Purworejo, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Lurisae Farm, sebuah sentra peternakan kambing modern di Loano, Purworejo, kini semakin menunjukkan perannya sebagai pusat budidaya produktif. Peternakan ini tidak hanya berfokus pada breeding (peranakan), tetapi juga sukses memproduksi susu kambing dengan standar kualitas tinggi. Keberadaannya kini menjadi rujukan edukasi bagi berbagai kalangan, mulai dari peternak pemula, kelompok komunitas, hingga instansi pemerintah.
Menurut Mas Yanto, pendiri sekaligus pemilik Lurisae Farm, peternakan ini membudidayakan beragam jenis kambing unggulan seperti Etawa, Alpine, Saanen, Togenburg, Pigmy Goat, Nigerian Goat, hingga Anglo-Nubian. Beragam jenis domba, seperti Garut, Merino, Texel, dan Domba Dokter, juga tersedia. “Kami menyediakan dari usia peranakan 4 bulan, dara, hingga indukan, dengan harga mulai dari 4 jutaan, tergantung kualitas dan jenisnya,” terang Mas Yanto. Ia menambahkan bahwa kambing indukan di Lurisae Farm mampu menghasilkan keturunan sekaligus memproduksi susu hingga 3 liter per hari.
Untuk mendukung produksi susu dan menjaga kesehatan ternak, Lurisae Farm menerapkan sistem pemberian pakan terpadu. Pagi hari, kambing diberi konsentrat yang dicampur ampas tahu hasil kerja sama dengan pabrik tahu lokal. Sedangkan pada siang dan sore hari, pakan berupa silase hasil fermentasi dedaunan dan jagung diberikan. Bahan pakan ini merupakan hasil kolaborasi dengan petani setempat. Stok pakan silase yang diproduksi hingga 10 ton per hari dipastikan selalu tersedia, bahkan bisa bertahan hingga 12 bulan berkat proses penyimpanan yang baik.
Keunggulan lain dari peternakan modern ini adalah desain kandang panggung yang ergonomis. Kandang dirancang dengan sekat, lorong, dan tempat makan yang nyaman bagi hewan maupun petugas. Posisi panggung memastikan kotoran jatuh langsung ke bawah tanpa bercampur sisa pakan. Sirkulasi udara dan pencahayaan matahari yang optimal membuat kandang tidak berbau menyengat. “Sinar matahari yang masuk langsung ke bagian bawah kandang membantu menjaga kelembaban dan kebersihan, sehingga udara segar dan kambing pun sehat,” jelas Mas Yanto.
Lurisae Farm juga mengadopsi konsep semi umbaran pada kandang berukuran 15×15 meter. Area panggung terbuka 3×15 meter ini menampung maksimal 15 betina dan 1 pejantan, sesuai rasio ideal. Dengan konsep ini, kambing dapat bergerak bebas, mendapatkan sinar matahari, serta memiliki akses air minum dari keran khusus. Konsep ini membuat siklus birahi kambing berlangsung alami, menghasilkan tingkat kehamilan dan kelahiran yang lebih sehat.
Selain sebagai tempat produksi, Lurisae Farm berfungsi sebagai pusat edukasi peternakan terpadu. Peternakan ini dilengkapi dengan lebih dari lima kandang terintegrasi, pendopo, dapur, ruang bebas, musala, dan toilet. Fasilitas lengkap ini menjadikannya lokasi ideal untuk studi banding, pelatihan, atau kunjungan edukatif. “Pada dasarnya, breeding kambing bisa sangat optimal jika kebutuhan dasar hewan—seperti gizi, kebersihan, dan kenyamanan—terpenuhi sebagaimana manusia,” tutup Mas Yanto, menegaskan filosofi peternakannya yang humanis dan produktif.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.