Pasaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Deru mesin perahu kayu memecah keheningan hutan pedalaman Mapat Tunggul Selatan, membelah riak sungai berarus deras yang dipenuhi bebatuan besar. Di atas perahu itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, duduk menantang gerimis demi menembus Jorong Pertemuan, Nagari Muaro Sungai Lolo, Kabupaten Pasaman. Kehadirannya di wilayah terjauh ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan membawa misi besar untuk menjawab jeritan hati warga yang bertahun-tahun hidup dalam kegelapan tanpa aliran listrik. Persoalan ketiadaan listrik nagari sungai lolo kini resmi menjadi prioritas intervensi infrastruktur dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Perjalanan darat dan air yang memakan waktu total belasan jam dari Kota Padang ini memotret betapa timpangnya akses pembangunan di wilayah pinggiran. Rombongan pemerintah daerah harus berkendara selama 10 jam melewati jalur perbukitan yang rawan, sebelum menyambung tiga jam perjalanan sungai dengan kondisi cuaca yang cepat berubah. Menariknya, komitmen kuat ini ditunjukkan Vasko tepat setelah dirinya sempat mengalami kecelakaan dinas di jalur Surian, Kabupaten Solok, yang merusak parah kendaraan operasionalnya beberapa waktu lalu. Namun, trauma kecelakaan tidak menyurutkan langkah kaki sang pejabat untuk melihat langsung wajah kemiskinan energi di tingkat tapak.
Pembangunan, bagi Vasko, tidak boleh hanya berputar dan menumpuk di pusat perkotaan yang gemerlap. Masalah mendasar seperti belum meratanya fasilitas penerangan di jorong terpencil Pasaman menjadi bukti nyata bahwa negara harus hadir memberikan pelayanan yang setara. Berdasarkan dialog langsung dengan tokoh dan masyarakat setempat, kebutuhan pasokan daya listrik menjadi urutan pertama dari rentetan aspirasi publik yang mendesak untuk segera dieksekusi demi keberlangsungan hidup mereka.
“Insya Allah kita akan perjuangkan listrik masuk ke sini, melalui program PLTMH. Kami ingin masyarakat di pelosok juga merasakan hak yang sama untuk hidup lebih baik,” ungkap Vasko Ruseimy di hadapan warga jorong.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) memanfaatkan debit aliran air sungai setempat untuk menggerakkan turbin generator. Solusi ini dinilai paling rasional dan ramah lingkungan untuk topografi pedalaman Pasaman yang sulit dijangkau jaringan kabel konvensional PLN.
Dampak dari realisasi pembangkit listrik berbasis komunitas ini diproyeksikan akan mengubah total urat nadi kehidupan desa. Kehadiran daya setrum bukan lagi soal lampu pijar di malam hari, tetapi merupakan motor penggerak utama bagi operasional fasilitas kesehatan, efektivitas belajar anak-anak di sekolah, hingga membuka peluang hilirisasi ekonomi bagi komoditas pertanian lokal. Tanpa listrik, lompatan kesejahteraan di Nagari Sungai Lolo akan selalu tertinggal jauh dari wilayah urban.
Kunjungan yang ditutup dengan agenda Shalat Iduladha bersama warga dan penyerahan hewan kurban ini menjadi penanda penting bahwa pemerintah mulai mengalihkan pandangan ke wilayah-wilayah yang selama ini tidak terlihat dalam peta pembangunan arus utama. Kini, masyarakat di pedalaman Pasaman menggantungkan harapan besar pada janji pembangunan PLTMH tersebut agar kampung halaman mereka segera merdeka dari kegelapan panjang.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.