Purworejo, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Saat konflik Timur Tengah melambungkan harga minyak dunia hingga 110 dolar AS per barel, para petani di Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, justru melangkah ke arah sebaliknya: merdeka dari ketergantungan bahan bakar minyak (BBM). Melalui peresmian instalasi pompa air tenaga surya bertepatan dengan Hari Bumi, Rabu (20/5/2026), desa ini membuktikan bahwa kemandirian energi bukan monopoli negara maju, melainkan inovasi yang bisa dimulai dari petak sawah desa.
Langkah progresif ini langsung membuahkan hasil nyata bagi ketahanan pangan lokal. Dari total 70 hektare luas sawah di Desa Krandegan, penggunaan pompa solar cell berkapasitas 40 watt ini berhasil memicu kenaikan hasil panen hingga 470 ton per musim tanam. Tidak hanya mendongkrak volume, efisiensi irigasi ini juga mengubah pola tanam tradisional, memungkinkan para petani setempat untuk menikmati masa panen hingga tiga kali dalam setahun.
Inovasi ini lahir dari kolaborasi strategis antara Pemerintah Desa Krandegan, akademisi lintas kampus (IPB, UMS, UMP, dan UIN Suska Riau), serta sektor swasta. PT Agros Global Indonesia selaku produsen memilih desa ini sebagai katalisator penyerapan teknologi surya di Jawa Tengah karena rekam jejak pemerintah desanya yang adaptif. Keberhasilan ini mengukuhkan Krandegan sebagai Desa Mandiri Energi, sekaligus melengkapi prestasi mereka sebagai Juara 2 Nasional dan Juara 1 tingkat Provinsi Jawa Tengah untuk kategori Desa Digital.
Kepala Desa Krandegan, Dwinanto, menegaskan bahwa momentum Hari Bumi ini merupakan langkah konkret untuk membebaskan sektor pertanian dari polusi dan beban biaya eksternal. Menurutnya, bumi adalah titipan anak cucu yang harus dirawat dengan solusi berkelanjutan. Penggunaan energi surya memotong biaya produksi pertanian yang selama ini tergerus oleh kenaikan harga pupuk, pestisida, dan bahan bakar mesin pompa konvensional.
Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi, memberikan apresiasi tinggi terhadap lompatan teknologi ini. Ia membandingkannya dengan negara kaya seperti Abu Dhabi yang masih kesulitan mengadopsi energi terbarukan secara massal karena mahalnya nilai investasi awal. Mengingat Indonesia merupakan negara tropis dengan limpahan sinar matahari hingga 12 jam sehari, langkah Krandegan dinilai sebagai contoh nyata bagaimana desa bisa bertahan dan mandiri di tengah ancaman membengkaknya subsidi BBM nasional. Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk mendukung keberlanjutan replikasi model ini demi tercapainya ketahanan pangan dan energi yang kokoh dari level desa.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.