Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 5 Feb 2026 03:31 WIB ·

Cara Unik Desa Jeruk Mancingan Cegah Kepunahan Bahasa Bali


					Cara Unik Desa Jeruk Mancingan Cegah Kepunahan Bahasa Bali Perbesar

Bangli, Bali [DESA MERDEKA] Di tengah gempuran bahasa gaul dan digitalisasi, Desa Adat Jeruk Mancingan, Kecamatan Susut, memilih jalan “pemberontakan kreatif” untuk menyelamatkan warisan leluhur. Lewat perayaan Bulan Bahasa Bali pada Minggu (1/2/2026), desa ini membuktikan bahwa melestarikan aksara tidak harus kaku dan membosankan.

Berbeda dengan protokol standar, Desa Jeruk Mancingan melakukan inovasi berani dengan menggelar lomba Cerdas Cermat Bahasa Bali yang interaktif. Langkah ini diambil untuk memastikan anak-anak tidak sekadar tahu, tapi juga jatuh cinta pada bahasa ibu mereka.

“Cerdas cermat ini dikemas menyenangkan untuk memicu minat anak-anak menghafal kosakata, seperti nama bagian tubuh dalam bahasa Bali. Ini di luar petunjuk teknis pemerintah, murni inovasi desa,” tegas Bendesa Desa Adat Jeruk Mancingan, I Wayan Perwira Duta.

Kolaborasi Lintas Generasi di Banjar
Kesuksesan acara ini bukan kerja satu orang. Ada sinergi kuat antara Penyuluh Bahasa Bali, guru-guru banjar, hingga mahasiswa. Selain cerdas cermat, kompetisi Nyurat Aksara Bali untuk anak SD dan Pidarta (pidato) untuk generasi Yowana (usia SMP hingga 35 tahun) menjadi ajang pembuktian bahwa bahasa Bali masih “hidup” di pergaulan sehari-hari.

Pementasan Tari Condong Mesatya turut menyemarakkan suasana, mengubah balai desa menjadi panggung hiburan edukatif yang dipadati warga. Antusiasme ini menunjukkan bahwa masyarakat merindukan konten budaya yang segar namun tetap berakar pada tradisi.

Bukan Sekadar Seremonial Februari
Desa Jeruk Mancingan menolak menjadikan Bulan Bahasa Bali sebagai ajang formalitas tahunan semata. Menggunakan pendanaan dari anggaran Semesta Berencana, desa ini telah menyiapkan strategi jangka panjang melalui Program Pasraman.

Pasraman ini akan diaktifkan setiap libur sekolah sebagai wadah berkelanjutan. Anak-anak tidak hanya akan belajar teori bahasa, tetapi langsung mempraktikkan pelestarian adat, seperti membuat piranti upakara (sarana upacara).

“Dukungan dana dari Pemerintah Provinsi sangat bermanfaat agar anak-anak tidak lupa bahasa ibu. Astungkara, di sini anak-anak masih menggunakan bahasa Bali untuk bergaul,” tambah Perwira Duta. Dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Jeruk Mancingan sukses menjadi garda depan pelindung identitas budaya di tingkat akar rumput.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Saat Legenda Prambanan Pindah ke Jalanan Subah Batang

22 Agustus 2026 - 20:36 WIB

Gotong Royong Warga Malaka Kirim Bantuan Gempa Flores

17 Agustus 2026 - 13:33 WIB

Tim Evaluator UNESCO Tiba di Sumbar, Geopark Ranah Minang Silokek Jalani Validasi

17 Agustus 2026 - 09:26 WIB

Simfoni Api Pasimarannu: Sakralnya Malam Taptu di Tapal Batas Selayar

16 Agustus 2026 - 21:35 WIB

Merajut Rindu di Nanggalo: Jalan Sehat Warga Perumdam Wirasakti

16 Agustus 2026 - 13:08 WIB

Keseruan Lomba Malamang HUT RI ke-81 di Kecamatan Nanggalo

16 Agustus 2026 - 00:10 WIB

Trending di SOSBUD