Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

SOSBUD · 19 Nov 2025 05:48 WIB ·

IPSI Sumbar Wajibkan Silat Masuk Sekolah demi Lestarikan Budaya


					IPSI Sumbar Wajibkan Silat Masuk Sekolah demi Lestarikan Budaya Perbesar

Wagub Vasko Ruseimy Dorong Program Silat Wajib di SMA untuk Selamatkan 50 Aliran Silek Tradisi

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Pengurus Provinsi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumatera Barat (Sumbar) resmi menggelar Rapat Kerja (Raker) tahun 2025 pada 17 hingga 18 November 2025. Pertemuan yang dihadiri hampir 100 peserta dengan tingkat kehadiran mencapai 90 persen ini fokus pada sinergi antara pencapaian prestasi olahraga dan pelestarian nilai budaya silek tradisi Minangkabau.

Dalam Raker yang mengusung tema “Satu Gerak, Satu Langkah Menuju Pengembangan Silek dan IPSI Sumbar 2026” ini, Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar sekaligus Ketua Umum IPSI Sumbar, Vasko Ruseimy, menegaskan peran strategis IPSI sebagai motor penggerak kebangkitan silat tradisi. Ia mengungkapkan bahwa salah satu program prioritas Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar adalah integrasi silat ke dalam kegiatan pendidikan.

“Sejak awal menjabat, program silat masuk sekolah langsung menjadi prioritas utama. Ekstrakurikuler silat tradisi diwajibkan di sekolah-sekolah tingkat SMA di bawah naungan pemerintah provinsi,” ujar Vasko, Senin (17/11/2025) malam.

Regenerasi Pesilat Tradisi Melalui Sekolah
Kebijakan ini diambil sebagai respons atas memudarnya keberadaan aliran silek tradisi. Vasko menyebutkan bahwa dari sekitar 200 aliran silek yang pernah ada di Minangkabau, kini hanya tersisa sekitar 50 aliran. Angka ini menjadi “alarm” serius bagi semua pihak bahwa pelestarian harus segera dilakukan secara masif.

Dengan diwajibkannya silat tradisi di sekolah, para guru silek dan tuo-tuo tradisi kembali dicari untuk mengajarkan ilmu. Menurut Vasko, ini merupakan cara efektif untuk memastikan regenerasi pesilat tradisi terus berjalan.

“Jika generasi muda bangga dengan budaya lokalnya, maka silat akan hidup kembali dan IPSI punya peran besar di sana,” tambahnya.

Wagub Vasko Ruseimy juga mengajak atlet dan pelatih untuk menjadikan filosofi silat tradisi sebagai dasar pembentukan karakter dan jiwa, bukan semata-mata mengejar prestasi. Ia bahkan mengusulkan agar IPSI Sumbar membuat agenda besar yang menghadirkan seluruh atlet di ruang terbuka, bukan di matras, agar nilai-nilai tradisi dapat dirasakan secara lebih nyata.

Fokus Kolaborasi dan Kesejahteraan Atlet
Raker ini juga menjadi ruang konsolidasi bagi seluruh bidang IPSI Sumbar untuk memaparkan dan menyinkronkan rancangan program kerja tahun 2026. Vasko menekankan pentingnya kerja kolektif dan kolaborasi di internal organisasi, meminta pengurus IPSI kabupaten/kota dan provinsi meninggalkan perdebatan tidak produktif demi mewujudkan sejarah sebagai generasi yang kembali menghidupkan silek tradisi di Sumbar.

Di kesempatan yang sama, Vasko menginformasikan bahwa Pemprov Sumbar bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) telah menuntaskan pembayaran bonus atlet dari tahun sebelumnya, menandakan dukungan penuh pemerintah. Ia juga menyinggung pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2026 yang akan melibatkan beberapa kabupaten/kota sebagai tuan rumah. IPSI diharapkan mengambil peran besar dan memperkuat posisi pencak silat sebagai cabang olahraga unggulan daerah.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Hukum KONI Sumbar, Alvira, menekankan bahwa pembangunan olahraga tidak bisa berhenti pada pencapaian prestasi. Ia menyoroti pentingnya keberlanjutan ekonomi atlet agar mereka tidak berpindah ke daerah lain karena alasan kesejahteraan. Menurut Alvira, indikator keberhasilan olahraga modern setidaknya terdiri dari perkembangan cabang olahraga, tumbuhnya industri olahraga, dan kontribusi ekonomi kepada masyarakat.

“Pencak silat berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru jika dikelola secara profesional,” jelas Alvira, seraya menambahkan bahwa pengelolaan olahraga modern membutuhkan dukungan dari ahli manajemen, ekonomi kreatif, budaya, hingga pemasaran. Ia berharap Raker ini mampu menghasilkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia silat di Sumbar.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 44 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Demokrasi Berkualitas Mulai dari Kesadaran Politik Warga Desa

2 Mei 2026 - 17:25 WIB

Jalan Pintas Talenta Desa Bekasi Menuju Piala Presiden

2 Mei 2026 - 11:44 WIB

Jurus Pebayuran Melawan Modernisasi: Pencak Silat Jadi Benteng Pemuda

2 Mei 2026 - 10:33 WIB

Narkoba dan Stunting di Sumbar Mengkhawatirkan, Isu LGBT Masih Jadi Perdebatan

30 April 2026 - 22:51 WIB

Modal Sosial Menguat dalam Tradisi Pelepasan Haji Pangkalpinang

30 April 2026 - 19:38 WIB

Ritual Longkangan Senepo Jaga Nyawa Sumber Air Pegunungan

30 April 2026 - 12:35 WIB

Trending di SOSBUD