Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

DESA · 15 Jan 2026 09:30 WIB ·

Anggaran Dipangkas, Perangkat Desa Napis Terancam Tak Gajian


					Anggaran Dipangkas, Perangkat Desa Napis Terancam Tak Gajian Perbesar

Bojonegoro, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Sebuah anomali anggaran tengah menghantam stabilitas birokrasi tingkat desa di Kabupaten Bojonegoro. Desa Napis, wilayah terluas di Kecamatan Tambakrejo, justru mengalami pemangkasan Alokasi Dana Desa (ADD) yang sangat drastis tahun ini. Kabar buruknya, sisa anggaran yang ada diperkirakan hanya mampu membayar penghasilan tetap (siltap) perangkat desa selama delapan bulan saja.

Kepala Desa Napis, Mulyono, mengungkapkan bahwa tahun ini desanya hanya menerima alokasi sekitar Rp1,1 miliar. Angka ini terjun bebas dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,5 miliar. Defisit sebesar Rp400 juta tersebut menjadi pukulan telak, mengingat Desa Napis memiliki jumlah perangkat desa yang banyak sebanding dengan luas wilayahnya.

“Sangat berdampak. Dana yang ada sekarang cuma cukup untuk membayar gaji perangkat selama delapan bulan,” ujar Mulyono dengan nada prihatin.

Pelayanan Tetap Jalan Meski “Dapur” Terancam
Meskipun dihantui krisis penggajian, Pemdes Napis mengeklaim tidak akan mengorbankan kepentingan warga. Pelayanan publik dipastikan tetap berjalan maksimal. Namun, secara psikologis dan manajerial, kondisi ini menciptakan beban berat bagi para aparatur desa yang harus bekerja penuh waktu dengan kepastian upah yang menggantung di akhir tahun.

Camat Tambakrejo, Kasmari, membenarkan bahwa Desa Napis adalah penerima ADD tertinggi di wilayahnya dengan total alokasi kecamatan mencapai Rp14,7 miliar. Namun, predikat “tertinggi” itu menjadi tidak berarti ketika beban kerja dan jumlah personel yang harus dibayar tidak sebanding dengan pagu anggaran yang telah disunat oleh Pemerintah Kabupaten.

PKDI Bojonegoro Siapkan Perlawanan
Keresahan ini tidak hanya berhenti di level desa. Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Kabupaten Bojonegoro kini tengah merapatkan barisan. Mereka berencana menggelar audiensi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk mempertanyakan dasar kebijakan “pengeprasan” ADD tersebut.

Langkah diplomasi ini diambil guna mencari solusi atas kekurangan siltap agar tidak terjadi gagal bayar di sisa empat bulan terakhir tahun anggaran. Jika tidak ada intervensi, dikhawatirkan semangat kerja aparatur desa akan merosot yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pembangunan di tingkat akar rumput.

Krisis di Desa Napis ini menjadi sinyal peringatan bagi kebijakan fiskal daerah agar lebih presisi dalam menghitung kebutuhan operasional desa, terutama desa-desa dengan beban geografis dan personel yang besar.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 38 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Cara Desa Banjararum Turunkan Stunting Lewat Aplikasi e-HDW

25 Juli 2026 - 11:17 WIB

Rembuk Stunting Desa Banjararum Kecamatan Singosari membahas percepatan Zero Stunting dan penyusunan RKP Desa 2027 melalui pemanfaatan e-HDW.

Rebutan Kursi BPD Sidodadi Banyuwangi: Dusun Krajan Memanas!

24 Juli 2026 - 18:47 WIB

TMMD Hadirkan NIB Gratis, UMKM Kesongo Naik Kelas

24 Juli 2026 - 14:12 WIB

Kuota Perempuan Terjaga, Wajah Inklusif BPD Desa Purorejo

24 Juli 2026 - 13:34 WIB

Sawah, Sejarah, dan Siasat Watugede Mandiri Tanpa Subsidi

23 Juli 2026 - 08:14 WIB

Rahasia Sukses Desa Banjararum: Administrasi Tertib, Ekonomi Melejit

22 Juli 2026 - 07:45 WIB

Trending di DESA