Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 13 Jul 2025 21:04 WIB ·

Ngerumat Tetenger Prasung: Melestarikan Budaya Suro di Sidoarjo


					Ngerumat Tetenger Prasung: Melestarikan Budaya Suro di Sidoarjo Perbesar

Sidoarjo, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa, warga Desa Prasung, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, antusias menggelar tradisi tahunan Ngerumat Tetenger. Ritual ini menjadi wujud nyata penghormatan terhadap leluhur sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya dan spiritual Jawa yang mengakar kuat di tengah masyarakat.

Prosesi sakral ini meliputi arak-arakan tumpeng, pembersihan makam, penggantian kain kafan pembungkus batu nisan, hingga doa dan tahlil bersama. Seluruh rangkaian kegiatan ini dilaksanakan di empat areal makam di Desa Prasung, termasuk makam sesepuh sekaligus leluhur desa, Mbah Sholeh.

“Ngerumat Tetenger adalah tradisi membersihkan dan merawat makam para leluhur, termasuk mengganti kain pembungkus batu nisan milik leluhur Desa Prasung Mbah Sholeh, serta menyuguhkan tumpeng dan gunungan,” terang Bahrul Amig, tokoh masyarakat Desa Prasung, Minggu (13/07/2025).

Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan biasa. Ia telah menjelma menjadi ruang kolektif untuk membangun kesadaran sejarah dan memperkuat jati diri warga Desa Prasung. Dari Balai Desa Prasung, prosesi diawali dengan seremoni penyerahan kain kafan, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan tumpeng menuju makam-makam yang menjadi titik penghormatan.

Bahrul Amig menambahkan, “Tradisi ini punya dimensi budaya dan spiritual. Budaya, karena kita ini berasal dari cikal bakal atau masyarakat endogenus yang harus menjaga akar. Spiritual, karena manusia harus sadar bahwa hidupnya ada batas, dan kita wajib menghormati yang telah mendahului.”

Kegiatan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat Desa Prasung, mulai dari warga, tokoh adat, pemerintah desa, hingga Camat Buduran. Mereka semua turut serta dalam pembersihan makam secara gotong royong, penggantian kain kafan batu nisan, serta pembacaan tahlil dan doa bersama di setiap titik makam. Tumpeng dan gunungan yang disediakan menjadi simbol rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur.

Tradisi Ngerumat Tetenger ini menjadi sarana ampuh untuk membangkitkan semangat ziarah, memperkuat nilai gotong royong, dan menjaga kesinambungan hubungan antargenerasi. Bahrul Amig menegaskan, Ngerumat Tetenger kini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. “Tradisi ini bukan lagi hanya program desa, tetapi telah menjadi hajat hidup bersama masyarakat Prasung,” tegasnya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 125 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Duka Pantai Selatan: Lelah Pamong Desa Menjaga Asa

5 September 2026 - 20:29 WIB

Lautan Cahaya Lilin Sambut Bunda Maria di Malaka

2 September 2026 - 22:47 WIB

Bukan Sekadar Sertifikat: Denyut Budaya Sumbar Ada di Tangan Masyarakat

29 Agustus 2026 - 16:46 WIB

Jangan Tangkap Ikan Kecil, Bongkar Bandar Togel Papua!

29 Agustus 2026 - 10:31 WIB

Saat Legenda Prambanan Pindah ke Jalanan Subah Batang

22 Agustus 2026 - 20:36 WIB

Gotong Royong Warga Malaka Kirim Bantuan Gempa Flores

17 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Trending di SOSBUD