Deiyai, Papua Tengah [DESA MERDEKA] – Ada pemandangan yang tak lazim sekaligus mengharukan di Bandara Zakheus Pakage, Senin (3/3/2025). Ribuan warga Kabupaten Deiyai tumpah ruah bukan sekadar untuk seremoni, melainkan menjemput pemimpin yang baru saja pulang dari “kawah candradimuka”. Bupati Melkianus Mote dan Wakil Bupati Ayub Pigome kembali ke pangkuan rakyat setelah menjalani masa orientasi ketat di Akademi Militer (Akmil) Magelang.
Kontras antara kedisiplinan militer dan kehangatan tradisi terasa kental. Begitu mendarat, sang pemimpin langsung disambut tarian kolosal Mee Mee yang melibatkan ratusan penari. Ini bukan sekadar gerak tubuh, melainkan simbol bahwa meskipun sang bupati telah ditempa secara nasional, akar budayanya tetap tertanam kuat di tanah Papua.
Melkianus Mote dan Ayub Pigome sebelumnya dilantik langsung di Istana Negara pada 20 Februari 2025. Namun, alih-alih langsung duduk di kursi empuk kantor bupati, mereka harus menjalani retret orientasi selama delapan hari di Magelang guna menyelaraskan visi pembangunan strategis nasional ke tingkat daerah.
Energi Baru dari Lembah Tigi
Iring-iringan kendaraan yang membawa rombongan bupati tampak kesulitan menembus barisan warga yang memadati sepanjang jalan menuju Gedung DPRD Deiyai. Kehadiran mereka membawa energi baru bagi masyarakat yang telah lama menantikan kepastian arah pembangunan.
Di depan Gedung DPRD, barisan anggota legislatif dan tokoh masyarakat telah bersiap memberikan penghormatan tertinggi. Dalam orasinya, Melkianus Mote tampak emosional saat menyampaikan pesan pertamanya sebagai pejabat daerah.
“Kami sampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh masyarakat dan alam Deiyai. Perjalanan kami dimulai dari doa-doa di sini,” ujarnya lugas. Ia menekankan bahwa pembangunan Deiyai tidak bisa dilakukan secara otoriter, melainkan butuh persatuan antara pemerintah dan rakyat.
Harapan Besar untuk Perubahan
Kembalinya Melkianus dan Ayub membawa ekspektasi tinggi, terutama pada empat sektor krusial: pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi kerakyatan. Gemblengan di Akademi Militer diharapkan mampu mengubah gaya kepemimpinan di Deiyai menjadi lebih disiplin, transparan, dan berorientasi pada hasil nyata.
Penyambutan kolosal ini menjadi kontrak sosial awal antara pemimpin dan warga. Masyarakat Deiyai kini menanti, sejauh mana kedisiplinan Magelang dan kearifan lokal Mee dapat berkolaborasi dalam mewujudkan Kabupaten Deiyai yang lebih maju dan sejahtera di masa depan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.