Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

SOSBUD · 14 Jun 2026 08:22 WIB ·

Prasasti Kuno Buktikan Akar Sejarah Literasi Desa Nusantara


					Prasasti Kuno Buktikan Akar Sejarah Literasi Desa Nusantara Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Pandangan bahwa desa hanyalah wilayah pelengkap di pinggiran kekuasaan seketika runtuh di hadapan sebongkah batu andesit bertuliskan huruf Pallawa. Jauh sebelum jurnalisme modern lahir atau kitab Desawarnana digubah pada era Majapahit, para leluhur kita telah menempatkan desa sebagai pusat sirkulasi informasi dan dokumentasi kebijakan. Akar sejarah literasi desa nusantara nyatanya telah mendarah daging sejak abad ke-4 Masehi, menegaskan bahwa merekam dinamika komunitas lokal di tingkat tapak adalah DNA asli peradaban kita, bukan sekadar tren komunikasi baru.

Pondasi paling awal dari tradisi penulisan ini terpahat nyata pada tugu-tugu batu di timur Nusantara, tepatnya di Kerajaan Kutai, Kalimantan Timur sekitar tahun 400 Masehi. Tujuh buah Prasasti Yupa yang ditulis menggunakan bahasa Sansekerta secara mengejutkan tidak mengagungkan pertumpahan darah atau ekspansi militer yang masif. Dokumen tertua Indonesia tersebut justru mencatat aktivitas komunal di tingkat lokal, seperti kedermawanan Raja Mulawarman yang mengadakan selamatan massal (sattka) yang melimpah bagi para Brahmana, serta mengabadikan nama geografis Sungai Mahakam yang mengalir menghidupi sendi-sendi peradaban masyarakat setempat.

Bergeser ke barat pada abad ke-5 Masehi, Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat meninggalkan Prasasti Tugu yang isinya sangat pragmatis dan berorientasi pada kemaslahatan publik. Maharaja Purnawarman mendokumentasikan proyek besar penggalian Sungai Gomati dan Candrabhaga sepanjang 6.122 tombak atau berkisar 11 kilometer. Prasasti ini menjadi bukti otentik mengenai pengelolaan infrastruktur rakyat yang bertujuan mengatasi bencana banjir sekaligus menyokong sektor pertanian di desa-desa sekitar, membuktikan bahwa komunikasi yang berpusat pada kepentingan rakyat jelata telah berjalan ribuan tahun lalu.

“Catatan dalam prasasti kuno membuktikan otonomi dan kedaulatan ekonomi tingkat desa telah diakui secara hukum oleh otoritas kerajaan sejak masa pra-Majapahit.”

Puncak sistematisasi dokumentasi lokal ini terjadi pada masa Mataram Kuno di Jawa Tengah dan Jawa Timur antara abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Melalui puluhan prasasti yang ditemukan, tampak jelas bagaimana tata kelola administrasi desa diatur dengan tingkat ketelitian hukum yang setara dengan akta notaris modern.

Prasasti Penanggalan Masehi Inti Dokumentasi Hukum Desa
Prasasti Bungurasih 31 Oktober 860 M Mencatat keberadaan Desa Bungur Lor yang kini telah berusia lebih dari 1.164 tahun.
Prasasti Kinawe 28 Februari 928 M Legalitas peresmian Desa Kinawe sebagai wilayah sima (bebas pajak) oleh pejabat kerajaan.
Prasasti Linggasuntan 3 September 929 M Penetapan Desa Linggasuntan menjadi desa perdikan karena merawat bangunan suci peribadatan.
Prasasti Hering 22 Mei 934 M Transaksi jual beli tanah sawah yang melibatkan pejabat desa dan mengabadikan tiga nama desa di Nganjuk.

Fakta-fakta hukum dari lembaran batu dan tembaga ini merangkai benang merah yang kokoh mengenai akar sejarah literasi desa nusantara. Menulis, mengabarkan, dan mendokumentasikan dinamika desa bukanlah sebuah tindakan pembangkangan terhadap pakem berita arus utama yang selalu berpusat di perkotaan. Sebaliknya, gerakan jurnalisme yang fokus pada wilayah pedesaan hari ini adalah sebuah upaya sadar untuk merawat, menghidupkan kembali, sekaligus menghormati akar peradaban luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur Nusantara sejak belasan abad silam.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 5 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Singhasari Bangkit: Menenun Asa di Atas Kain Mori, Dari Lilin Sunyi Menuju Panggung Nasional

14 Juni 2026 - 05:43 WIB

Menganyam Tradisi, Mengukir Prestasi: Dari Sumberporong untuk Jawa Timur

13 Juni 2026 - 06:48 WIB

Kebangkitan Ekonomi Desa Berbasis Budaya di Singosari

12 Juni 2026 - 21:51 WIB

Khatam Al-Qur’an: Benteng Generasi Muda Nanggalo

1 Juni 2026 - 16:15 WIB

Lawan Dampak Handphone dengan Filosofi Adat Minangkabau

29 Mei 2026 - 19:51 WIB

Menggali Peradaban Kuno di Negeri Seribu Menhir Maek

29 Mei 2026 - 10:32 WIB

Trending di SOSBUD