Semarang [DESA MERDEKA] – Di tengah hiruk pikuk modernisasi, sebuah nama menggema dari pelosok Kabupaten Semarang: Pasar Gerabah Mbetet. Terletak di Desa Lopait, Kecamatan Tuntang, pasar tradisional ini bukan sekadar pusat transaksi jual beli, melainkan cerminan peradaban lokal yang kaya dan tak lekang oleh waktu. Nama “Mbetet” sendiri diambil dari sungai kecil yang konon tak pernah kering di bagian bawah lokasi pasar, menyimbolkan harapan akan kelestarian dan keberlanjutan hidup masyarakat sekitar.
Kekayaan produk yang ditawarkan Pasar Mbetet tak hanya terbatas pada peralatan rumah tangga, khususnya dapur, berbahan tanah liat. Tungku, teko set, nampan, kuwali, wajan, loyang, hingga celengan menjadi ikon produk utama yang mencerminkan keterampilan tangan pengrajin lokal. Seiring waktu, adaptasi pun terjadi. Kini, produk dari aluminium dan tembaga, bahkan perabot berbahan kayu dan batu seperti cobek, alu, dan lesung, turut meramaikan lapak-lapak di sini. Uniknya, menurut penuturan Mba Emi, salah satu warga sekaligus pedagang, sejak tahun 2000, Pasar Mbetet juga menjadi sentra penjualan aneka bunga imitasi dari plastik dan kayu, memperluas jangkauannya sebagai pusat kerajinan rumah tangga dan dekorasi yang kini dikenal hingga ke luar Semarang.

Namun, dinamika perkembangan wilayah tak selalu sejalan dengan tradisi. Dulu, Pasar Mbetet membentang luas hingga Desa Kesongo, di jalur strategis Jalan Raya Semarang–Solo. Kini, wajahnya telah berubah. Klaster perumahan elit “Panorama”, pom bensin Lopait, dan Saloka Theme Park menjadi tetangga baru. Pembangunan jalan tol Semarang–Solo pada 2016 juga turut memengaruhi, membuat aliran pengunjung ke pasar kian tersendat. Omzet jutaan rupiah di akhir pekan kini hanya tinggal kenangan.
Meskipun demikian, potensi Pasar Mbetet belum padam. Ia hanya butuh sentuhan revitalisasi dan strategi adaptasi di era digital ini. Kolaborasi antara pemerintah setempat, pegiat media sosial, dan lembaga seperti Koperasi Merah Putih sangat dibutuhkan. Koperasi dapat menjadi jembatan bagi para pelaku UMKM lokal untuk mengakses pasar yang lebih luas. Mba Mami, seorang pedagang yang telah berjualan sejak 2007, mengungkapkan harapannya agar pemerintah dapat mempromosikan Pasar Mbetet melalui kegiatan atau kunjungan. “Kami ingin tamu-tamu diajak mampir, setidaknya untuk mengenal produk kami. Nanti, suatu waktu pasti mereka akan kembali,” ujarnya penuh harap.

Lebih dari sekadar tempat berdagang, Pasar Gerabah Mbetet adalah warisan budaya dan penggerak ekonomi kerakyatan. Dengan dukungan nyata dan upaya digitalisasi promosi, pasar ini berpotensi kembali berjaya sebagai ikon perdagangan dan pariwisata di Kabupaten Semarang yang membanggakan. Mari bersama-sama dukung kelestarian Pasar Mbetet, agar denyut peradaban gerabah ini terus berdenyut.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.