Meta Description: Forum Handarbeni Singosari (Fondasi) berdayakan ekonomi desa melalui sinergi kearifan lokal dan kemandirian UMKM masyarakat.
Keyword: Forum Handarbeni Singosari, Fondasi, ekonomi desa, pemberdayaan UMKM, Singosari
Frasa Kunci Utama: Forum Handarbeni Singosari
Ada getaran yang berbeda ketika Anda melintasi batas wilayah Singosari hari ini. Ia bukan lagi sekadar kecamatan yang riuh oleh padatnya jalur lintas Surabaya-Malang, melainkan sebuah rahim kebudayaan yang sedang menggeliat bangun dari tidur panjangnya. Di teras-teras rumah semenjana, di sela-sela petak sawah yang menghijau, hingga ke ruang-ruang kreatif anak muda, ada satu narasi besar yang sedang ditenun bersama: Singhasari harus bangkit.
Semangat penjemputan kejayaan itu kini menemukan rumah formalnya. Melalui *Forum Handarbeni Singhasari, atau yang akrab disingkat **Fondasi*, masyarakat di eks-wilayah kedaton ini resmi merapatkan barisan. Mengantongi legalitas formal Kemenkumham (AHU-0005385.AH.01.07.Tahun 2020), wadah ini hadir bukan untuk gagah-gagahan di atas kertas, melainkan menjadi jembatan hidup bagi bertemunya para penjaga kultur, pegiat desa, budayawan, hingga pelaku UMKM akar rumput.
“Kita tidak sedang romantisasi masa lalu,” bisik salah seorang penggerak lokal saat ditemui di sela-sela rembuk desa. “Kita sedang mengambil api dari obor Kerajaan Singosari zaman dulu untuk menerangi jalan masa depan anak-cucu kita. Dan jalan itu dimulai dari pinggiran, dari desa-desa kita sendiri.”

Sinergi Tanpa Ada yang Tertinggal
Bergerak dengan napas Pancasila dan UUD 1945, Fondasi memahami betul bahwa kedaulatan sebuah bangsa diuji dari ketahanan desanya. Di sinilah letak keunikan pergerakan ini. Mereka tidak berjalan dengan instruksi kaku dari atas, melainkan merangkul watak asli masyarakat Jawa kuno: gotong royong dan handarbeni (merasa saling memiliki).
Tengok saja bagaimana saban sore, diskusi-diskusi hangat mengalir di balai desa. Para budayawan yang paham lekuk sejarah bersanding dengan para pemuda desa yang fasih teknologi digital. Di sudut lain, para ibu pelaku UMKM—mulai dari pengrajin batik khas lereng gunung hingga pembuat jajanan tradisional—mendapatkan pendampingan nyata, mulai dari kurasi produk hingga akses pasar yang berdaulat.
Langkah ini sejalan dengan visi besar pembangunan nasional: membangun Indonesia dari pinggiran. Dengan prinsip no one left behind (tidak ada satu pun yang ditinggalkan), Fondasi memosisikan desa bukan sebagai objek pembangunan yang pasif, melainkan subjek utama. Dari Desa Tunjungtirto, Purwoasri, Randuagung hingga ke pelosok-pelosok desa se-Singosari, potensi lokal dipetakan, disiram dengan permodalan, dan dilindungi legalitasnya agar mampu mandiri secara ekonomi.
Menuju Singosari yang Berdaulat, Adil, dan Makmur
Membangun Singosari hari ini adalah soal bagaimana mempertemukan spiritualitas masa lalu dengan ketangguhan ekonomi masa kini. Fondasi bertindak sebagai dirigen yang menyatukan simfoni tersebut. Sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah terus diperkuat, memastikan bahwa program jaring pengaman ekonomi benar-benar menyentuh tangan-tangan yang tepat—para buruh gendong, petani paruh waktu, dan pengrajin yang setia menjaga warisan leluhur.
Ini adalah sebuah titik balik. Ketika modernisasi mendesak batas-batas desa, masyarakat Singosari memilih untuk tidak larut dan hilang arah. Melalui Fondasi, mereka justru berdiri tegak, memakai kain tradisinya, mengasah canting dan paculnya, lalu melangkah bersama menuju tatanan masyarakat yang adil dan makmur.
Dari tanah petilasan para raja, mata air kearifan itu kini kembali memancar. Bukan dengan hunjaman keris atau deru perang, melainkan melalui pemberdayaan, kemandirian ekonomi, dan persatuan kultur desa yang tak tertandingi. Singosari tidak sedang bermimpi untuk bangkit; mereka sedang berjalan mewujudkannya.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah praktisi usaha dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang berdomisili di Singosari, Kabupaten Malang. Saat ini menjabat sebagai CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari. Selain aktif di bidang kewirausahaan, ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Forum Handarbeni Singhasari (Fondasi), Pembina Paguyuban Batik Singosari, Pembina Paguyuban Batik Lawang, serta anggota Tim Percepatan Pembangunan Kecamatan (TPP) Singosari.
Memiliki pengalaman di bidang jurnalistik sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang,memiliki perhatian besar terhadap pengembangan ekonomi lokal, pelestarian budaya, UMKM, dan pembangunan berbasis potensi masyarakat. Melalui berbagai kegiatan dan tulisan, ia berupaya mendorong kemandirian ekonomi, penguatan kelembagaan masyarakat, serta pelestarian warisan budaya lokal untuk mendukung kemajuan desa dan daerah.
















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.