Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR PEMDA · 15 Agu 2026 19:34 WIB ·

Sindiran Mahyeldi: 25 Juta Pemuda Desa Dikepung Gadget


					Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat melepas acara Merdeka Bike 81 Km di halaman Istana Gubernuran, Padang, Sabtu (15/8/2026) Perbesar

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat melepas acara Merdeka Bike 81 Km di halaman Istana Gubernuran, Padang, Sabtu (15/8/2026)

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] “Sekarang ini sebagian generasi muda kita sudah sibuk dengan gadget sehingga aktivitas fisiknya berkurang.” Sentilan langsung dari Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat melepas acara Merdeka Bike 81 Km di halaman Istana Gubernuran, Padang, Sabtu (15/8/2026), memicu perbincangan hangat.

Gubernur Mahyeldi secara terbuka gelisah melihat perubahan pola aktivitas anak muda zaman sekarang yang terlalu asyik berinteraksi dengan perangkat digital. Dampak nyatanya bahkan langsung terlihat di lapangan. Mahyeldi membeberkan bahwa dalam proses evaluasi calon anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), masih banyak ditemukan peserta yang fisik dan ketahanannya perlu ditingkatkan.

Kritik ini awalnya terdengar seperti keluhan biasa terhadap anak muda di kota-kota besar. Namun, jika dibedah menggunakan data riil, peringatan keras ini justru menjadi alarm bahaya yang sedang menyala di pelosok desa dan nagari. Ketergantungan pada layar kaca bukan lagi monopoli remaja kota.

Data APJII: 74 Persen Warga Desa Sudah ‘Mata Gadget’
Berdasarkan data Survei Profil Internet Indonesia yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet di wilayah pedesaan (rural) saat ini telah menembus angka 74 persen. Angka ini hampir mengejar wilayah perkotaan (urban) yang berada di posisi 82,18 persen.

Artinya, dari setiap 10 orang yang tinggal di desa, 7 di antaranya sudah menggenggam smartphone dan aktif berselancar di dunia maya setiap hari. Modernisasi infrastruktur digital memang membawa dampak positif bagi ekonomi desa.

Namun, sisi gelapnya, anak-anak muda di nagari kini mulai meninggalkan lapangan sepak bola atau lapangan voli di sore hari demi mabar game online atau melakukan scrolling media sosial tanpa henti.

Investasi Fisik untuk 39 Persen Masa Depan Bangsa
Mengapa kebugaran fisik pemuda desa ini menjadi urusan krusial? Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Statistik Pemuda Indonesia mencatat bahwa porsi pemuda (usia 16-30 tahun) yang tinggal di wilayah pedesaan mencapai 39,28 persen dari total populasi muda nasional.

Dengan total pemuda Indonesia yang mencapai 64,22 juta jiwa, berarti ada sekitar 25 juta pemuda yang hari ini hidup dan tumbuh di desa. Merekalah yang memegang tongkat estafet pembangunan nagari dan daerah sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan.

“Mereka yang akan menggantikan kepemimpinan generasi yang sudah senior ini tentu perlu kita persiapkan bersama,” tegas Mahyeldi mengingatkan pentingnya investasi kualitas manusia di daerah.

Pembangunan desa tidak melulu soal mengucurkan dana nagari atau mencor jalanan yang rusak. Membangun kualitas fisik manusia di dalamnya jauh lebih utama. Jika 25 juta pemuda desa tumbuh dengan fisik yang lemah dan tidak tangguh akibat malas bergerak, maka mimpi menciptakan kemandirian desa terancam menjadi sekadar angan-angan belaka.

Kolaborasi Mengembalikan Budaya Bergerak
Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa urusan kesehatan generasi muda tidak bisa diserahkan kepada pemerintah sendirian. Diperlukan kerja sama lintas sektor antara pemerintah daerah, dunia usaha seperti Bank Syariah Indonesia (BSI) yang menginisiasi kegiatan olahraga, hingga tingkat keluarga di rumah.

Angka 81 Km dalam Merdeka Bike tahun ini memang sebuah gimmick simbolis penanda usia kemerdekaan Indonesia. Namun, esensi yang dibawa harus melintasi batas simbol tersebut.

Sudah saatnya perangkat desa, pengurus pemuda nagari, dan komunitas lokal kembali menghidupkan ruang-ruang publik, menggalakkan turnamen antar-kampung, serta memotivasi anak muda daerah untuk meletakkan gadget-nya sejenak.

Sebab, kemerdekaan dan kedaulatan sebuah wilayah nagari tidak akan pernah bisa dijaga oleh generasi yang jempolnya lincah di layar kaca, namun fisiknya tumbang saat harus turun membangun tanah kelahiran. (H/Red)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Anggaran Desa Sumbar 2027 Diketok, Ini Prioritas Pembangunan Nagari

15 Agustus 2026 - 19:45 WIB

Babak Baru #SaveSipora: Kades Mentawai Lawan Amdal Cacat PT SPS

15 Agustus 2026 - 19:25 WIB

Menakar KUA-PPAS Sumbar 2027: Nasib Nagari Pascabencana

15 Agustus 2026 - 19:14 WIB

Sawit Sedot Air Nagari, Pajaknya Kok Mengalir ke Pejabat?

15 Agustus 2026 - 09:22 WIB

HUT RI ke-81: Kirab Bendi Pemprov vs Upacara Mandiri Nagari Sumbar

14 Agustus 2026 - 20:31 WIB

Menolak Manis di Bibir: Realitas Pahit Pembangunan Nagari Sumbar

14 Agustus 2026 - 14:26 WIB

Trending di KABAR PEMDA