Bogor, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Jawa Barat sedang membuktikan bahwa cara terbaik menghadapi masa depan adalah dengan kembali ke masa lalu, namun menggunakan alat masa kini. Melalui program Tapal Desa (Ketahanan Pangan Digital Desa), Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghidupkan kembali filosofi leuit (lumbung padi) yang kini dipersenjatai dengan sistem digital.
Gubernur Jawa Barat meresmikan proyek percontohan ini di Desa Ciampea Udik, Kabupaten Bogor. Langkah ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya mendigitalisasi kearifan lokal Sunda untuk membentengi desa dari ancaman krisis pangan global yang kian nyata.
Filosofi Masa Lalu, Teknologi Masa Depan
Berbeda dengan lumbung tradisional yang hanya mengandalkan ingatan, leuit modern ini terintegrasi dengan aplikasi digital. Setiap butir gabah yang masuk dan keluar tercatat secara real-time. Digitalisasi ini memastikan transparansi data persediaan, sehingga pemerintah desa tahu persis kapan harus melakukan subsidi silang bagi warga yang membutuhkan saat krisis melanda.
“Pemasukan dan pengeluaran pangan dicatat secara digital. Bahkan, potensi subsidi silang saat krisis pun akan terdata akurat di aplikasi,” ujar Gubernur saat peluncuran di Desa Ciampea Udik.
Mandiri Tanpa Beban APBD
Sudut pandang menarik dari program ini adalah skema pendanaannya yang tidak bergantung pada APBD. Pemprov Jabar menggandeng sektor swasta, BUMN, dan BUMD melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR). Dengan estimasi biaya sekitar Rp100 juta per unit, korporasi dilibatkan langsung untuk membangun ketahanan sosial di tingkat akar rumput.
Kabupaten Bogor terpilih sebagai pionir karena dianggap paling progresif. Saat ini, sembilan desa di Bogor telah siap secara lahan dan administrasi. Desa-desa tersebut meliputi Bojong Jengkol, Ciampea Udik, Jagabita, Sadeng, Urug, Malasari, Robak, Rumpin, dan Cipinang.
Belajar dari Kesaktian Kampung Adat
Inspirasi program ini lahir dari ketangguhan Kampung Adat Ciptagelar di Sukabumi. Selama berabad-abad, masyarakat di sana tidak pernah kelaparan karena disiplin menyimpan sebagian hasil panen di leuit. Prinsip menyisihkan rezeki untuk masa paceklik inilah yang ingin ditularkan ke seluruh Jawa Barat.
Targetnya ambisius: sebanyak 5.300 desa di Jawa Barat akan memiliki lumbung digital serupa. Dengan gerakan ini, desa tidak lagi hanya menjadi objek pasar pangan, tetapi menjadi subjek yang mandiri, tangguh, dan berbudaya dalam menjaga kedaulatan perut warganya sendiri.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.