Jakarta [DESA MERDEKA] – Wajah kota Frankfurt kini berubah. Untuk tahun kedua secara berturut-turut, lampu dekorasi bertuliskan “Ramadan Kareem” resmi bersanding dengan kemegahan lampu kota di jantung Eropa tersebut. Fenomena ini menjadi kabar positif bagi kesadaran publik terhadap keberadaan 6 juta umat Islam yang kini menjadi populasi agama terbesar kedua di Jerman.
Dalam webinar bertajuk “ISLAM DI JERMAN: Menjadi Muslim, Perempuan, dan Minoritas” yang digelar The Lead Institute Universitas Paramadina, Minggu (22/2/2026), terungkap bahwa semarak Ramadan di Jerman mulai menyerupai kemeriahan di Indonesia. Hal ini dipandang sebagai bentuk pengakuan identitas yang perlahan mulai diterima di ruang publik.
Tradisi Unik di Musim Dingin
Dounia Schuler Barkok, seorang mualaf sekaligus guru muslimah di Frankfurt, menceritakan bahwa ibadah puasa tahun ini terasa lebih ringan. Ramadan yang jatuh pada musim dingin membuat durasi puasa hanya sekitar 11 hingga 12 jam, jauh lebih singkat dibanding musim panas yang bisa mencapai 18 jam.
Di Maroko Mosque, titik temu jamaah multikultural, tradisi buka bersama dilakukan dengan cara unik. Alih-alih nasi kotak seperti di tanah air, jamaah saling berkirim camilan sederhana untuk dinikmati bersama, bahkan mengundang tetangga non-muslim guna mempererat toleransi antarwarga.

Hijab dan “Tembok Tebal” di Sektor Privat
Meski lampu-lampu Ramadan mulai bersinar di jalanan, tantangan nyata masih menghantui sektor privat. Islamofobia dan diskriminasi identitas tetap menjadi ganjalan besar bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat muslim, terutama perempuan.
“Faktanya, hanya sekitar 30 persen wanita muslim di Jerman yang berani berhijab di ruang publik atau tempat kerja,” ungkap Dounia. Ia menceritakan keponakannya yang berulang kali ditolak melamar kerja hanya karena identitas visual tersebut. Selain hijab, stigma terhadap nama-nama yang terdengar “Islami” juga sering kali memicu diskriminasi halus dalam proses rekrutmen perusahaan.
Warisan Raden Saleh hingga Habibie
Ketua The Lead Institute, Dr. Phil Suratno Muchoeri, mengingatkan bahwa kehadiran Islam di Jerman memiliki akar sejarah dan kontribusi intelektual yang fundamental, termasuk dari putra terbaik Indonesia.
- Raden Saleh: Pelukis legendaris yang kediamannya di Maxen kini dikenal sebagai “Masjid Biru” (Das Blau Moschee).
- B.J. Habibie: Warga kehormatan Jerman yang teorinya tentang stabilitas kereta cepat dan sayap pesawat masih menjadi tulang punggung teknologi Jerman hingga hari ini.
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa segala bentuk rasisme dan stigma seperti istilah “Frankfurtistan” harus dijawab dengan penguatan jati diri. Menutup webinar, Dounia membagikan resep sederhana melawan kebencian: aksi nyata. Setiap Natal, komunitas muslimah di lingkungannya rutin memasak kudapan bagi lansia di panti jompo untuk menunjukkan bahwa kebaikan Islam melampaui batas-batas agama.
Team Redaksi Untuk Kiriman Rilis Berita
Email : mydesamerdeka@gmail.com

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.