Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Upaya pelestarian budaya lokal di Kabupaten Semarang semakin nyata, terutama melalui inisiatif pendidikan. Bertempat di halaman pusat layanan usaha terpadu, lomba membatik yang diselenggarakan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Semarang menjadi saksi dari komitmen tersebut. Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah SMP Negeri 4 Ambarawa, yang dikenal sebagai pelopor penggunaan dan pengembangan batik patron, batik asli Ambarawa.
Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa, Ibu Maria Butami, menjelaskan bahwa sekolahnya telah menjadikan kegiatan membatik sebagai bagian tak terpisahkan dari kurikulum melalui kegiatan ekstrakurikuler. “Kami ada ekstrakurikuler membatik. Jadi setiap Selasa, anak-anak kelas 7, 8, dan 9 bisa memilih untuk ikut,” ujarnya. Inisiatif ini telah berjalan selama tiga tahun terakhir dan diikuti oleh siswa secara sukarela.
Lebih dari sekadar ekstrakurikuler, hasil karya batik patron ini tidak hanya menjadi pajangan, melainkan juga diaplikasikan sebagai seragam sekolah. Dari total 450 siswa, semuanya mengenakan seragam batik patron yang dibuat sendiri. Langkah ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya “nguri-uri” atau melestarikan budaya secara teoritis, tetapi juga mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, menjadikannya bagian dari identitas sekolah.
Keputusan untuk menggunakan batik patron sebagai seragam sekolah didasari oleh keinginan untuk mengangkat motif lokal sebagai ikon Ambarawa. “Kita sudah punya batik patron, kenapa tidak kita angkat?” kata Ibu Maria. Dengan demikian, batik ini tidak hanya menjadi seragam, tetapi juga menjadi media literasi bagi anak-anak untuk mengenal warisan leluhur mereka, seperti motif tambaloman yang memiliki filosofi mendalam.
Dalam acara yang sama, Ibu Siti Sundari, guru prakarya dan pendamping ekstrakurikuler membatik, menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan mengembangkan potensi dan talenta siswa. “Kami ingin mengembangkan potensi setiap murid. Anak-anak yang bergabung di ekstrakurikuler ini punya talenta dan karya berupa batik,” jelasnya. Dengan keterampilan membatik, siswa diharapkan memiliki bekal untuk berwirausaha setelah lulus.
Harapannya, inisiatif ini dapat menginspirasi sekolah lain di Kabupaten Semarang untuk melakukan hal serupa. Menurut Ibu Siti, penting untuk menghargai dan melestarikan kearifan lokal yang ada di sekitar kita, tidak hanya sebatas pujian, tetapi juga melalui tindakan nyata. “Mari kita lestarikan dengan menggarapnya agar semuanya bisa terus berlanjut, tetap lestari,” pungkasnya.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.