Bukber UPT SDN Bonerate No. 32 Jadi Ruang Refleksi Pendidikan di Pasimarannu
Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (DESAMERDEKA) — Menjelang azan Magrib berkumandang, langit di atas Pulau Bonerate perlahan berpendar jingga. Di salah satu ruang kelas UPT SDN Bonerate No. 32, para guru duduk bersisian. Tidak ada sekat jabatan. Tidak ada jarak antar sekolah. Hanya percakapan hangat, senyum lelah yang tulus, dan semangkuk takjil sederhana yang menanti waktu berbuka.
Di wilayah kepulauan seperti Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, kegiatan buka puasa bersama sekolah bukan sekadar agenda Ramadhan. Ia menjadi ruang memperkuat silaturahmi, menyatukan visi pendidikan, sekaligus momentum refleksi bagi para pendidik.
Tahun ini, UPT SDN Bonerate No. 32 menjadi sekolah keempat di Pasimarannu yang menggelar buka puasa bersama Ramadhan 1447 Hijriah, Ahad (1/3/2026). Hadir dalam kegiatan tersebut para kepala sekolah dan guru SD dalam lingkup kecamatan, menjadikan suasana semakin khidmat.

Namun yang paling membekas bukan hanya pertemuannya, melainkan pesan yang disampaikan Kepala UPT SDN Bonerate No. 32, Dahlia, S.Pd.
“Ramadhan adalah bulan keberkahan. Ramadhan juga bulan pendidikan. Ia mendidik kita tentang keikhlasan, kesabaran, dan pengendalian diri. Kita berpuasa meski tidak ada yang melihat. Kenapa? Karena kita tahu bahwa Allah Maha Mengetahui,” ujarnya.
Kalimat itu seakan menegaskan bahwa nilai Ramadhan selaras dengan profesi guru—sebuah pekerjaan yang sering kali sunyi dari sorotan.
Mengajar dalam Diam, Dicatat sebagai Amal
Di daerah kepulauan, tantangan pendidikan bukan hanya soal kurikulum. Akses, keterbatasan fasilitas, hingga kondisi geografis menjadi bagian dari realitas sehari-hari. Namun para guru tetap berdiri di depan kelas, menyampaikan huruf demi huruf, menanamkan nilai demi nilai.

Dahlia menegaskan bahwa tidak semua lelah pendidik terlihat oleh publik. Tidak semua perjuangan mendapat apresiasi.

“Tidak semua perjuangan kita dihargai orang. Namun kita yakin Allah SWT mencatat setiap tetes keringat dan kesabaran kita sebagai amal jariyah sebagai pendidik.”
Pernyataan ini menggambarkan filosofi pendidikan berbasis pengabdian. Guru bukan sekadar profesi administratif, melainkan panggilan moral.
Dalam konteks pendidikan di Kepulauan Selayar, peran guru menjadi semakin strategis. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi figur teladan dan penjaga karakter generasi muda.
“Kita tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga pembentukan karakter. Setiap huruf yang kita ajarkan, setiap nasihat yang kita sampaikan, bahkan setiap doa yang kita panjatkan untuk anak didik kita, insyaallah menjadi pahala yang terus mengalir,” tambahnya.
Ramadhan sebagai Momentum Evaluasi Pendidikan
Kegiatan Ramadhan di sekolah sering kali identik dengan pesantren kilat atau pembagian takjil. Namun di Pasimarannu, buka puasa bersama menjadi forum evaluasi moral dan profesional.
Dahlia mengajak seluruh pendidik menjadikan Ramadhan sebagai titik perbaikan diri—bukan hanya dalam ibadah personal, tetapi juga dalam kualitas pengabdian.
“Mari kita jadikan Ramadhan sebagai titik evaluasi dan perbaikan diri. Mengajar lebih profesional, lebih sabar, lebih penuh cinta, dan lebih ikhlas.”
Pesan ini relevan dalam era transformasi pendidikan nasional, ketika guru dituntut adaptif terhadap perubahan kurikulum, teknologi, dan kebutuhan karakter siswa.
Ukhuwah sebagai Fondasi Sekolah yang Kuat

Di ujung sambutannya, Dahlia menegaskan bahwa sekolah yang kuat tidak dibangun oleh satu individu.
“Sekolah yang kuat tidak dibangun oleh satu orang saja, melainkan dibangun oleh tim yang saling mendukung dan saling menguatkan. Ketika guru-guru kompak, maka visi dan tujuan sekolah akan semakin mudah dicapai.”
Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antarpendidik di Kecamatan Pasimarannu. Dalam sistem pendidikan dasar, soliditas tim guru menjadi kunci keberhasilan pembelajaran.
Buka puasa bersama ini pun menjadi simbol bahwa kebersamaan bukan hanya slogan, melainkan kebutuhan nyata.
Dari Bonerate untuk Pendidikan Indonesia
Di tengah keterbatasan geografis kepulauan, semangat guru-guru Pasimarannu menunjukkan bahwa kualitas pendidikan tidak semata ditentukan oleh lokasi, tetapi oleh komitmen.
Ramadhan mengajarkan keikhlasan. Pendidikan membutuhkan ketelatenan. Keduanya bertemu di ruang sederhana bernama sekolah.
Ketika azan Magrib akhirnya berkumandang, para guru membatalkan puasa dengan doa yang sama: semoga pengabdian mereka diterima, semoga generasi yang mereka didik tumbuh berkarakter, dan semoga sekolah-sekolah di Kepulauan Selayar terus menjadi cahaya di tengah hamparan laut.
Karena di ujung kepulauan ini, pendidikan tetap menyala—dijaga oleh guru-guru yang bekerja dalam diam, namun berdampak panjang bagi masa depan bangsa.

kontributor Desamerdeka.id wilayah Sulawesi Selatan. Aktif meliput isu-isu sosial, pemerintahan desa, dan dinamika pembangunan masyarakat pesisir.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.