Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Desa Batur di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, kini menjadi sorotan berkat inovasi pertaniannya. Terletak di lereng Gunung Merbabu pada ketinggian 1.200 hingga 1.800 MDPL, desa terluas di Kabupaten Semarang ini sukses memproduksi sayuran sehat berkualitas tinggi yang kini dipasok untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Giono, seorang tokoh penggerak petani dari Desa Batur, mengungkapkan bahwa para petani lokal telah beralih menggunakan teknologi Plasma Ozon untuk memastikan sayuran yang sampai ke tangan konsumen bebas dari bakteri dan residu kimia. Inovasi ini menjadi solusi strategis dalam menyediakan bahan baku pangan yang aman demi mencetak generasi bebas stunting.
“Sayur yang kami suplai ke dapur SPPG sudah melalui proses ozonisasi. Hasilnya, sayuran lebih higienis, bebas ulat, dan masa simpannya lebih lama. Bahkan setelah sepuluh hari, tekstur kol tetap segar dan justru mengeluarkan akar, bukan membusuk,” jelas Giono pada Sabtu (20/12/2025).

Inovasi Benih Kentang dan Efisiensi Rantai Pasok
Selain fokus pada sayur siap konsumsi, Giono juga sukses mengembangkan benih kentang F1 yang telah tersertifikasi oleh BPSB Jawa Tengah. Bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), benih kentang dari Desa Batur ini kini telah dikirim hingga ke Bromo, Banjarnegara, Tanah Karo, hingga Sulawesi.
Keunggulan kentang sebagai komoditas adalah harganya yang relatif stabil dibandingkan tanaman hortikultura lainnya. Giono menjelaskan bahwa budidaya kentang sangat menjanjikan; dari satu bibit yang ditanam, petani bisa menghasilkan minimal satu kilogram kentang dengan masa panen sekitar 100 hari.
Dukungan Penuh untuk Dapur SPPG
Dalam mendukung operasional dapur SPPG, Giono menawarkan konsep “Sayur Tanpa Sampah”. Artinya, sayuran yang dikirim telah melalui proses sortir, pencucian dengan teknologi ozon, penirisan, hingga pengemasan yang rapi. Hal ini memberikan keuntungan bagi pengelola dapur karena tidak ada lagi bagian sayur yang terbuang (nol residu sampah), berbeda dengan sistem belanja borongan di pasar konvensional.
“Suplai kami memastikan efisiensi hingga 35 persen karena semua yang dikirim sudah siap masak. Kami ingin memastikan anak-anak mendapatkan asupan yang sehat tanpa racun kimia,” tambah Giono.
Saat ini, pihaknya telah melayani tiga titik SPPG dan siap memperluas jangkauan distribusi. Lokasi Desa Batur yang dekat dengan sentra sayur Ngablak menjadikan akses logistik sangat mudah dan harga tetap kompetitif. Giono berharap momentum program MBG ini dapat memacu anak muda untuk kembali bertani dengan cara yang keren, inovatif, dan menyejahterakan.
https://youtu.be/S-bwxRNwbMc?si=K7mduTZ5WL5gU8-9



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.