Solok, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Malam itu, Senin 21 September 2026 pukul 19.30 WIB, gemuruh mengerikan dari hulu lereng barat Gunung Talang memecah keheningan Arosuka. Setelah hujan lebat yang mengguyur sejak beberapa hari sebelumnya, aliran Sungai Aia Baliang mendadak meluap hebat.
Sungai itu menumpahkan kombinasi maut air bah, lumpur pekat, hingga bongkahan batu dan kayu yang menghantam tanpa ampun. Bencana galodo (banjir bandang) menerjang permukiman warga di Nagari Batang Barus dan Koto Gaek Guguak, serta melumpuhkan urat nadi pelayanan publik di kompleks Kantor Bupati Solok.
Dua nyawa melayang dan empat warga terluka. Sementara itu, puluhan rumah penduduk serta belasan kantor pemerintahan rusak berat akibat terjangan material. Di tengah nestapa posko pengungsian dan kepungan lumpur yang belum sepenuhnya tuntas dibersihkan, secercah harapan datang menembus batas wilayah melalui ikatan batin yang tak pernah putus antara ranah dan rantau.
Menepis Ketimpangan di Garis Depan
Logistik darurat berupa 40 paket sembako pelipur lapar dan 5 bal selimut penepis dingin yang diserahkan secara fisik di posko pada Selasa (6/10/2026) tentu belum cukup untuk merangkul ratusan jiwa terdampak.
Menyadari besarnya beban di kampung halaman, organisasi perantau Solok Saiyo Sakato (S3) Sumatera Barat bersama Ikatan Keluarga Kabupaten Solok (IKKAS) bergerak secara strategis.
Dipimpin langsung oleh Ketua Umum DPP S3, Drs. H. Nurfirman Wansyah, MM, Apt., rombongan rantau ini tidak hanya membawa bantuan fisik. Mereka turut menyerahkan bantuan dana kemanusiaan senilai puluhan juta rupiah secara simbolis di Posko Bencana Arosuka guna memberikan fleksibilitas bagi pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan jangka panjang para korban.
Langkah taktis S3 dan IKKAS ini menjadi motor penggerak penting di tengah masa perpanjangan tanggap darurat. Penyaluran ini dikawal langsung oleh Wakil Bupati Solok Candra, Sekretaris Umum S3 drg. Afando Ekardo, serta Kalaksa BPBD Kabupaten Solok Khairul.
Senandung Gotong Royong Multipihak
Bantuan dari perantau S3 bukanlah pejuang tunggal di tengah reruntuhan. Solidaritas kemanusiaan pascabencana galodo ini bergerak layaknya simfoni gotong royong yang saling melengkapi. Berbagai elemen turut bahu-membahu di lapangan:
Lembaga Sosial & Komunitas: Rombongan dari institusi hukum Hakim Tuah Sakato Sumatera Barat, menyalurkan total bantuan senilai Rp156.000.000 dalam bentuk dana dan logistik darurat untuk kebutuhan mendesak pengungsi. Komunitas lain seperti Campervan Indonesia juga ikut menyuplai air mineral dan dana tunai.
Bantuan Antar-Wilayah: Solidaritas kokoh ditunjukkan oleh tetangga terdekat, di mana Kota Solok bahkan rela menunda sejumlah agenda daerah demi fokus mengirimkan puluhan personel Damkar dan BPBD untuk mempercepat pembersihan sisa material luapan.
Sumbangsih paket pangan dan dana tunai dari S3 berperan penting sebagai suplemen respons cepat yang langsung menyentuh masyarakat. Penanganan makro di dapur umum pun ditopang bersama oleh konsolidasi logistik dari BPBD serta bantuan eksternal lainnya.
Menyusuri Luka, Merajut Pulih
Usai dialog penuh haru di bilik pengungsian, rombongan perantau bersama Wakil Bupati Candra bergerak menyusuri area perkantoran Pemkab Solok di Arosuka. Di bawah deru alat berat yang sedang melakukan pembersihan intensif, sisa-sisa material lumpur menjadi saksi bisu betapa parahnya hantaman bencana.
Bagi S3, organisasi perantau yang mengakar sejak 1984, aksi sosial ini bukan sekadar rutinitas seremonial. Ini adalah pembuktian filosofi mendalam tentang kebersamaan: ketika ranah terluka, rantau ikut merasakan perihnya.
“Bantuan ini sangat berarti bagi masyarakat kita yang saat ini sedang menghadapi masa-masa sulit pascabencana,” tutur Wakil Bupati Candra penuh apresiasi.
Arosuka memang sedang mengobati lukanya, tetapi kekuatan dari tanah rantau menegaskan bahwa masyarakat Solok tidak pernah berjalan sendirian menghadapi ujian ini.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.