Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

PENDIDIKAN Β· 20 Sep 2025 09:43 WIB Β·

Pelestarian Budaya: SMP Negeri 4 Ambarawa Jadi Pelopor Batik Patron


					Pelestarian Budaya: SMP Negeri 4 Ambarawa Jadi Pelopor Batik Patron Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Upaya pelestarian budaya lokal di Kabupaten Semarang semakin nyata, terutama melalui inisiatif pendidikan. Bertempat di halaman pusat layanan usaha terpadu, lomba membatik yang diselenggarakan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Semarang menjadi saksi dari komitmen tersebut. Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah SMP Negeri 4 Ambarawa, yang dikenal sebagai pelopor penggunaan dan pengembangan batik patron, batik asli Ambarawa.

Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa, Ibu Maria Butami, menjelaskan bahwa sekolahnya telah menjadikan kegiatan membatik sebagai bagian tak terpisahkan dari kurikulum melalui kegiatan ekstrakurikuler. “Kami ada ekstrakurikuler membatik. Jadi setiap Selasa, anak-anak kelas 7, 8, dan 9 bisa memilih untuk ikut,” ujarnya. Inisiatif ini telah berjalan selama tiga tahun terakhir dan diikuti oleh siswa secara sukarela.

Lebih dari sekadar ekstrakurikuler, hasil karya batik patron ini tidak hanya menjadi pajangan, melainkan juga diaplikasikan sebagai seragam sekolah. Dari total 450 siswa, semuanya mengenakan seragam batik patron yang dibuat sendiri. Langkah ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya “nguri-uri” atau melestarikan budaya secara teoritis, tetapi juga mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, menjadikannya bagian dari identitas sekolah.

Keputusan untuk menggunakan batik patron sebagai seragam sekolah didasari oleh keinginan untuk mengangkat motif lokal sebagai ikon Ambarawa. “Kita sudah punya batik patron, kenapa tidak kita angkat?” kata Ibu Maria. Dengan demikian, batik ini tidak hanya menjadi seragam, tetapi juga menjadi media literasi bagi anak-anak untuk mengenal warisan leluhur mereka, seperti motif tambaloman yang memiliki filosofi mendalam.

Dalam acara yang sama, Ibu Siti Sundari, guru prakarya dan pendamping ekstrakurikuler membatik, menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan mengembangkan potensi dan talenta siswa. “Kami ingin mengembangkan potensi setiap murid. Anak-anak yang bergabung di ekstrakurikuler ini punya talenta dan karya berupa batik,” jelasnya. Dengan keterampilan membatik, siswa diharapkan memiliki bekal untuk berwirausaha setelah lulus.

Harapannya, inisiatif ini dapat menginspirasi sekolah lain di Kabupaten Semarang untuk melakukan hal serupa. Menurut Ibu Siti, penting untuk menghargai dan melestarikan kearifan lokal yang ada di sekitar kita, tidak hanya sebatas pujian, tetapi juga melalui tindakan nyata. “Mari kita lestarikan dengan menggarapnya agar semuanya bisa terus berlanjut, tetap lestari,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Kisah Alvin di Sekolah Rakyat Dharmasraya Bikin Haru

2 Agustus 2026 - 14:15 WIB

Kisah Perjuangan Mahyeldi Bakar Semangat Siswa SRT Dharmasraya

2 Agustus 2026 - 12:08 WIB

Sekolah Rakyat Dharmasraya Titik Balik Putus Rantai Kemiskinan

2 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Kolaborasi Anggota Dewan Dongkrak Penerima PIP SMKN Kletek

31 Juli 2026 - 20:39 WIB

Menatap Masa Depan Pendidikan Tinggi yang Berkeadilan

28 Juli 2026 - 19:24 WIB

Ironi SDN Nunfutu 1 Malaka Beratap Daun Gewang

28 Juli 2026 - 17:12 WIB

Trending di PENDIDIKAN