Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 1 Mar 2025 15:37 WIB ·

Ekonomi Nagari Bergerak: Dharmasraya Pilih Desentralisasi Pasar Pabukoan


					Ekonomi Nagari Bergerak: Dharmasraya Pilih Desentralisasi Pasar Pabukoan Perbesar

Dharmasraya, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mengambil langkah berani dengan tidak memusatkan pasar pabukoan Ramadan di satu titik pusat kota. Strategi ini diambil untuk menghidupkan ekonomi mikro secara mandiri di setiap nagari, sekaligus memastikan akses menu berbuka puasa menjadi lebih dekat dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Kumperdag) Dharmasraya, Nofriadi Roni Puska, menegaskan bahwa fenomena pasar kaget selama Ramadan adalah milik masyarakat. Dengan membiarkan setiap nagari mengelola pasar pabukoannya sendiri, pemerintah daerah memberikan ruang bagi kreativitas kuliner lokal untuk tumbuh tanpa sekat birokrasi lokasi yang kaku.

“Pasar pabukoan di setiap nagari dilaksanakan secara mandiri oleh masyarakat. Momen Ramadan adalah waktu di mana perputaran uang di sektor kuliner sangat tinggi, dan kami ingin dampak ekonominya dirasakan langsung oleh warga di tingkat nagari,” jelas Nofriadi pada Jumat (28/2/2025).

Keamanan Pangan Jadi Prioritas Utama
Meskipun lokasi pasar tersebar dan bersifat mandiri, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya tidak lantas lepas tangan. Desentralisasi ini justru dibarengi dengan pengawasan kualitas pangan yang ketat. Dinas Kumperdag bersama instansi terkait telah menjadwalkan pemeriksaan mendadak ke pasar-pasar nagari untuk menjamin keamanan konsumsi masyarakat.

Nofriadi mengingatkan para pedagang agar menjunjung tinggi etika berdagang dengan tidak menggunakan bahan berbahaya seperti pengawet mayat (formalin), pewarna tekstil (rhodamin B), atau boraks. Langkah preventif ini bertujuan agar niat masyarakat berburu kuliner berbuka tidak berujung pada masalah kesehatan.

“Kami ingin masyarakat merasa aman. Jika dalam pemeriksaan terdeteksi adanya bahan berbahaya, kami tidak akan segan mengambil tindakan tegas sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.

Mendekatkan Layanan ke Depan Pintu Rumah
Keputusan “memecah” pusat keramaian ini juga dinilai efektif untuk mengurangi kemacetan yang biasanya menumpuk di pusat kabupaten menjelang waktu berbuka. Dengan adanya pasar pabukoan berkualitas di setiap nagari, mobilitas warga menjadi lebih singkat dan efisien.

Komitmen Pemkab Dharmasraya ini menunjukkan bahwa pengelolaan hari besar tidak selalu harus tentang kemegahan satu titik, melainkan tentang bagaimana setiap sudut wilayah bisa merasakan denyut ekonomi yang sama. Masyarakat kini bisa menikmati takjil berkualitas tanpa harus menempuh perjalanan jauh, sembari mendukung tetangga mereka yang sedang berwirausaha kuliner selama bulan suci.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 35 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kepala Desa Jarang Ngantor Jadi Ancaman Serius Pembangunan

24 April 2026 - 22:13 WIB

Ekonomi Digital Desa: Koperasi Merah Putih Tembus Pasar Dunia

23 April 2026 - 09:32 WIB

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Optimisme Petani Selayar: Jagung Bersemi, Kelapa Menanti Data

21 April 2026 - 18:24 WIB

Bukan Beban Anggaran, Pers Adalah Perisai Antikorupsi Desa

21 April 2026 - 12:33 WIB

Hentakan Kuntau Bonerate: Memuliakan Pemimpin dengan Ketulusan Adat

20 April 2026 - 22:34 WIB

Trending di RAGAM