Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

IPTEK · 13 Apr 2026 17:47 WIB ·

Modal Dengkul Hasil Sawah: Rahasia Sukses Kandang Komunal Kadirejo


					Modal Dengkul Hasil Sawah: Rahasia Sukses Kandang Komunal Kadirejo Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Siapa bilang beternak sapi butuh modal jutaan rupiah di awal? Di Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, para petani membuktikan bahwa modal utama bukanlah uang, melainkan kemauan untuk bergabung dalam kelompok. Melalui sistem bagi hasil “70:30”, warga desa kini mampu membeli tanah hingga sawah hanya dari hasil “nyambi” di kandang komunal.

Kelompok Tani Ngudi Rahayu 7 menjadi potret nyata kemandirian dusun. Sejak tahun 2010, mereka mengelola bantuan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPO) senilai Rp322,5 juta dari pemerintah pusat secara konsisten. Hasilnya, sebuah kandang komunal berukuran 8×25 meter tetap berdiri kokoh dan tidak pernah kosong dari aktivitas pemeliharaan sapi selama lebih dari 15 tahun.

Sistem Gaduh: Solusi Cerdas Tanpa Modal
Samsudin, Ketua Kelompok Tani Ngudi Rahayu 7, menjelaskan bahwa kunci keberlanjutan mereka terletak pada sistem gaduh. Sapi-sapi yang dibeli dari modal kelompok dirawat oleh anggota. Keuntungan dari selisih harga jual setelah dipotong modal pokok dibagi secara adil: 70% untuk pemelihara dan 30% untuk kas kelompok.

“Ada yang bisa beli motor, bahkan beli tanah dari pembagian hasil 70% itu,” ujar Samsudin. Menariknya, pekerjaan ini hanyalah sampingan. Petani tetap bisa menggarap sawah atau bekerja di proyek karena waktu merumput untuk satu ekor sapi hampir sama dengan merawat tiga ekor sekaligus.

Bukan Sapi, Tapi Pupuk Organik
Meskipun hasil penjualan sapi sangat menggiurkan, tujuan utama kandang komunal ini justru bukan pada dagingnya. Fokus utama kelompok ini adalah produksi pupuk organik secara mandiri. Dengan adanya rumah kompos seluas 10×8 meter, kotoran sapi diolah menjadi nutrisi tanah untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk sintetis.

Langkah ini menciptakan ekosistem pertanian berkelanjutan. Petani tidak lagi pusing saat harga pupuk kimia melonjak atau stok langka. Jika produksi pupuk berlebih, pihak luar desa bahkan dipersilakan mengambil sisa pupuk yang menggunung secara cuma-cuma, memastikan lingkungan tetap bersih dan manfaatnya tersebar luas.

Resep Panjang Umur Kelompok Tani
Rahasia keharmonisan Ngudi Rahayu 7 selama belasan tahun adalah rasa tanggung jawab yang tinggi. Meskipun berada di satu atap kandang, setiap anggota bertanggung jawab penuh atas kesehatan, pakan, dan kebersihan sapi masing-masing. Tidak ada istilah iri hati karena porsi hasil ditentukan oleh kerja keras masing-masing individu.

Samsudin menekankan bahwa keberhasilan ini bukan sekadar teori akademis, melainkan praktik nyata di lapangan. Bagi warga desa, tidak memelihara ternak saat ketersediaan pakan melimpah di sekeliling rumah adalah sebuah kerugian besar. Melalui wadah kelompok, “modal dengkul” pun bisa berubah menjadi aset masa depan yang nyata.

 

https://youtu.be/PaGwq-Nt2LM?si=CidKr11ry8pTqKPz

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 41 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Hilirisasi Daun Iboih Ubah Wajah Ekonomi Aneuk Batee

2 Mei 2026 - 06:18 WIB

Sitinjau Lauik Merdeka Sinyal: Mudik 2026 Makin Aman

20 Maret 2026 - 21:32 WIB

Algoritma Baru Google: Angin Segar Buat Berita Desa

19 Maret 2026 - 11:26 WIB

Ubah Limbah Jeruk Busuk Jadi Minyak Atsiri Bernilai

16 Maret 2026 - 10:14 WIB

Bakteri Indigeneus: Kunci Cuan Akuaponik di Lahan Sempit

13 Maret 2026 - 19:03 WIB

Ketua DPRD Sumbar: Sawah Bisa Panen Tiga Kali dengan Ilmu

4 Maret 2026 - 10:28 WIB

Trending di IPTEK