Bulukumba, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Ketika banyak daerah masih bergelut dengan rendahnya kesadaran warga datang ke posyandu, Desa Bontotangnga di Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, justru berhasil mencatatkan angka partisipasi posyandu hingga seratus persen.
Keberhasilan luar biasa ini terungkap dalam Rembuk Stunting Tahun 2026 yang digelar di Aula Kantor Desa Bontotangnga pada Jumat, 22 Mei 2026. Forum tersebut dihadiri oleh pemerintah desa, BPD, Puskesmas Batang, Babinsa, Bhabinkamtibmas, penggerak PKK, kader kesehatan, hingga Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Bulukumba.
Tingkat partisipasi posyandu di desa ini bukan sekadar angka di atas kertas. Di balik rekor sempurna tersebut, ada determinasi tinggi dari para kader kesehatan desa yang menolak pasrah. Jika ada ibu hamil, remaja putri, atau balita yang absen saat hari pelayanan, para kader segera bergerak melintasi dusun untuk melakukan kunjungan langsung ke rumah warga. Langkah jemput bola ini memastikan hak kesehatan dasar masyarakat tetap terpenuhi tanpa celah.

Pendekatan humanis dan penuh gotong royong ini terbukti linier dengan penurunan beban daerah. Kepala Puskesmas Batang melaporkan bahwa angka kasus stunting di Desa Bontotangnga menyusut secara konsisten, dari 5 orang pada tahun 2025 kini tersisa 3 orang saja pada tahun 2026.
“Penanganan stunting harus berbasis data yang valid dan akurat. Data yang keliru hanya akan melahirkan rekomendasi program yang salah sasaran,” tegas TPP Kabupaten Bulukumba dalam paparannya.
Kepala Desa Bontotangnga menegaskan, agenda rembuk ini adalah komitmen tahunan yang wajib dikawal demi mendukung percepatan penurunan stunting nasional. Namun, mempertahankan status zero-stunting ke depan membutuhkan amunisi yang layak. Dalam evaluasi bidang gizi, posyandu desa kedepan membutuhkan peningkatan fasilitas penunjang operasional, seperti alat pengukuran baru, timbangan balita yang akurat, hingga penambahan kursi tunggu di area pelayanan.
Pencegahan stunting di tingkat tapak memang tidak bisa bertumpu pada sektor kesehatan semata. Diperlukan konvergensi layanan dasar mulai dari ketersediaan air bersih, akses jamban sehat, kepesertaan BPJS aktif, hingga kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Dinas PU, Dukcapil, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bulukumba. Melalui sinergi kolektif ini, Bontotangnga sedang merajut jalan menjadi desa percontohan yang melahirkan generasi berkualitas dan bebas stunting.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.