Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 27 Feb 2025 15:39 WIB ·

Tradisi Siat Sarang: Cara Unik Warga Selat Perangi Ego


					Tradisi Siat Sarang: Cara Unik Warga Selat Perangi Ego Perbesar

Karangasem, Bali [DESA MERDEKA] Di tengah gempuran modernisasi, Desa Adat Selat di Karangasem, Bali, punya cara tersendiri untuk melakukan “detoksifikasi” jiwa. Melalui ritual Siat Sarang, warga setempat tidak menggunakan senjata tajam untuk berperang, melainkan sarang—alas bekas pembuatan kue uli—sebagai simbol untuk menghancurkan musuh-musuh batin atau ripu yang bersemayam dalam diri manusia.

Ritual unik ini digelar pada Rabu (26/2/2025) sebagai bagian tak terpisahkan dari rangkaian upacara Usaba Dimel. Puncaknya akan jatuh pada Saniscara Paing Ukir, Sabtu mendatang. Berlokasi di perbatasan Banjar Selat Kelod dan Banjar Selat Kaja, tradisi ini bukan sekadar tontonan aksi saling lempar, melainkan sebuah metode penyucian diri dari pengaruh negatif Bhuta Kala.

Sarang: Simbol Sampah Batin yang Harus Hancur
Hal yang  menarik dari ritual ini adalah penggunaan “sampah” atau barang bekas (sarang) sebagai medium pembersihan. Sejak pagi, warga menghias halaman rumah dengan tenge (sesaji khusus) bergambar Bhuta Kala. Sore harinya, energi negatif yang “terperangkap” dalam sesaji tersebut dimasukkan ke dalam sarang dan dibawa ke Pura Bale Agung untuk disucikan.

Prosesi perang dimulai saat Bendesa Jro Mangku Gede Mustika melemparkan dua sarang ke tengah kerumunan pemuda yang sudah terbagi menjadi kelompok Utara (Kaja) dan Selatan (Kelod). Seketika, suasana pecah. Ratusan pemuda saling lempar sarang hingga hancur berkeping-keping.

“Ini adalah ritual rutin untuk menetralisir sifat-sifat buruk sebelum puncak Usaba Dimel. Sarang itu melambangkan musuh batin. Saat sarang itu hancur, maka berakhirlah perang, yang menandakan kemenangan atas diri sendiri,” ungkap Jro Mangku Gede Mustika.

Perang Tanpa Luka, Kemenangan Tanpa Darah
Meskipun jarak antara kedua kelompok hanya sekitar tiga meter dan lemparan dilakukan dengan penuh energi, keajaiban muncul: tidak ada satu pun peserta yang mengalami cedera atau luka fisik. Hal ini mempertegas bahwa Siat Sarang bukanlah ajang pelampiasan amarah atau dendam antarbanjar, melainkan sebuah kerja sama kolektif untuk mencapai harmoni.

Kelompok Utara yang terdiri dari pemuda Banjar Paruman Sila Darsana, Dharma Saba, dan Eka Dharma, berhadapan dengan kelompok Selatan dari Banjar Bunteh, Telengis, Parigraha, dan Sukawana. Begitu seluruh sarang hancur dan para peserta kelelahan, tawa dan rasa persaudaraan justru yang tersisa di lapangan.

Ritual tahunan ini membuktikan bahwa bagi masyarakat Desa Adat Selat, kedamaian hanya bisa diraih setelah seseorang berani menghadapi dan “menghancurkan” sisi gelap dalam dirinya sendiri. Dengan hancurnya sarang, warga siap menyambut puncak Usaba Dimel dengan hati yang bersih dan jiwa yang baru.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Air Kembali Mengalir, LPPM UNEJ dan PATPI Ringankan Beban Perempuan Desa Tadho

8 September 2026 - 08:53 WIB

Perempuan Desa Tado

Duka Pantai Selatan: Lelah Pamong Desa Menjaga Asa

5 September 2026 - 20:29 WIB

Lautan Cahaya Lilin Sambut Bunda Maria di Malaka

2 September 2026 - 22:47 WIB

Bukan Sekadar Sertifikat: Denyut Budaya Sumbar Ada di Tangan Masyarakat

29 Agustus 2026 - 16:46 WIB

Jangan Tangkap Ikan Kecil, Bongkar Bandar Togel Papua!

29 Agustus 2026 - 10:31 WIB

Saat Legenda Prambanan Pindah ke Jalanan Subah Batang

22 Agustus 2026 - 20:36 WIB

Trending di SOSBUD