anggaran.

Bagi perangkat desa, kehadiran mereka di bibir pantai di samping keluarga yang sedang cemas bukan sekadar menggugurkan kewajiban regulasi perlindungan masyarakat. Ini adalah tentang trust—sebuah modal sosial tak kasatmata. Saat negara hadir melalui wajah pamong desa yang ikut bersimbah peluh dan berurai air mata di masa krisis, di situlah ikatan batin antarmasyarakat desa diperkuat.

Lebih dari itu, kerja keras ini adalah investasi untuk mencegah dampak berantai yang lebih perih. Korban seperti Darwaji sering kali adalah tiang penyangga ekonomi keluarga.

Kelelahan perangkat desa dalam mendampingi keluarga, mengurus percepatan administrasi kematian, hingga menjembatani pengurusan santunan ketenagakerjaan atau kartu nelayan, adalah benteng terakhir agar keluarga yang ditinggalkan tidak jatuh ke jurang kemiskinan ekstrem.

Mengubah Lelah Menjadi Langkah Nyata
Sabtu siang itu, setelah debriefing Tim SAR Gabungan ditutup pada pukul 10.00 WIB dan personel dikembalikan ke satuan masing-masing, Slamet kembali ke kantor desa dengan langkah gontai. Pakaian dinasnya yang sempat terkena cipratan air garam dan pasir pantai masih melekat. Tumpukan berkas dokumen pelayanan warga sudah menantinya di meja.

Kelelahan fisik itu nyata, namun kepastian bahwa salah satu warganya telah kembali pulang ke rumah—meski dalam kondisi tak bernyawa—memberikan kelegaan tersendiri.

Bagi Slamet dan ratusan perangkat desa di sepanjang pesisir Kebumen, rentetan laka laut sepanjang tahun ini tidak boleh menguap menjadi sekadar catatan angka dan air mata belaka. Kelelahan berhari-hari di bibir pantai harus diubah menjadi energi baru di ruang rapat desa: mengetuk palu untuk memperketat Peraturan Desa tentang zona larangan wisata liar, mengalokasikan sisa APBDes untuk pengadaan alat keselamatan nelayan, dan memperbanyak papan peringatan arus seret (rip current).

Karena bagi mereka, menjaga keselamatan warga adalah tugas yang tidak akan pernah pensiun, bahkan saat ombak selatan sedang ganas-ganasnya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lautan Cahaya Lilin Sambut Bunda Maria di Malaka

2 September 2026 - 22:47 WIB

Bukan Sekadar Sertifikat: Denyut Budaya Sumbar Ada di Tangan Masyarakat

29 Agustus 2026 - 16:46 WIB

Jangan Tangkap Ikan Kecil, Bongkar Bandar Togel Papua!

29 Agustus 2026 - 10:31 WIB

Saat Legenda Prambanan Pindah ke Jalanan Subah Batang

22 Agustus 2026 - 20:36 WIB

Gotong Royong Warga Malaka Kirim Bantuan Gempa Flores

17 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Tim Evaluator UNESCO Tiba di Sumbar, Geopark Ranah Minang Silokek Jalani Validasi

17 Agustus 2026 - 09:26 WIB

Trending di SOSBUD