Jember [DESA MERDEKA] – Di pagi yang berkabut dan sejuk, pada Senin 16 Juni 2025, sawah-sawah di Dusun Karangasem, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, mendadak ramai oleh suara-suara semangat dan letupan kecil dari alat sederhana namun mematikan: Stick Kompor Jos. Hari itu, Pemerintah Desa Glagahwero bersama Kelompok Tani dan berbagai unsur lainnya memulai “perang terbuka” melawan hama tikus yang selama ini meresahkan petani.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 06.00 WIB dan berlangsung hingga menjelang siang ini tidak sekadar aksi simbolik. Dipimpin langsung oleh Kepala Desa Glagahwero, Suryo, empat tim pembasmi yang terdiri dari 4–5 orang per tim, diterjunkan ke area sawah seluas puluhan hektar. Mereka membawa senjata sederhana: sebuah stik besi yang tersambung ke tabung gas LPG 3 kg berbahan bakar gas LPG serta menggunakan belerang. Di tangan warga, alat ini dijuluki Stick Kompor Jos karena efeknya yang spontan dan panas menyengat saat mengusir tikus dari sarangnya.
“Harapan saya, mudah-mudahan nanti tikus di Desa Glagahwero ini bisa teratasi. Ini hasil usulan dan musyawarah di desa, kita sepakat pakai cara ngecor atau ngejos. Petani kita bisa makmur sesuai program pemerintah,” ujar Suryo saat memberi pengarahan kepada peserta sebelum kegiatan dimulai.
Aksi ini bukan gerakan asal-asalan. Pendekatannya menggabungkan kearifan lokal, efektivitas teknologi sederhana, dan koordinasi lintas sektor. Hadir dalam kegiatan ini antara lain Tri Kurniawati Pamungkas dari PUPT Kecamatan Panti, Sukorambi, dan Bangsalsari; Indani dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Jember; lima orang penyuluh pertanian; Kepala Dusun Karangasem dan perangkat desa lainnya; serta unsur Babinsa dan Babinkamtibmas Desa Glagahwero.
Tidak ketinggalan, puluhan anggota Kelompok Tani Tirto Agung juga terlibat aktif, menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih menjadi nafas utama desa ini.
“Kebetulan untuk serangan tikus di tiga kecamatan cukup meresahkan. Racun memang efektif untuk tikus muda, tapi sekarang tidak dianjurkan karena membunuh musuh alaminya juga,” terang Tri Kurniawati Pamungkas yang turut mengapresiasi langkah Desa Glagahwero.
Selain menekan populasi tikus, kegiatan ini juga mengedukasi petani tentang pengendalian hama ramah lingkungan. “Kami menyambut baik upaya Kepala Desa yang langsung membantu kami. Ternyata efektif, tikus keluar setelah diobos pakai gas,” ucap Sugianto, salah satu petani yang terlibat dalam aksi hari itu.
Tak berhenti sampai di sini, Kepala Desa Suryo menegaskan bahwa gerakan ini bukan hanya sekali jalan. Ia menyampaikan bahwa pengejosan akan terus dilakukan hingga seluruh lahan 50 hektar terbebas dari hama tikus.
“Nanti kita ulangi lagi pengejosannya. Karena dari hasil pengejosan hari ini masih banyak tikus yang lari. Ini akan berlanjut terus,” tegasnya saat memberi evaluasi di akhir kegiatan.
Dana kegiatan ini bersumber dari APB Desa Tahun 2025, membuktikan bahwa anggaran desa bisa dioptimalkan untuk mendukung program ketahanan pangan dan swasembada pangan, sesuai arahan kebijakan nasional.
Desa Glagahwero hari ini bukan hanya membasmi tikus, tapi juga menyampaikan pesan penting: bahwa desa bisa mandiri, inovatif, dan menjadi garda depan dalam menjawab tantangan pertanian. Dalam kesederhanaan Stick Kompor Jos, tersimpan harapan besar bagi masa depan pangan lokal.
Kontributor: Andik

Saya, seorang difabel yang sedang mengembangkan diri sebagai bagian dari jurnalis warga.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.