Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

IPTEK · 13 Mar 2026 19:03 WIB ·

Bakteri Indigeneus: Kunci Cuan Akuaponik di Lahan Sempit


					Bakteri Indigeneus: Kunci Cuan Akuaponik di Lahan Sempit Perbesar

Cibinong, Bogor, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Ketahanan pangan kini tak lagi butuh lahan berhektar-hektar. Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) bersama Pusat Riset Budidaya Air Tawar (PRBAT)-BRIN baru saja meresmikan kerja sama lanjutan untuk memasyarakatkan teknologi akuaponik modern berbasis bakteri indigeneus. Inovasi ini menjadi angin segar bagi warga kota (urban farming) dan pelaku UMKM yang ingin panen ikan sekaligus sayuran di halaman rumah.

Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh Ketua Umum Intani, Guntur Subagja M, dan Kepala PRBAT-BRIN, Dr.rer.nat. Fahrurrozi, di KST Soekarno, Cibinong, Jumat (13/3/2026). Sinergi ini bertujuan mengubah hasil riset laboratorium menjadi solusi praktis yang bisa langsung meningkatkan ekonomi rumah tangga.

Rahasia di Balik Bakteri Indigeneus
Banyak sistem akuaponik gagal karena ketidakseimbangan nutrisi. Namun, riset selama dua tahun oleh tim BRIN yang dipimpin Dr. Bambang Widyo Saputro menemukan solusinya: penggunaan bakteri indigeneus. Bakteri lokal ini berperan sebagai “mesin pengolah” yang mengubah kotoran ikan menjadi nutrisi organik premium bagi tanaman.

Hasilnya, air tetap bersih untuk ikan, sementara sayuran tumbuh lebih subur tanpa pupuk kimia tambahan. Sistem integrated farming ini didesain sangat efisien sehingga cocok ditempatkan di lahan terbatas, menjadikannya model bisnis yang sangat potensial bagi masyarakat perkotaan.

Mandiri Pangan dari Teras Rumah
Guntur Subagja menegaskan bahwa teknologi ini adalah jawaban untuk kemandirian pangan berbasis keluarga. Dengan biaya operasional yang rendah dan hasil ganda (protein ikan dan serat sayur), akuaponik modern ini mampu menekan pengeluaran dapur sekaligus menjadi sumber penghasilan tambahan.

“Ini bukan sekadar riset di atas kertas, tapi realitas usaha untuk masyarakat. Kami fokus pada skala rumah tangga dan UMKM agar dampak ekonominya langsung terasa,” ujar Guntur. Kerja sama ini memastikan pendampingan teknis agar masyarakat tidak hanya sekadar mencoba, tapi benar-benar berhasil mengelola ekosistem mini ini secara berkelanjutan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 53 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Proyek Internet Desa: Ladang Cuan Vendor, Perangkat Cepat Modar

9 Agustus 2026 - 14:55 WIB

Tinggalkan Semaian Alami Petani Solok Uji Tanam Instan

29 Juli 2026 - 15:13 WIB

Padi Semi Organik Kemetul: Panen Melimpah, Petani Sumringah

28 Juli 2026 - 13:55 WIB

Sawah Krandegan Panen 3 Kali Lewat Pompa Surya

22 Mei 2026 - 14:16 WIB

Membongkar Birokrasi Lambat, Desa Sukaindah Bekasi Bersiap Digital

18 Mei 2026 - 22:21 WIB

Hilirisasi Daun Iboih Ubah Wajah Ekonomi Aneuk Batee

2 Mei 2026 - 06:18 WIB

Trending di IPTEK