Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] –Singosari bukan sekadar nama dalam lembaran sejarah atau deretan candi yang membisu. Di bawah bayang-bayang kejayaan Tumapel dan Kerajaan Singhasari, denyut kebudayaan terus hidup meski pernah nyaris tenggelam. Denyut itu bernama Batik Tulis Asli Singosari.
Perjalanan membangkitkan kembali warisan leluhur ini bukan sekadar cerita tentang kain dan canting. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi kisah keteguhan, gotong royong, dan kecintaan masyarakat terhadap identitas budayanya sendiri.
Dari Lilin Sunyi di Jalan Anusapati
Jika menoleh ke periode 2020–2022, masyarakat Singosari tentu masih mengingat sebuah rumah sederhana di Jalan Anusapati, Kelurahan Candirenggo. Dari tempat itulah semangat kebangkitan Batik Singosari mulai tumbuh.
Di kediaman Ibu Titin, penggerak Paguyuban Batik Nareswari, sejumlah pegiat budaya berkumpul untuk memperingati Hari Batik Nasional secara sederhana.
“Hari Batik Nasional pertama kali kami rayakan hanya dengan tiup lilin dan dihadiri segelintir orang,” kenang Ibu Hendra, maestro Batik Singosari.
Suasananya memang sunyi. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir tekad besar. Paguyuban Batik Singosari memilih bertahan dan terus bergerak meskipun perhatian publik saat itu masih sangat terbatas.
Tahun 2022: Rum Kuncaraning Batik Singosari
Selanjutnya, semangat yang tumbuh di Candirenggo menemukan mitra perjuangan yang sejalan, yakni Forum Handharbeni Singhasari. Kolaborasi ini lahir secara alami dari masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya dan penguatan kewenangan lokal.
Pada tahun 2022, halaman rumah Ibu Titin berubah menjadi ruang belajar budaya bagi generasi muda. Anak-anak muda dari 14 desa dan 3 kelurahan di Kecamatan Singosari hadir untuk belajar membatik secara langsung.
Tangan-tangan yang sehari-hari akrab dengan gawai mulai memegang canting. Di bawah bimbingan para maestro, mereka belajar menorehkan malam sekaligus merawat warisan leluhur agar tidak terputus oleh zaman.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Rum Kuncaraning Batik Singosari” yang bermakna harumnya nama dan kejayaan Batik Singosari yang memancar ke semesta.
Sejak saat itu, aroma malam yang dipanaskan tidak lagi identik dengan perjuangan yang sunyi. Sebaliknya, aroma tersebut menjadi simbol lahirnya optimisme baru bagi Batik Singosari.
Festival Batik Singosari Menarik Perhatian Nasional
Memasuki tahun 2023, geliat Batik Singosari semakin kuat. Para pengrajin, pelaku UMKM, pendidik, budayawan, dan masyarakat bergandengan tangan menyelenggarakan Festival Batik Singosari pada 1–2 Oktober 2023 di halaman Eks-Kawedanan Singosari.
Festival tersebut menampilkan karya-karya terbaik para perajin sekaligus menunjukkan bahwa produk lokal mampu hadir dengan kualitas dan estetika yang membanggakan.
Lebih jauh lagi, gaung festival ini berhasil menarik perhatian tokoh-tokoh nasional. Melalui sambungan virtual, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno memberikan apresiasi atas perkembangan Batik Singosari.
Mereka menilai Batik Singosari tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berpotensi menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Singhasari Bangkit di Kebon Winih
Momentum kebangkitan semakin kuat pada peringatan Hari Batik Nasional 2–6 Oktober 2024. Kali ini, masyarakat menggelar festival di Kebon Winih dan Kebon Opah, Desa Randuagung, dengan mengusung tema “Singhasari Bangkit”.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, festival ini menyatu dengan lanskap alam pedesaan. Pengunjung tidak hanya menikmati karya batik, tetapi juga merasakan keterhubungan antara budaya, alam, dan kehidupan masyarakat.
Selain itu, seluruh kepala desa dan lurah se-Kecamatan Singosari, Camat Singosari, kepala perangkat daerah, Wakil Bupati Malang, hingga Bupati Malang hadir secara langsung untuk memberikan dukungan.
Sementara itu, apresiasi juga mengalir dari berbagai tokoh nasional melalui media daring. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno kembali menyampaikan penghargaan atas konsistensi masyarakat dalam menjaga warisan budaya bangsa.
Kebangkitan dari Akar Rumput
Apa yang dilakukan Paguyuban Batik Singosari bersama Forum Handharbeni Singhasari (FONDASI) merupakan contoh nyata pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Mereka tidak menunggu perubahan datang dari luar. Sebaliknya, mereka menciptakan perubahan melalui kerja bersama, kesabaran, dan kecintaan terhadap budaya sendiri.
Melalui motif-motif yang terinspirasi dari relief candi, kekayaan alam, dan nilai-nilai kearifan leluhur, Batik Singosari berhasil memperkuat identitas budaya sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dari Sebatang Lilin Menuju Pengakuan Nasional
Perjalanan Batik Singosari membuktikan bahwa kebangkitan besar sering kali berawal dari langkah kecil. Sebatang lilin yang dahulu menyala di sudut Candirenggo kini telah menjelma menjadi cahaya yang menerangi panggung budaya yang lebih luas.
Hari ini, Batik Singosari tidak lagi berbicara dalam kesunyian. Goresan cantingnya telah mewarnai peta budaya Nusantara dan membawa nama Singhasari ke tingkat nasional bahkan mancanegara.
Perjalanan itu memang belum selesai. Namun satu hal telah menjadi kenyataan: harum kejayaan Batik Singosari kini benar-benar memancar, mengangkasa, dan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Singosari.
Karena itu, kebangkitan Batik Singosari sesungguhnya bukan hanya tentang melestarikan warisan budaya. Kebangkitan ini adalah simbol persatuan, gotong royong, dan keyakinan bahwa masyarakat yang menjaga akar budayanya akan selalu mampu melangkah maju menuju masa depan yang lebih bermartabat.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah praktisi usaha dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang berdomisili di Singosari, Kabupaten Malang. Saat ini menjabat sebagai CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari. Selain aktif di bidang kewirausahaan, ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Forum Handarbeni Singhasari (Fondasi), Pembina Paguyuban Batik Singosari, Pembina Paguyuban Batik Lawang, serta anggota Tim Percepatan Pembangunan Kecamatan (TPP) Singosari.
Memiliki pengalaman di bidang jurnalistik sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang,memiliki perhatian besar terhadap pengembangan ekonomi lokal, pelestarian budaya, UMKM, dan pembangunan berbasis potensi masyarakat. Melalui berbagai kegiatan dan tulisan, ia berupaya mendorong kemandirian ekonomi, penguatan kelembagaan masyarakat, serta pelestarian warisan budaya lokal untuk mendukung kemajuan desa dan daerah.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.