Padang, Sumatera Barat[DESA MERDEKA] – Di saat Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sibuk mematangkan kirab Bendera Merah Putih mewah menggunakan kereta kencana bendi hias di Istana Gubernuran, kemeriahan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia juga lahir dari gerakan mandiri dan gotong royong masyarakat di tingkat nagari. Esensi nilai kemerdekaan tahun ini tidak lagi berpusat di ibu kota provinsi atau kabupaten, melainkan tersebar langsung ke jantung perdesaan melalui berbagai inovasi lokal.
Salah satu contoh nyata gerakan mandiri ini terjadi di Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam. Menurut rilis resmi yang dimuat media lokal Valora News, panitia HUT RI ke-81 di wilayah tersebut mengambil kebijakan inovatif dengan menyebar seluruh rangkaian acara kenegaraan ke tiap nagari agar terjadi pemerataan ekonomi bagi UMKM setempat.
Upacara bendera utama tidak ditumpuk di kantor camat, melainkan dipusatkan di Nagari Canduang Koto Laweh. Sementara itu, kegiatan pendukung seperti jalan sehat digelar mandiri oleh Nagari Bukik Batabuah, dan pawai alegoris dihelat oleh Nagari Lasi.
Geliat nasionalisme berbasis lokal juga tampak di Nagari Kinari, Kabupaten Solok. Dilaporkan oleh Padang Ekspres, masyarakat desa bersama mahasiswa KKN bahu-membahu secara swadaya menghias lingkungan kantor wali nagari dengan ornamen merah putih sejak awal Agustus demi menyambut detik-detik proklamasi.
Semangat ini sejalan dengan pesan Wali Nagari Tanjuang Gadang di Kabupaten Limapuluh Kota, Zamhar, yang dilansir oleh Sumbar24jam, bahwa momentum kemerdekaan ke-81 harus direfleksikan oleh warga desa lewat aksi nyata untuk mendorong kemajuan daerahnya sendiri, bukan sekadar menonton upacara seremonial pejabat.
Kembali ke tingkat provinsi, Kepala Biro Umum Sekretariat Daerah Provinsi Sumbar, Andree Harmadi Algamar, menyebutkan bahwa persiapan upacara di Istana Gubernuran Padang yang dijadwalkan pada Senin (17/8) sudah melalui tahap gladi bersih. Rangkaian acara tingkat provinsi tersebut memang akan diwarnai kirab salinan naskah proklamasi sejauh beberapa ratus meter dari Kantor Gubernur ke Istana Gubernuran menggunakan bendi hias.
Namun, gemerlap bendi hias di pusat kota tersebut rasanya kalah magis dibanding denyut upacara mandiri di pelosok nagari, tempat bendera dikibarkan di atas tanah berbatu oleh anak-anak petani dengan penuh khidmat.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.