Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

PENDIDIKAN · 4 Sep 2026 21:07 WIB ·

Bangkit dari Bawah: Pemulihan Gempa Ngada Berbasis Desa


					Tim PLHK LPPM UNEJ saat bertemu dengan Bupati Ngada, Raymundus Bena, S.S | Dok. Tim PLHK LPPM UNEJ Perbesar

Tim PLHK LPPM UNEJ saat bertemu dengan Bupati Ngada, Raymundus Bena, S.S | Dok. Tim PLHK LPPM UNEJ

Ngada, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Bagi masyarakat di pelosok Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, gempa bumi bukan sekadar angka magnitudo di layar BMKG. Bencana itu adalah runtuhnya dinding rumah, hilangnya rasa aman, dan tantangan berat untuk menata kembali hidup yang porak-poranda. Di saat masa-masa sulit pascabencana seperti ini, pemulihan sejati sering kali bukan datang dari instruksi atas ke bawah, melainkan dari seberapa kuat ruang-ruang di tingkat desa didengar dan dikuatkan.

Prinsip bergerak dari akar rumput (bottom-up) inilah yang mendasari langkah Universitas Jember (UNEJ). Melalui Tim Pusat Lingkungan Hidup dan Kebencanaan (PLHK) LPPM, mereka tidak memilih berdiri di menara gading. Tim ini turun langsung menemui warga desa di Riung, sebelum akhirnya merumuskan laporan dan memperkuat koordinasi dengan Bupati Ngada, Raymundus Bena, S.S., pada Kamis (3/9/2026).

Ketua Tim PLLHK LPPM UNEJ saat ditemui Bupati Ngada, Raymundus Bena, S.S., pada Kamis (3/9/2026)

Suara Desa yang Menentukan Arah Pemulihan
Selama ini, bantuan bencana kerap terjebak pada pola seragam yang diputuskan dari balik meja kerja perkotaan. Namun, UNEJ mencoba membalik paradigma tersebut. Penyaluran bantuan langsung ke wilayah desa di Kecamatan Riung menjadi penegasan bahwa desalah yang paling memahami skala dampaknya sendiri.

Masyarakat desa bukan lagi ditempatkan sebagai objek penerima bantuan yang pasif, melainkan mitra utama dalam pemulihan. Dengan menjangkau tingkat desa, bantuan material yang disalurkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan. Langkah ini sekaligus menguatkan kapasitas pemerintah desa dan kelembagaan lokal agar mampu memimpin pemulihan secara mandiri.

“Kami datang bukan sekadar menyerahkan bantuan fisik,” ujar Ketua PLHK LPPM UNEJ, Dr. drg. Banun Kusumawardani, M.Kes. “Kami membawa pesan solidaritas. Bencana tidak hanya menyisakan persoalan fisik, tetapi juga dampak sosial-kemanusiaan yang mendalam. Oleh karena itu, dukungan harus tumbuh dari apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat di bawah, secara berkelanjutan.”

Menuju Desa Tangguh Bencana yang Mandiri
Solidaritas yang mengalir dari sivitas akademika Universitas Jember ini diproyeksikan menjadi pemantik kolaborasi jangka panjang. Fokus utamanya adalah transformasi jangka panjang: membangun Desa Tangguh Bencana yang mandiri secara bottom-up.

Kapasitas pengetahuan dan riset yang dimiliki perguruan tinggi akan dilebur bersama kearifan lokal masyarakat Riung. Rencana pengabdian lanjutan tidak lagi dirancang secara sepihak, melainkan melibatkan partisipasi aktif warga melalui:

  • Penguatan Kapasitas Kader Desa: Melatih penggerak lokal sebagai garda terdepan mitigasi bencana.
  • Edukasi Kesiapsiagaan Berbasis Komunitas: Menyusun simulasi kebencanaan yang adaptif dengan kondisi geografis desa.
  • Pendampingan Kelompok Warga: Memulihkan kondisi sosial-ekonomi melalui penguatan kelembagaan tingkat RT/RW.

Ketua LPPM Universitas Jember, Prof. Dr. Yuli Witono, S.TP., M.P., menegaskan bahwa posisi strategis kampus adalah sebagai fasilitator yang menguatkan daya lenting (resilience) masyarakat.

“Sumber daya manusia dan pengetahuan yang kami miliki harus menyatu dengan kebutuhan riil warga terdampak. Bantuan ini adalah awal dari upaya bersama untuk meringankan beban dan mempercepat kemandirian mereka,” ungkapnya.

Melalui pendekatan yang berpusat pada kekuatan desa ini, Kabupaten Ngada—khususnya desa-desa di Kecamatan Riung—sedang menulis ulang cerita pemulihan mereka. Bukan sebagai wilayah yang meratap pasrah menunggu uluran tangan, melainkan sebagai sebuah komunitas yang bangkit berdiri, mengonsolidasikan kekuatan dari bawah, dan tumbuh menjadi jauh lebih tangguh menghadapi masa depan

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 61 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Muhidi Dorong Guru PPPK Jadi Penggerak Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas 2045

6 Oktober 2026 - 15:06 WIB

80 Pelajar SMA Padang Ikuti Latihan Menulis Literasi

2 Oktober 2026 - 15:03 WIB

Guru Samarinda Dilatih Menangkal Penipuan Finansial Digital

23 September 2026 - 23:37 WIB

Lepas 340 Penerima Beasiswa Sawit, Gubernur Mahyeldi : Jangan Sia-siakan Kesempatan

22 September 2026 - 10:45 WIB

Di Tengah Demam AI, Guru Sumbar Butuh Perlindungan

5 September 2026 - 14:24 WIB

Kelurahan Cipayung dan Paramadina Buka Ruang Kolaborasi Global

1 September 2026 - 14:21 WIB

Trending di PENDIDIKAN