Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 27 Okt 2026 21:12 WIB ·

Ayah Wajib Hadir: Formula Miliaran Rupiah Desa Lerep Cegah Fatherless


					Ayah Wajib Hadir: Formula Miliaran Rupiah Desa Lerep Cegah Fatherless Perbesar

Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Suara tawa bocah memecah gemercik air sungai di lereng Gunung Ungaran. Di sampingnya, seorang pria dewasa dengan celana digulung sibuk menjaga keseimbangan sang anak. Mereka tidak sedang sekadar berlibur. Mereka sedang menyembuhkan sebuah luka sosial tersembunyi yang bernama fatherless syndrome.

Selamat datang di Desa Wisata Lerep, Kabupaten Semarang. Sebuah desa yang berhasil mengubah masalah komunal menjadi berkah nasional.

Dua tahun lalu, Kepala Desa Lerep, Sumaryadi, dibuat gelisah. Beberapa anak remajanya berurusan dengan Polres Semarang akibat ikut-ikutan aksi kriminal jalanan alias kreak. Saat diinterogasi, jawaban salah satu anak mencabik hatinya: “Kulo pengin diruruhi bapak”—saya hanya ingin disapa dan diperhatikan oleh ayah. Anak-anak ini ternyata kesepian di rumah sendiri. Mereka tumbuh tanpa kehadiran emosional sosok pelindung.

Fenomena ini sejatinya adalah alarm keras bagi Lerep sebagai kawasan peri-urban (pinggiran perkotaan). Memiliki jarak hanya 3 kilometer dari Alun-Alun Lama Kota Ungaran, Lerep dihuni oleh 14.000 jiwa dengan struktur masyarakat yang sangat heterogen. Mobilitas tinggi para ayah komuter yang bekerja di pusat Kota Semarang membuat waktu mereka habis di jalan. Anak-anak mereka tumbuh di lingkungan pedesaan yang asri, tetapi miskin figur ayah secara rigid di rumah.

Data nasional mengonfirmasi keprihatinan ini. Hasil pendataan keluarga tahun 2025 oleh Kemendukbangga/BKKBN mencatat kenyataan pahit: satu dari empat anak di Indonesia tumbuh berkembang tanpa partisipasi aktif dari ayah mereka. Ayah ada, namun absen dalam pengasuhan.

Sinergi Komunitas Bervaluasi Miliaran Rupiah
Bergerak cepat, Sumaryadi memutar otak. Lewat pergeseran anggaran APBD desa, lahirlah sebuah gebrakan bernama paket wisata edukasi “Super Daddy”.

Gagasan ini bukanlah proyek idealis tanpa kalkulasi. Di balik keseruannya, ada manajemen rigid yang digawangi oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gerbang Lentera sebagai payung hukum ekonomi, berkolaborasi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Rukun Santoso sebagai eksekutor lapangan. Hubungan kelembagaan ini sangat organik; bahkan Susanto, mantan Ketua Pokdarwis, kini dipercaya menjabat sebagai Direktur BUMDes.

Secara finansial, ekosistem eduwisata Lerep terbukti sangat sehat. Studi ekonomi lingkungan mencatat total estimasi nilai ekonomi kawasan ini menembus angka Rp3.142.052.368.

Berdasarkan data laporan tahunan pariwisata, unit usaha ini membukukan omzet riil sebesar Rp707.656.000 pada tahun 2024. Angka tersebut terus merangkak naik menjadi Rp722.067.000 pada tahun 2025. Uniknya, kenaikan omzet justru terjadi di tengah efisiensi jumlah kunjungan. Ini membuktikan bahwa spending money per wisatawan meningkat drastis berkat paket edukasi premium seperti Super Daddy.

Menolak Menjajah Budaya Asli
Paket Super Daddy dirancang kaku untuk menolak intervensi budaya luar. Tidak ada pembangunan mal. Tidak ada fasilitas modern yang mencabut akar tradisi. Sebaliknya, wisatawan perkotaan dipaksa tunduk dan menghargai pola hidup tradisional lereng gunung.

