Bangli, Bali [DESA MERDEKA] – Di tengah gempuran bahasa gaul dan digitalisasi, Desa Adat Jeruk Mancingan, Kecamatan Susut, memilih jalan “pemberontakan kreatif” untuk menyelamatkan warisan leluhur. Lewat perayaan Bulan Bahasa Bali pada Minggu (1/2/2026), desa ini membuktikan bahwa melestarikan aksara tidak harus kaku dan membosankan.
Berbeda dengan protokol standar, Desa Jeruk Mancingan melakukan inovasi berani dengan menggelar lomba Cerdas Cermat Bahasa Bali yang interaktif. Langkah ini diambil untuk memastikan anak-anak tidak sekadar tahu, tapi juga jatuh cinta pada bahasa ibu mereka.
“Cerdas cermat ini dikemas menyenangkan untuk memicu minat anak-anak menghafal kosakata, seperti nama bagian tubuh dalam bahasa Bali. Ini di luar petunjuk teknis pemerintah, murni inovasi desa,” tegas Bendesa Desa Adat Jeruk Mancingan, I Wayan Perwira Duta.
Kolaborasi Lintas Generasi di Banjar
Kesuksesan acara ini bukan kerja satu orang. Ada sinergi kuat antara Penyuluh Bahasa Bali, guru-guru banjar, hingga mahasiswa. Selain cerdas cermat, kompetisi Nyurat Aksara Bali untuk anak SD dan Pidarta (pidato) untuk generasi Yowana (usia SMP hingga 35 tahun) menjadi ajang pembuktian bahwa bahasa Bali masih “hidup” di pergaulan sehari-hari.
Pementasan Tari Condong Mesatya turut menyemarakkan suasana, mengubah balai desa menjadi panggung hiburan edukatif yang dipadati warga. Antusiasme ini menunjukkan bahwa masyarakat merindukan konten budaya yang segar namun tetap berakar pada tradisi.
Bukan Sekadar Seremonial Februari
Desa Jeruk Mancingan menolak menjadikan Bulan Bahasa Bali sebagai ajang formalitas tahunan semata. Menggunakan pendanaan dari anggaran Semesta Berencana, desa ini telah menyiapkan strategi jangka panjang melalui Program Pasraman.
Pasraman ini akan diaktifkan setiap libur sekolah sebagai wadah berkelanjutan. Anak-anak tidak hanya akan belajar teori bahasa, tetapi langsung mempraktikkan pelestarian adat, seperti membuat piranti upakara (sarana upacara).
“Dukungan dana dari Pemerintah Provinsi sangat bermanfaat agar anak-anak tidak lupa bahasa ibu. Astungkara, di sini anak-anak masih menggunakan bahasa Bali untuk bergaul,” tambah Perwira Duta. Dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Jeruk Mancingan sukses menjadi garda depan pelindung identitas budaya di tingkat akar rumput.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.