Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

LINGKUNGAN · 16 Sep 2025 06:17 WIB ·

Ubah Limbah Jadi Rupiah, UMKM Semarang Tembus Pasar Dunia


					Ubah Limbah Jadi Rupiah, UMKM Semarang Tembus Pasar Dunia Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Di balik sebuah ruangan kecil di Kabupaten Semarang, tersimpan kisah inspiratif tentang kreativitas yang mengubah limbah menjadi karya bernilai tinggi. Adalah Kokosri Sada, seorang pelaku UMKM yang akrab disapa Kokos Edan, yang membuktikan bahwa inovasi bisa lahir dari kesederhanaan. Dengan mengusung filosofi “EDAN” — Etnik, Different, Authentic, Natural — ia berhasil menembus pasar internasional dengan produk kerajinan tangan dari bahan-bahan lokal yang melimpah.

“Filosofi EDAN ini menjadi panduan saya dalam berkarya. Etnik, karena produknya unik dan berbeda. Different, karena saya selalu menciptakan produk yang tak pasaran. Authentic, sebab semuanya saya kerjakan sendiri, mulai dari desain hingga produksi. Natural, karena saya memanfaatkan bahan-bahan alam,” jelas Kokos.

Produk utama yang ia hasilkan adalah sandal etnik yang kini laris di pasar global. Selama dua tahun terakhir, ia fokus mengembangkan sandal yang 80-90% penjualannya diekspor ke luar negeri. Selain sandal, Kokos juga mulai merambah kerajinan dari tempurung kelapa. Berawal dari limbah tempurung yang melimpah di pasar tradisional, ia mengubahnya menjadi berbagai aksesori, seperti kalung dan gantungan kunci, serta produk dekorasi.

“Hanya dalam dua bulan, produk tempurung kelapa ini sudah terjual ke tujuh negara, termasuk Australia, Amerika, Samoa, Taiwan, Tiongkok, India, dan Korea,” ungkapnya.

Keunikan lain dari karya Kokos adalah pemanfaatan enceng gondok, gulma yang identik dengan Rawa Pening. Ia menjadikan eceng gondok sebagai elemen ikonik dalam setiap produknya, mulai dari sandal hingga dekorasi, menjadikannya sebuah ciri khas dari Kabupaten Semarang. Ia juga menambahkan benang dari karung goni bekas, menunjukkan kreativitas dalam memanfaatkan setiap bahan yang ada.

Yang paling menarik, semua karya ini dihasilkan hanya dengan peralatan sederhana: jarum kasur, gunting, dan cutter. Kokos ingin membuktikan bahwa modal bukanlah halangan utama untuk memulai usaha. “Hanya dengan menyisihkan uang jajan, anak muda bisa menjadi pelaku usaha kreatif,” tegasnya.

Kokos juga membuka pintu kolaborasi bagi anak muda di Semarang. Ia tidak hanya bersedia mengedukasi cara membuat produk, tetapi juga mendampingi mereka hingga mampu memasarkan karyanya. Dengan pendekatan ini, ia berharap bisa menumbuhkan semangat wirausaha di kalangan milenial dan Gen Z, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi lokal dari hal-hal yang tak terduga.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 64 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Bumi Butuh Healing: Warga Batu Busuak Belajar Rawat Tanah

25 Juni 2026 - 05:31 WIB

Darurat Sampah: Desa di Pati Wajib Miliki Perdes Kebersihan

18 Juni 2026 - 06:08 WIB

Kolaborasi Anambas Foundation Ubah Wajah Lingkungan Kuala Maras

8 Juni 2026 - 13:19 WIB

Ancaman Agraria dan Bencana Ekologis Desa di Banjarnegara

26 Mei 2026 - 13:07 WIB

Bantuan Mobil Sampah Pangkas Transit Limbah Tarempa Barat

22 Mei 2026 - 16:34 WIB

Menguji ‘Nawaitu’ Warga Gununggempol Jadi Kiblat Sampah Nasional

18 Mei 2026 - 15:43 WIB

Trending di LINGKUNGAN