Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

SOSBUD · 12 Jun 2026 21:51 WIB ·

Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Budaya di Singosari


					Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Budaya di Singosari Perbesar

Meta Description: Forum Handarbeni Singosari (Fondasi) berdayakan ekonomi desa melalui sinergi kearifan lokal dan kemandirian UMKM masyarakat.
Keyword: Forum Handarbeni Singosari, Fondasi, ekonomi desa, pemberdayaan UMKM, Singosari
Frasa Kunci Utama: Forum Handarbeni Singosari

Ada getaran yang berbeda ketika Anda melintasi batas wilayah Singosari hari ini. Ia bukan lagi sekadar kecamatan yang riuh oleh padatnya jalur lintas Surabaya-Malang, melainkan sebuah rahim kebudayaan yang sedang menggeliat bangun dari tidur panjangnya. Di teras-teras rumah semenjana, di sela-sela petak sawah yang menghijau, hingga ke ruang-ruang kreatif anak muda, ada satu narasi besar yang sedang ditenun bersama: Singhasari harus bangkit.
Semangat penjemputan kejayaan itu kini menemukan rumah formalnya. Melalui *Forum Handarbeni Singhasari, atau yang akrab disingkat **Fondasi*, masyarakat di eks-wilayah kedaton ini resmi merapatkan barisan. Mengantongi legalitas formal Kemenkumham (AHU-0005385.AH.01.07.Tahun 2020), wadah ini hadir bukan untuk gagah-gagahan di atas kertas, melainkan menjadi jembatan hidup bagi bertemunya para penjaga kultur, pegiat desa, budayawan, hingga pelaku UMKM akar rumput.
“Kita tidak sedang romantisasi masa lalu,” bisik salah seorang penggerak lokal saat ditemui di sela-sela rembuk desa. “Kita sedang mengambil api dari obor Kerajaan Singosari zaman dulu untuk menerangi jalan masa depan anak-cucu kita. Dan jalan itu dimulai dari pinggiran, dari desa-desa kita sendiri.”

Merajut Kultur, Menghidupkan Dapur:Singhasari harus bangkit.

Sinergi Tanpa Ada yang Tertinggal
Bergerak dengan napas Pancasila dan UUD 1945, Fondasi memahami betul bahwa kedaulatan sebuah bangsa diuji dari ketahanan desanya. Di sinilah letak keunikan pergerakan ini. Mereka tidak berjalan dengan instruksi kaku dari atas, melainkan merangkul watak asli masyarakat Jawa kuno: gotong royong dan handarbeni (merasa saling memiliki).
Tengok saja bagaimana saban sore, diskusi-diskusi hangat mengalir di balai desa. Para budayawan yang paham lekuk sejarah bersanding dengan para pemuda desa yang fasih teknologi digital. Di sudut lain, para ibu pelaku UMKM—mulai dari pengrajin batik khas lereng gunung hingga pembuat jajanan tradisional—mendapatkan pendampingan nyata, mulai dari kurasi produk hingga akses pasar yang berdaulat.
Langkah ini sejalan dengan visi besar pembangunan nasional: membangun Indonesia dari pinggiran. Dengan prinsip no one left behind (tidak ada satu pun yang ditinggalkan), Fondasi memosisikan desa bukan sebagai objek pembangunan yang pasif, melainkan subjek utama. Dari Desa Tunjungtirto, Purwoasri, Randuagung hingga ke pelosok-pelosok desa se-Singosari, potensi lokal dipetakan, disiram dengan permodalan, dan dilindungi legalitasnya agar mampu mandiri secara ekonomi.
Menuju Singosari yang Berdaulat, Adil, dan Makmur
Membangun Singosari hari ini adalah soal bagaimana mempertemukan spiritualitas masa lalu dengan ketangguhan ekonomi masa kini. Fondasi bertindak sebagai dirigen yang menyatukan simfoni tersebut. Sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah terus diperkuat, memastikan bahwa program jaring pengaman ekonomi benar-benar menyentuh tangan-tangan yang tepat—para buruh gendong, petani paruh waktu, dan pengrajin yang setia menjaga warisan leluhur.
Ini adalah sebuah titik balik. Ketika modernisasi mendesak batas-batas desa, masyarakat Singosari memilih untuk tidak larut dan hilang arah. Melalui Fondasi, mereka justru berdiri tegak, memakai kain tradisinya, mengasah canting dan paculnya, lalu melangkah bersama menuju tatanan masyarakat yang adil dan makmur.
Dari tanah petilasan para raja, mata air kearifan itu kini kembali memancar. Bukan dengan hunjaman keris atau deru perang, melainkan melalui pemberdayaan, kemandirian ekonomi, dan persatuan kultur desa yang tak tertandingi. Singosari tidak sedang bermimpi untuk bangkit; mereka sedang berjalan mewujudkannya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Khatam Al-Qur’an: Benteng Generasi Muda Nanggalo

1 Juni 2026 - 16:15 WIB

Lawan Dampak Handphone dengan Filosofi Adat Minangkabau

29 Mei 2026 - 19:51 WIB

Menggali Peradaban Kuno di Negeri Seribu Menhir Maek

29 Mei 2026 - 10:32 WIB

Sapi Kurban Presiden Prabowo Dongkrak Gengsi Peternak Merangin

27 Mei 2026 - 13:30 WIB

Desa Terdampak Bencana Jadi Fokus Tebar Qurban Pemprov Sumbar

26 Mei 2026 - 20:22 WIB

Sinergi Pemuda Sumbar Jadi Benteng Persatuan Desa

23 Mei 2026 - 10:48 WIB

Trending di SOSBUD