Karangasem, Bali [DESA MERDEKA] – Di tengah gempuran modernisasi, Desa Adat Selat di Karangasem, Bali, punya cara tersendiri untuk melakukan “detoksifikasi” jiwa. Melalui ritual Siat Sarang, warga setempat tidak menggunakan senjata tajam untuk berperang, melainkan sarang—alas bekas pembuatan kue uli—sebagai simbol untuk menghancurkan musuh-musuh batin atau ripu yang bersemayam dalam diri manusia.
Ritual unik ini digelar pada Rabu (26/2/2025) sebagai bagian tak terpisahkan dari rangkaian upacara Usaba Dimel. Puncaknya akan jatuh pada Saniscara Paing Ukir, Sabtu mendatang. Berlokasi di perbatasan Banjar Selat Kelod dan Banjar Selat Kaja, tradisi ini bukan sekadar tontonan aksi saling lempar, melainkan sebuah metode penyucian diri dari pengaruh negatif Bhuta Kala.
Sarang: Simbol Sampah Batin yang Harus Hancur
Hal yang menarik dari ritual ini adalah penggunaan “sampah” atau barang bekas (sarang) sebagai medium pembersihan. Sejak pagi, warga menghias halaman rumah dengan tenge (sesaji khusus) bergambar Bhuta Kala. Sore harinya, energi negatif yang “terperangkap” dalam sesaji tersebut dimasukkan ke dalam sarang dan dibawa ke Pura Bale Agung untuk disucikan.
Prosesi perang dimulai saat Bendesa Jro Mangku Gede Mustika melemparkan dua sarang ke tengah kerumunan pemuda yang sudah terbagi menjadi kelompok Utara (Kaja) dan Selatan (Kelod). Seketika, suasana pecah. Ratusan pemuda saling lempar sarang hingga hancur berkeping-keping.
“Ini adalah ritual rutin untuk menetralisir sifat-sifat buruk sebelum puncak Usaba Dimel. Sarang itu melambangkan musuh batin. Saat sarang itu hancur, maka berakhirlah perang, yang menandakan kemenangan atas diri sendiri,” ungkap Jro Mangku Gede Mustika.
Perang Tanpa Luka, Kemenangan Tanpa Darah
Meskipun jarak antara kedua kelompok hanya sekitar tiga meter dan lemparan dilakukan dengan penuh energi, keajaiban muncul: tidak ada satu pun peserta yang mengalami cedera atau luka fisik. Hal ini mempertegas bahwa Siat Sarang bukanlah ajang pelampiasan amarah atau dendam antarbanjar, melainkan sebuah kerja sama kolektif untuk mencapai harmoni.
Kelompok Utara yang terdiri dari pemuda Banjar Paruman Sila Darsana, Dharma Saba, dan Eka Dharma, berhadapan dengan kelompok Selatan dari Banjar Bunteh, Telengis, Parigraha, dan Sukawana. Begitu seluruh sarang hancur dan para peserta kelelahan, tawa dan rasa persaudaraan justru yang tersisa di lapangan.
Ritual tahunan ini membuktikan bahwa bagi masyarakat Desa Adat Selat, kedamaian hanya bisa diraih setelah seseorang berani menghadapi dan “menghancurkan” sisi gelap dalam dirinya sendiri. Dengan hancurnya sarang, warga siap menyambut puncak Usaba Dimel dengan hati yang bersih dan jiwa yang baru.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.