Sumberporong, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Di kaki Gunung Arjuna, Desa Sumberporong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, sebuah transformasi kreatif sedang berlangsung. Suara tetesan malam di atas kain mori kini tidak lagi sekadar mengisi waktu setelah warga pulang dari sawah.
Melalui kolaborasi strategis dengan PT Baruna, BUMD Provinsi Jawa Timur, para pengrajin mengembangkan usaha batik secara lebih profesional. Mereka mengubah teras rumah menjadi sentra produksi yang siap menembus pasar yang lebih luas.

Perpaduan Tradisi dan Identitas Lokal
Karya unggulan desa ini bernama Batik Sumberparang. Jika motif parang klasik melambangkan perjuangan, maka Sumberparang memadukan semangat kerja keras masyarakat Malang dengan kekayaan alam desa.
Karena itu, setiap motif tidak hanya memiliki nilai estetika. Lebih dari itu, setiap goresan juga menyimpan cerita tentang identitas, budaya, dan harapan masyarakat setempat.
“Setiap goresan ini rasanya seperti sedang melukis masa depan anak-anak kami,” ungkap Bu Indri (52), salah satu pengrajin yang terus menjaga warisan budaya tersebut.
Selain melestarikan tradisi, para pengrajin juga terus berinovasi. Dengan demikian, batik desa tetap diminati dan mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Regenerasi Menjadi Kunci Keberhasilan
Menariknya, Batik Sumberparang menjadi bukti keberhasilan regenerasi di tingkat desa. Generasi senior tetap memegang peran utama dalam proses membatik.
Sementara itu, para pemuda mengambil bagian dalam pengembangan desain modern serta pemasaran digital. Dengan pembagian peran tersebut, identitas batik tetap terjaga. Di sisi lain, produk yang dihasilkan mampu mengikuti perkembangan zaman dan selera pasar.
Berkat sinergi antargenerasi tersebut, Batik Sumberparang kini memasuki babak baru. Bahkan, produk unggulan desa ini tengah dipersiapkan untuk dikukuhkan sebagai motif kebanggaan Provinsi Jawa Timur pada Agustus mendatang.
Mendorong Kemandirian Ekonomi Desa
Perjalanan dari lingkup RT dan RW menuju panggung provinsi membawa dampak ekonomi yang nyata. Kini, Batik Sumberparang tidak hanya menjadi produk sandang, tetapi juga simbol kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Selain itu, dukungan perizinan, pembinaan usaha, dan akses permodalan membuka peluang yang lebih besar bagi para pengrajin. Berkat dukungan tersebut, mereka mampu menghasilkan karya bernilai tinggi yang siap bersaing di pasar regional maupun nasional.
Lebih jauh lagi, Batik Sumberparang diproyeksikan menjadi salah satu motif khas yang merepresentasikan identitas Jawa Timur.

Optimisme dari Lereng Gunung Arjuna
Pada akhirnya, kisah Batik Sumberparang membuktikan bahwa potensi desa dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi sekaligus budaya. Kuncinya terletak pada kolaborasi, inovasi, dan semangat menjaga warisan leluhur.
Oleh karena itu, dari lereng Gunung Arjuna, mata air kreativitas Desa Sumberporong terus mengalir. Kreativitas tersebut tidak hanya membawa optimisme baru bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat posisi desa sebagai pusat ekonomi kreatif yang terus berkembang.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.Jurnalis
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.