Agam, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Tanah Manggopoh di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menyimpan napas perlawanan yang tak pernah padam. Senin (15/6/2026), di Lapangan GOR Buya Hamka, ribuan pasang mata menatap khidmat peringatan 117 tahun Perang Manggopoh. Bagi masyarakat desa di Agam, ini bukan sekadar upacara rutin, melainkan pengingat bahwa martabat bangsa lahir dari keberanian rakyat kecil yang menolak ketidakadilan pajak (belasting) di masa kolonial tahun 1908.
Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, menegaskan bahwa semangat kepahlawanan Mandeh Siti Manggopoh harus menjadi bahan bakar bagi generasi Z dan Alpha di desa untuk menghadapi tantangan zaman. “Perjuangan pahlawan adalah sumber inspirasi untuk membangun daerah. Semangat ini harus hidup dalam diri generasi hari ini,” ujarnya saat menjadi inspektur upacara. Di era pembangunan desa saat ini, semangat tersebut ditransformasikan ke dalam keberanian untuk berinovasi dan membangun kemandirian ekonomi dari tingkat nagari atau desa.
Kabupaten Agam, dengan letak geografisnya yang strategis, memiliki potensi besar untuk mengubah narasi sejarah ini menjadi kekuatan pariwisata berbasis edukasi. Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, menyoroti bahwa peristiwa Manggopoh bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bukti nyata bahwa rakyat desa mampu menentukan nasibnya sendiri. Keberanian masyarakat menolak pemaksaan kebijakan penjajah di masa lalu kini relevan dengan semangat musyawarah desa yang egaliter dan inklusif.
Bagi generasi muda, memelajari sejarah Perang Manggopoh adalah kunci agar tidak tercerabut dari akarnya. Desa Manggopoh dan wilayah sekitarnya di Agam memiliki peluang besar untuk mengembangkan paket wisata sejarah yang memadukan keindahan alam dengan nilai heroisme. Dengan menggali potensi sejarah sebagai aset desa, pembangunan tidak lagi hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan nilai-nilai luhur. Semangat Mandeh Siti Manggopoh kini menjadi simbol perjuangan baru: perjuangan memerangi keterbelakangan dan membangun desa yang berdaya, maju, dan bermartabat di tanah Minangkabau.
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.