Singosari, Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Masa depan desa tidak melulu harus diadopsi dari gemerlap kota. Di Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, masa depan itu justru digali dari bawah lumpur sawah dan jejak batu prasejarah.
Di tengah hamparan 100 hektare sawah, berdiri sebuah Situs Batu Dakon. Situs ini diduga kuat telah ada jauh sebelum era Kerajaan Singhasari. Bagi Pemerintah Desa Watugede, bongkahan batu kuno ini bukan sekadar benda mati peninggalan masa lalu. Ini adalah modal awal untuk memicu lompatan ekonomi sirkular desa.
Gagasan segar ini mencuat dalam forum Monitoring dan Evaluasi (Monev) APBDesa se-Kecamatan Singosari yang ditutup di Watugede baru-baru ini. Forum yang biasanya kaku dan dipenuhi tumpukan berkas laporan, berubah menjadi ruang inkubasi ide. Di sinilah tata kelola administrasi yang bersih dikonversi menjadi keberanian berinovasi.

Siasat Baru Hadapi Aturan PMK
Tahun 2026 membawa tantangan fiskal baru bagi seluruh desa di Indonesia. Lahirnya PMK Nomor 7 Tahun 2026 memperketat penyesuaian penggunaan Dana Desa. Aturan ini mewajibkan desa memperkuat kemandirian lewat instrumen seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Artinya, desa tidak bisa lagi terus-menerus “menyusu” pada dana transfer pusat. Pilihannya hanya dua: berinovasi meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) atau jalan di tempat.
“Monev APBDesa ini bukan sekadar periksa kuitansi,” tegas Kepala Desa Watugede, Drs. Achmad Junaidi. “Bagi kami, ini ruang belajar bersama untuk memperkuat tata kelola pemerintahan desa. Administrasi yang rapi adalah fondasi sebelum kami melangkah mengambil peluang ekonomi baru.”
Watugede tidak memulainya dari nol. Mereka bertumpu pada otot pertanian mereka: 100 hektare sawah yang dikelola ketat oleh satu Gapoktan dan tiga Kelompok Tani. Sektor agraria ini kini tidak hanya menjadi benteng ketahanan pangan lokal, tetapi juga direkayasa menjadi sumber nilai tambah ekonomi yang bernilai tinggi.
BUMDes Menjadi Penggerak Mesin Ekonomi Desa
Lewat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Watugede mendobrak model bisnis konvensional. Mereka kini menjalankan usaha kemitraan budidaya tebu dengan sistem tanam mundur, yang langsung dihilirisasi ke perdagangan gula dan beras. Hasilnya? Desa mengantongi pendapatan rutin yang masuk ke kas PADes.
Langkah taktis Watugede ini menjadi anomali positif di tingkat nasional. Berdasarkan data terbaru, Indonesia memang memiliki 71.149 BUMDes dan BUMDes Bersama. Sebanyak 75,8 persen di antaranya tercatat memiliki unit usaha. Namun, mayoritas dari mereka masih megap-megap untuk menghasilkan laba yang berkelanjutan.
Kunci pembeda Watugede adalah ketepatan membaca potensi lokal. Mereka tidak latah meniru bisnis desa lain, melainkan fokus mengakar pada apa yang tumbuh di tanah mereka sendiri.
Ketika Sawah Bertemu Sejarah
Ambisi Watugede kini meluas. Kombinasi pertanian hilir dan pariwisata berbasis warisan (heritage) mulai dirajut melalui penemuan Situs Batu Dakon di atas Tanah Kas Desa (TKD).
Meskipun kajian arkeologi lanjutan masih berjalan untuk mengunci validitas usia situs, Watugede sudah bersiap mengambil momentum. Mereka berkaca pada kesuksesan Desa Wisata Budaya Tulusbesar dan Tomboan Ngawonggo di Kabupaten Malang. Kedua desa tersebut membuktikan bahwa pelestarian situs sejarah yang dikelola berbasis komunitas mampu memutar miliaran rupiah uang di tingkat tapak.
Secara geografis, Watugede diuntungkan karena berada di episentrum lanskap Kerajaan Singhasari. Kawasan ini bertetangga dekat dengan Candi Singhasari, Candi Jago, Candi Kidal, hingga Arca Dwarapala. Jika narasi Batu Dakon ini terkoneksi secara akademis, desa ini akan menjadi magnet baru bagi wisata edukasi sejarah di Jawa Timur.
Membangun Ekosistem Pembangunan
Cetak biru yang sedang disusun Pemerintah Desa Watugede sangat organik: mengawinkan pertanian, sejarah, BUMDes, UMKM, dan wisata edukasi ke dalam satu ekosistem tanpa sekat.
Dalam rencana ini:
* Sawah tetap berfungsi penuh menjaga perut warga (ketahanan pangan).
* Situs Batu Dakon menjadi penarik perhatian wisatawan (daya tarik edukasi).
* BUMDes mengelola seluruh rantai pasok usaha (mesin ekonomi).
* Warga desa menjadi pemilik saham dan pelaku utamanya.
Watugede memberi pelajaran penting bagi 75 ribu desa lainnya di Indonesia. Kemandirian desa tidak harus dimulai dengan mengejar mega proyek padat modal. Ketika tata kelola pemerintahan berjalan bersih, potensi terkecil di ujung sawah pun bisa diubah menjadi mesin ekonomi yang menghidupi generasi masa depan.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.Jurnalis
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.