Rembang [DESA MERDEKA] – Di tengah hamparan wilayah Dusun Dabong, Desa Dadapmulyo, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, tersembunyi sebuah sumur gali yang tampak sederhana. Namun, bagi warga dusun, sumur yang mereka juluki Sumur Kulon ini memiliki kedudukan istimewa: ia ditetapkan sebagai punden desa, sebuah pusat spiritual dan simbol leluhur yang dihormati.
Tak ada catatan pasti mengenai kapan sumur ini pertama kali digali atau siapa tangan yang menciptakannya. Kisahnya bagai kabut tipis, samar dan tak terlacak. Kendati berstatus punden, ironisnya, Sumur Kulon kini tampak kurang terawat. Kesibukan zaman dan beralihnya kebutuhan air bersih ke teknologi modern membuat warga, termasuk penulis, mulai melupakan keberadaannya. Dulu, airnya adalah urat nadi kehidupan, kini keberadaannya nyaris tak terasa.
Suatu senja, sepulang dari menikmati kopi di dusun tetangga, penulis menyempatkan diri menengok ke dalam Sumur Kulon. Pemandangan yang tersaji sungguh memprihatinkan. Airnya tak lagi jernih, bahkan terlihat keruh, dan sumber airnya tampak sangat dalam, seolah tengah merajuk kekeringan. Sebagai seorang Jawa yang tumbuh dengan nilai-nilai luhur, penulis memaknai kondisi ini sebagai sebuah pertanda, sebuah teguran atas kelalaian yang berlangsung terlalu lama. Bagaimana mungkin sumur punden, yang dikelilingi pepohonan rindang penyimpan air, kini justru memprihatinkan?
Alih-alih mencari solusi praktis, benak penulis justru dipenuhi introspeksi. Sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam muncul: “Apa salah kami?” Namun, logika tetap berjalan. Mungkin ini hanyalah fenomena alam, penurunan permukaan air tanah yang tak terhindarkan.
Dari luar, aura mistis Sumur Kulon memang terasa kental. Puluhan pohon besar dan rindang, seperti trembesi (meh), asem Jawa, jaranan, dan serut, mengelilinginya, menciptakan suasana yang sintru (sunyi) dan wingit (angker). Dari balik rimbunnya dedaunan inilah berbagai cerita mistis bersemi dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu kisah yang cukup populer adalah tentang pohon trembesi. Konon, seorang warga yang beristirahat di bawahnya dan menggunakan akarnya sebagai bantal mengalami pengalaman aneh. Di antara kantuknya, ia merasakan bantalnya berubah menjadi lembek dan berbau amis. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa akar yang ia gunakan ternyata adalah seekor ular besar yang sedang tertidur pulas.
Kisah lain datang dari Gesang, seorang petualang yang gemar mengunjungi tempat-tempat keramat. Suatu malam, ia nekat nyepi (bertapa) di bawah pohon asem Jawa di tengah area punden. Belum lama ia bermeditasi, tiba-tiba ia mendengar desisan keras dari atas kepalanya. Mendongak, ia melihat seekor ular raksasa dengan mulut menganga, membuatnya lari tunggang langgang. Konon, di pohon asem Jawa ini pernah tumbuh anggrek indah yang dipercaya sebagai selendang danyang (penunggu) punden.
Tak ketinggalan, tiga pohon serut yang berjajar di tepi selatan pintu masuk punden juga menyimpan cerita unik. Almarhum Carik K pernah bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan sosok penunggang kuda berpakaian layaknya raja yang tiba-tiba muncul dari balik pohon serut. Usut punya usut, sosok itu ternyata memiliki nazar untuk mengadakan tayuban di punden jika ia diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Di atas lahan seluas kurang lebih 480 meter persegi milik desa inilah Sumur Kulon berdiri, dikelilingi pepohonan berusia ratusan tahun. Secara fisik, tak ada yang istimewa. Namun, bagi penulis pribadi, bukanlah sebuah kebetulan jika tempat ini dipilih dan ditetapkan sebagai punden desa. Setiap tahun, pada hari Rabu Pahing bulan Sela dalam kalender Jawa, ritual sedekah bumi khusyuk digelar di sini, sebuah tradisi yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan harapan akan keberkahan di masa depan. Sumur Kulon bukan hanya sekadar sumur, ia adalah penjaga cerita dan ruh bagi Dusun Dabong.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.