Menu

Mode Gelap
Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi Bukan Seremoni, Desa Kambuno Rayakan Hari Desa dengan Aksi

DESA · 4 Des 2025 07:32 WIB ·

Kisah Dramatis Banjir Pidie: Selamatkan Ibu dan Bertahan di ‘Desa Mati’


					Sebuah desa di Pidie Jaya dipotret saat masih tergenang banjir, awal pekan ini. (Image courtesy: BBC/Rino Abonita) Perbesar

Sebuah desa di Pidie Jaya dipotret saat masih tergenang banjir, awal pekan ini. (Image courtesy: BBC/Rino Abonita)

Desa Blang Cut Pidie Jaya Porak-poranda: Warga Harapkan Normalisasi Sungai Agar Bisa Dihuni Kembali

Pidie Jaya, Aceh [DESA MERDEKA] Desa Blang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, kini nyaris menjadi ‘desa mati’ yang tak layak huni setelah diterjang banjir bandang luapan Sungai Meureudu pada 26 November malam. Bencana ini tidak hanya meninggalkan lumpur setinggi atap rumah dan membenamkan puluhan hunian, tetapi juga menciptakan sedikitnya lima cabang aliran sungai baru yang memotong jalanan desa.

Kisah dramatis dialami oleh Ari Fanda (30), salah satu penyintas, yang berjibaku menyelamatkan nyawa ibunya dan warga lain di tengah arus air yang mencapai leher. Ari mengungkapkan bahwa satu-satunya cara agar Desa Blang Cut dapat dihuni kembali adalah dengan menormalisasi atau menutup kembali aliran sungai-sungai baru tersebut.

“Kalau cabang-cabang air sungai baru itu tidak dinormalisasi atau ditimbun, desa kami menjadi desa yang tidak dapat dihuni lagi,” ujar Ari. Setelah aliran sungai dikembalikan ke jalurnya, barulah pengerukan lumpur yang membenam rumah-rumah bisa dilakukan.

Desa Blang Cut, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, terendam lumpur usai banjir surut. (Image courtesy: BBC/Rino Abonita)

Pertarungan Hidup Mati Melawan Arus Dini Hari
Malam puncak bencana, Ari Fanda menunjukkan keberanian luar biasa. Setelah menyadari debit air sungai mulai naik secara tidak wajar, ia bergegas kembali ke rumah untuk menjemput ibunya, Syariani (65). Meskipun rumahnya sudah ditinggikan sebagai mitigasi, air merangsek masuk dalam sekejap mata.

Tepat pukul 02.00 dini hari, saat air sudah setinggi leher, Ari memikul ibunya dan berjalan melawan arus sejauh 50 meter menuju rumah panggung tetangga yang bertingkat dua. Upaya menghubungi tim SAR terkendala, sehingga ia harus mengandalkan kekuatan sendiri untuk membawa sang ibu ke tempat aman.

Keesokan paginya, Desa Blang Cut sudah berantakan dan dipenuhi teriakan minta tolong. Ari dan beberapa tetangga kembali mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan dua anak kecil yang bertahan di tiang beton di tengah derasnya arus air. Mereka berenang ke lokasi dan berteriak meminta tali tambang.

“Tali tambang yang digunakan untuk menyelamatkan dua anak itu sempat putus. Warga yang menyaksikan upaya penyelamatan dramatis tersebut seketika panik,” kenang Ari. Beruntung, ia dan warga lainnya berhasil menarik kedua anak tersebut secara perlahan ke lokasi pengungsian sementara.

Sebuah rumah di Pidie Jaya terendam lumpur usai banjir surut. (Image courtesy: BBC/Rino Abonita)

Melihat Jenazah Dihanyutkan Arus dan Bertahan Hidup
Tragedi dan perjuangan berlanjut sepanjang hari. Ari dan warga lain menyaksikan sepasang suami-istri berusaha menyelamatkan diri dengan bertahan pada sebuah kulkas yang terseret arus. Sayangnya, mereka hanya berhasil menyelamatkan sang istri, sementara suaminya terbawa arus menuju desa tetangga.

Kisah paling memilukan adalah ketika Ari dan rombongan penyelamat bertemu sebuah keluarga yang berenang mengarungi arus. Keluarga dari Desa Blang Cut itu terdiri dari seorang menantu perempuan, dua cucu, dan seorang perempuan tua yang sudah tak bernyawa. Menantu perempuan tersebut menggotong jenazah ibu mertuanya menggunakan tong plastik, setelah almarhumah terbentur kayu saat berusaha menyelamatkan diri.

Jenazah tersebut sempat disemayamkan semalam sebelum dievakuasi keesokan harinya oleh sekitar 20 warga dengan menggunakan papan kayu. Jenazah lantas dikuburkan seadanya di desa tetangga saat air mulai surut.

Saat ini, warga Desa Blang Cut masih terisolasi dan kesulitan. Ari mengaku belum mendapat bantuan darurat memadai dari pemerintah. “Kita amat butuh bantuan, seperti untuk makan dan air,” pintanya. Sementara lumpur mulai mengeras, harapan utama warga adalah penutupan lima aliran sungai baru agar desa mereka tidak tenggelam selamanya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 28 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sutrisno Nahkodai PPDI Gondang: Era Baru Inovasi Birokrasi Desa

17 Januari 2026 - 15:11 WIB

Bukan Sekadar Musyawarah, PPDI Kauman Siapkan Amunisi Kesejahteraan 2031

17 Januari 2026 - 14:50 WIB

Ironi Dana Desa Simpang Jelutih: Anggaran Besar, Bendera Sobek

17 Januari 2026 - 11:56 WIB

Lahan Tidur Labone Bangkit, Siap Sukseskan Program JATI Muna

17 Januari 2026 - 08:12 WIB

Desa Bukan Lagi Penonton: Revolusi Kemandirian dari Akar Rumput

17 Januari 2026 - 04:06 WIB

Tiga Desa di Rejang Lebong Terancam Tak Gajian dan Dipidana

17 Januari 2026 - 03:18 WIB

Trending di DESA