Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

SOSBUD · 30 Apr 2026 12:35 WIB ·

Ritual Longkangan Senepo Jaga Nyawa Sumber Air Pegunungan


					Ritual Longkangan Senepo Jaga Nyawa Sumber Air Pegunungan Perbesar

Ponorogo, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Masyarakat Desa Senepo, Kecamatan Slahung, memiliki cara unik dalam menghargai alam. Melalui upacara adat Longkangan, warga memastikan sumber air Belik Wonorejo tetap terjaga di tengah tantangan geografis dataran tinggi yang rawan kelangkaan air. Ritual ini menjadi simbol nyata kearifan lokal dalam merawat ekosistem pegunungan secara turun-temurun.

Program “Bunda Menginap di Desa” (Bunga Desa) pada Sabtu (25/4/2026) menjadi saksi betapa sakralnya prosesi ini. Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, turut menyaksikan arak-arakan warga dari Dukuh Papringan menuju Balai Desa Senepo. Ritual ini memperlihatkan harmoni antara manusia dan alam yang kini masuk dalam jajaran 10 besar Karisma Event Ponorogo (KEPO).

Simbol Keselamatan dalam Gentong Tanah Liat
Prosesi dimulai dengan pengambilan air menggunakan kendi dan periuk oleh rombongan yang dipimpin oleh sosok bergelar Potrojoyo. Mengenakan busana tradisional Jawa, mereka mengarak air suci dari Belik Wonorejo menuju pusat aktivitas desa. Di depan balai desa, Kepala Desa Senepo, Jamid, telah bersiap menerima air tersebut untuk dipindahkan ke dalam gentong tanah liat.

“Ini simbol harapan agar Desa Senepo senantiasa diberi keselamatan, kesejahteraan, serta dijauhkan dari berbagai mara bahaya,” ungkap Jamid. Perpindahan air ke gentong besar mengandung filosofi mendalam tentang pentingnya menyimpan dan menjaga cadangan air sebagai sumber kehidupan utama masyarakat dataran tinggi.

Kearifan Lokal Penjaga Ekosistem
Kepala Disbudparpora Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, menilai kekuatan Longkangan terletak pada kesadaran masyarakat dalam merawat alam. Saat meninjau lokasi Belik Wonorejo, ia menemukan pohon-pohon besar masih berdiri kokoh di sekitar sumber mata air, sebuah bukti nyata bahwa adat mampu menjadi perisai bagi kelestarian lingkungan.

Pelestarian alam berbasis budaya ini dianggap sangat layak masuk dalam Calendar of Event tahunan. Dengan menjaga Belik Wonorejo melalui tradisi Longkangan, warga Senepo tidak hanya merawat identitas budaya, tetapi juga menjamin keberlanjutan pasokan air bagi generasi mendatang di wilayah pegunungan Slahung.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

UMKM Lokal Hidupkan Festival Kuliner 100 Tahun Jam Gadang

21 Juni 2026 - 22:20 WIB

Ritual Sedekah Gunung, Kekuatan Budaya Warga Desa Lencoh

18 Juni 2026 - 04:22 WIB

Muharam di Desa: Momentum Revolusi Mental dan Etos Kerja

17 Juni 2026 - 15:31 WIB

Mandeh Siti Manggopoh, Inspirasi Pembangunan Desa Agam Modern

16 Juni 2026 - 13:46 WIB

Prasasti Kuno Buktikan Akar Sejarah Literasi Desa Nusantara

14 Juni 2026 - 08:22 WIB

Batik Singosari: Dari Sebatang Lilin Menuju Pengakuan Nasional

14 Juni 2026 - 05:43 WIB

Trending di SOSBUD