Jombang, Jawa Timur [Desa Merdeka] – Senja yang baru saja turun di Alun-Alun Jombang, seharusnya menjadi panggung tawa bagi anak-anak. Udara mulai teduh, waktu yang biasanya paling dinanti anak-anak untuk berlari, memanjat, dan meluncur di perosotan taman bermain. Namun, pada Kamis (7/3/2026) pukul 18.30 WIB, “jam emas” rekreasi keluarga ini justru berubah menjadi pemandangan yang suram. Area playground yang menjadi magnet utama warga tampak gelap gulita, lampunya padam, dan pintu aksesnya digembok rapat tepat saat kerumunan pengunjung mulai memadati ruang publik.
Kebijakan operasional ini terasa kontradiktif. Di saat cuaca mulai teduh dan masyarakat mencari ruang terbuka untuk melepas penat, fasilitas yang dibangun dengan pajak rakyat ini justru mengunci diri. Anak-anak hanya bisa berdiri di balik pagar, menatap perosotan yang sunyi dari kejauhan.
Kecewa Usai Tempuh Jarak Jauh
Budi (nama samaran), warga Mojoagung, tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Ia sengaja menempuh perjalanan 14,3 Km, hanya demi memenuhi janji kepada sang buah hati yang ingin bermain perosotan.
“Saya jauh-jauh dari Mojoagung demi menuruti anak. Pas sampai sini kok malah ditutup dan lampunya padam,” ujarnya getir.
Senada dengan Budi, Siti, pengunjung asal Ploso (15-20 Km dari alun-alun Jombang), juga merasa kecolongan. Ia berharap bisa mengajak anak-anaknya menghabiskan waktu sambil menunggu berbuka puasa di tengah masa libur sekolah. Minimnya sosialisasi mengenai jam operasional membuat banyak orang tua harus pulang dengan tangan hampa dan tangis anak yang tak berhenti.
Gugatan Terhadap Konsep Kota Ramah Anak
Penutupan fasilitas pada jam sibuk ini memicu pertanyaan besar: Sejauh mana Alun-Alun Jombang benar-benar menjadi ruang publik yang inklusif? Ruang bermain bukan sekadar pelengkap estetika kota, melainkan instrumen penting bagi pertumbuhan fisik dan interaksi sosial anak-anak.
Menutup akses di sore hingga malam hari seolah “mengusir” hak bermain anak di saat mereka paling membutuhkannya. Kebijakan ini dinilai berlawanan dengan semangat Kota Ramah Anak (KLA) yang sering digaungkan pemerintah daerah. Hingga saat ini, pihak pengelola belum memberikan penjelasan resmi mengapa fasilitas tersebut harus “mati suri” di waktu yang paling diminati masyarakat.
Di depan pagar yang terkunci itu, sebuah potret miris tertinggal: anak-anak kecil yang masih setia menatap ke dalam, berharap pintu besi itu terbuka dan lampu-lampu kembali menyala untuk mereka.

















[…] Alun-Alun Jombang, yang seharusnya menjadi jantung sosial yang inklusif, kini berubah wajah menjadi ruang yang “dingin” selama Ramadan. Kebijakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang yang menutup wahana […]