Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 20 Agu 2024 09:46 WIB ·

Desa Makmur dengan Inovasi Integrated Farming: Solusi dari Sampah hingga Pangan


					Desa Makmur dengan Inovasi Integrated Farming: Solusi dari Sampah hingga Pangan Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] – Sebuah inovasi menarik datang dari sektor pertanian desa. Melalui konsep integrated farming, masyarakat desa berhasil mengubah sampah organik menjadi sumber daya produktif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Inisiatif yang dibahas secara daring melalui program cakap SDGs Desa edisi 357 ini, bermula dari pembentukan lembaga Posyantek Desa yang bertugas mencari teknologi tepat guna, untuk mengelola sampah organik rumah tangga pedesaan. Melalui proses budidaya magot, sampah organik tersebut diolah menjadi sumber protein bagi ternak seperti ayam dan ikan. Kotoran ternak yang kaya nutrisi kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman hidroponik, seperti padi.

“Konsepnya sangat menarik,” ujar Samsul Ma’arif, TAPM Kabupaten Klaten, salah satu inisiator program ini. “Dari sampah yang selama ini dianggap masalah, kita bisa menghasilkan berbagai produk pertanian, mulai dari telur ayam, ikan, hingga padi organik. Ini membuktikan bahwa dengan inovasi dan pengelolaan yang tepat, pertanian desa bisa menjadi sangat produktif.”

Tantangan dan Peluang

Meskipun konsep integrated farming ini menjanjikan, namun implementasinya tidak lepas dari tantangan. Salah satunya adalah penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di tingkat desa. Dibutuhkan pendampingan yang berkelanjutan agar masyarakat desa dapat mengelola sistem ini dengan baik dan berkelanjutan.

“SDM adalah kunci keberhasilan program ini,” lanjut Samsul. “Kami perlu memastikan bahwa masyarakat desa memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk mengelola seluruh proses, mulai dari pengolahan sampah hingga pemasaran produk.”

Selain itu, tantangan lain adalah pemasaran produk organik. Meskipun permintaan pasar terhadap produk organik semakin meningkat, namun petani organik seringkali kesulitan menembus pasar yang lebih luas.

Potensi yang Menjanjikan

Meski demikian, potensi integrated farming sangatlah besar. Selain meningkatkan produktivitas pertanian, konsep ini juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan ketahanan pangan.

“Dengan integrated farming, kita tidak hanya menghasilkan pangan yang sehat dan berkualitas, tetapi juga mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan,” tambah Samsul. “Ini adalah solusi yang sangat relevan dengan tantangan yang kita hadapi saat ini.”

Inovasi integrated farming di desa menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, pertanian desa dapat menjadi lebih produktif, berkelanjutan, dan inklusif. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 93 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kepala Desa Jarang Ngantor Jadi Ancaman Serius Pembangunan

24 April 2026 - 22:13 WIB

Ekonomi Digital Desa: Koperasi Merah Putih Tembus Pasar Dunia

23 April 2026 - 09:32 WIB

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Optimisme Petani Selayar: Jagung Bersemi, Kelapa Menanti Data

21 April 2026 - 18:24 WIB

Bukan Beban Anggaran, Pers Adalah Perisai Antikorupsi Desa

21 April 2026 - 12:33 WIB

Hentakan Kuntau Bonerate: Memuliakan Pemimpin dengan Ketulusan Adat

20 April 2026 - 22:34 WIB

Trending di RAGAM