Para ayah dan anak ditantang turun ke sawah memegang kendali kerbau, berlumpur ria membajak tanah, memanen singkong, hingga memukul bilah-bilah gamelan bersama. Ketika malam tiba, mereka tidak menginap di hotel berbintang. Wisatawan premium yang membawa mobil mewah justru diarahkan tidur lesehan di depan TV di homestay alami penduduk asli. Ibu-ibu perkotaan diajak memasak di dapur menggunakan kayu bakar bersama pemilik rumah.

“Tahun ini tema Hari Keluarga Nasional adalah ayah wajib hadir,” ujar Sumaryadi saat ditemui di Pendapa Rumah Dinas Bupati Semarang, Rabu (8/7/2026). “Kami mengaplikasikan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) secara nyata melalui wisata emosional ini”.

Langkah de-komodifikasi budaya ini diperkuat oleh riset akademis yang menyatakan pariwisata Lerep berhasil merevitalisasi daily life culture yang mulai luntur akibat urbanisasi. Budaya bertani dan kesenian rakyat—yang disokong oleh 22 kelompok seni desa—kembali menjadi kebanggaan generasi muda peri-urban karena terbukti menghidupkan roda ekonomi desa.

Sejauh ini, lebih dari 500 keluarga telah merasakan langsung keajaiban paket ini. Dampak ekonomi mikronya riil: rata-rata pendapatan pelaku usaha lokal naik stabil sebesar Rp450.000 per bulan, dan bisa melonjak hingga tiga kali lipat saat musim liburan.

Dari Pola Asuh hingga Ketahanan Pangan
Buah manis dari konsistensi berproses ini akhirnya ranum di tahun 2026. Kampung Keluarga Berkualitas (KB) Manggar Lestari Desa Lerep resmi dinobatkan sebagai yang terbaik di tingkat nasional.

Bupati Semarang, H. Ngesti Nugraha, memberikan apresiasi setinggi langit atas capaian ini. Menurutnya, peran aktif figur ayah sangat krusial dalam membenteng generasi muda dari bahaya narkoba, klithih, hingga kenakalan remaja peri-urban.

Hebatnya lagi, ketahanan sosial Desa Lerep bergerak simultan. Sirkulasi uang pariwisata terintegrasi secara rigid dengan jaminan sosial penduduk lokal. Uang dari pengelolaan bank sampah desa, misalnya, langsung dikonversi oleh manajemen BUMDes untuk membayar premi BPJS Ketenagakerjaan bagi warga pengelola pariwisata.

Bahkan, urusan gizi buruk pun diselesaikan secara gotong royong melalui gerakan “Serep Ceting” (Seribu Cara Warga Lerep Cegah Stunting). Warga sukarela mengumpulkan uang ke dalam wadah nasi (ceting) saat pertemuan RT. Dana swadaya ini sukses membangun tiga dapur umum yang menyuplai makanan bergizi gratis untuk anak-anak stunting.

Hasilnya mengejutkan: angka stunting Kabupaten Semarang sukses ditekan hingga tersisa 1,6 persen—menjadikannya yang terendah nomor dua di Jawa Tengah.

Desa Lerep telah meletakkan standar baru bagi Nusantara. Membangun desa mandiri tidak melulu soal menguras anggaran untuk infrastruktur fisik beton. Lerep memilih memelihara alam (Hamemayu Hayu ning Bawono) dan merawat manusianya. Mereka menanam kebersamaan keluarga, dan hari ini, mereka memanen martabat nasional.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Resonansi Metafisika Jawa dan Kedaulatan Pangan dari Desa Banyubiru

26 Oktober 2026 - 10:24 WIB

Ketika Regulasi Kementan Tunduk pada Kuasa Elit Gampong

23 Oktober 2026 - 22:03 WIB

Sengketa Silado: Potret Luka Desa Dijajah Kapitalisme Urban

22 Oktober 2026 - 19:27 WIB

Menghirup Asap, Menghitung Selisih Bantuan di Karang Mulya

13 Oktober 2026 - 23:49 WIB

Retak Rumah Tangga Minang dan Tumpulnya Taji Adat

10 Oktober 2026 - 07:52 WIB

Galodo Arosuka: Bantuan Perantau S3 dan Realita Ratusan Korban

6 Oktober 2026 - 21:37 WIB

Trending di SOSBUD