Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

SOSBUD · 26 Okt 2026 10:24 WIB ·

Resonansi Metafisika Jawa dan Kedaulatan Pangan dari Desa Banyubiru


					Resonansi Metafisika Jawa dan Kedaulatan Pangan dari Desa Banyubiru Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] – Sri Anggoro Siswaji, Kepala Desa Banyubiru

Ketika alunan gending wayang kulit atau lakon ketoprak lazimnya mendominasi panggung Merti Desa di berbagai pelosok Tanah Jawa, Desa Banyubiru memilih pemandangan yang berbeda. Pada 11 November 2026, Lapangan Rakyat Desa Banyubiru bergetar bukan oleh hentakan gamelan perunggu layar kelir, melainkan oleh benturan kayu alu dan lesung yang ditabuh bersahut-sahutan. Melalui gelaran acara Sedekah Bumi Perdikan 2026, Desa Banyubiru menyelenggarakan Festival Lesung antar-dusun, sebuah tontonan tradisi yang kerap dipandang sekadar nostalgia perdesaan, namun sesungguhnya menyimpan kedalaman spiritual dan daya tahan kebudayaan.

Festival yang dilombakan antar-dusun ini sama sekali tidak diniatkan sebagai panggung euforia semata. Ada alasan historis, kosmologis, hingga imperatif filosofis yang mendasari mengapa instrumen penumbuk padi ini kembali dihadirkan di tengah modernisasi teknologi penggilingan padi (selepan).
Kosmologi Jawa: Dewi Sri, Batara Kala, dan Penolak Bala

Dalam membedah kebudayaan Jawa, instrumen bunyi tak pernah lepas dari mitologi penataan alam semesta. Dalam lakon kosmologi Jawa kuno, sosok Batara Kala (Karungkolo) digambarkan sebagai kekuatan alam yang berpotensi merusak jika tidak diselaraskan melalui ritual ruatan. Jika dalam seni pertunjukan wayang Batara Kala dapat ditenangkan melalui kidung dalang dan penyerahan mantra-mantra adiluhung—seperti Sastra Bedati, Sastra Cetak Jendroni, Sastra Caroko Balik, hingga Sastra Citra Pangruating Hiyu, maka dalam tradisi agraris, lesung memegang peran utama yang tak kalah sakral.

Mitos tuturan masyarakat Jawa menempatkan lesung berhubungan erat dengan Dewi Sri (Sri Nitri, Sri Mulih), manifestasi dewi padi dan kesuburan. Ketika musim panen tiba dan bulir padi ditumbuk di dalam lesung, Batara Kala yang berambisi mempersunting Dewi Sri dipaksa menerima kenyataan bahwa sang dewi telah menitis menjadi bahan pangan penghidupan manusia. Bunyi dentam alu pada kayu lesung menciptakan ketidaknyamanan bagi Batara Kala, memaksanya untuk menyingkir dari pemukiman warga.

Sifat penolak bala (tolak sengkolo) ini juga terekam ketika fenomena gerhana terjadi di mana matahari dan bulan bersinggungan. Masyarakat Jawa zaman dahulu membunyikan lesung sembari mengeluarkan sedekah di halaman rumah. Alunan lesung terbukti secara alami membangunkan hewani yang terlelap di kegelapan sementara, menegaskan transisi terbukanya kembali sinar alam semesta dan kembalinya Batara Kala ke asalnya.

Resonansi Nada Pentatonis dan Metafisika Suwuk
Bagi kacamata modernisasi yang mekanistis, ritme penumbukan padi mungkin dinilai sekadar benturan kayu biasa. Namun, dalam perspektif metafisika Jawa, tutupan lesung menghasilkan nada pentatonis yang memancarkan getaran resonansi gelombang bawah (suwuk). Benturan material alami dari kayu keras ini membimbing kesadaran manusia menuju keheningan batin.

Secara akademis, fenomena ini berkelindan erat dengan kajian kebudayaan Jawa. Supadjar (2001) menjelaskan bahwa simbol-simbol ritual dan instrumen bunyi dalam kosmologi Jawa berfungsi sebagai media pencerahan spiritual untuk mengharmoniskan manusia (manungsa) dengan Alam Semesta dan Sang Pencipta. Sementara itu, Mulder (2005) mencatat bahwa mistisisme Jawa memandang keheningan dan resonansi batin yang dicapai melalui tatanan nada sebagai sarana membuka ruang kesadaran murni (suwung).

Getaran suwuk bawah dari lesung menggetarkan simpul-simpul kesadaran paling mendasar pada diri manusia. Dalam kondisi terbukanya ruang kepasrahan spiritual (suwung) ini, doa, sujud, dan munajat yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa terbebas dari akumulasi ego diri. Kondisi ini melapangkan jalan ketulusan yang murni—sebuah “jalan tol” batiniah agar permohonan manusia lebih gampang diterima oleh Sang Maha Pencipta.

Jejak Agraris Desa Banyubiru
Secara historis, tradisi lesung kian menguat seiring bergesernya pusat peradaban Nusantara dari imperium maritim seperti Majapahit dan Demak menuju kerajaan agraris di pedalaman, seperti Pajang dan Mataram Islam. Mengingat padi menjadi tumpuan hidup utama masyarakat pedalaman, teknik menumbuk padi (ditutu) di lesung menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian.

Dari kerja fisik inilah lahir kebudayaan yang adiluhung. Menumbuk lesung yang dilakukan oleh 5 hingga 6 orang sekaligus membutuhkan pembagian ketukan irama yang presisi. Resonansi bunyi ini bertransformasi menjadi seni yang membakar semangat dan mengikis kepenatan. Bagi warga yang menunggu giliran menumbuk, mereka melantunkan tembang dolanan dan syair puji-pujian ciptaan para Walisongo.

Kawasan Desa Banyubiru sendiri sejak lama dikenal sebagai benteng penyangga pangan yang sangat vital. Bukti historisnya terlihat dari keputusan pemerintah Hindia Belanda yang mendirikan benteng pertahanan di wilayah Ambarawa dan Desa Banyubiru. Seluruh pasokan beras pada masa itu diproses menggunakan lesung, sebelum akhirnya kehadiran teknologi mesin penggilingan padi (selepan) perlahan menggeser peran tradisi ini.

Menjaga Akar Kebudayaan Nusantara
Antusiasme warga dalam Festival Lesung pada Sedekah Bumi Perdikan 2026 di Lapangan Rakyat Desa Banyubiru menunjukkan betapa kuatnya kerinduan akan akar tradisi. Ibu-ibu dari tiap dusun tampil all-out dengan pakaian adat, berlatih ritme ketukan, hingga mendatangkan lesung khusus.

Melalui ajang ini, Desa Banyubiru menegaskan dua pesan mendasar:
1. Pernyataan Sikap Ketahanan Pangan: Jauh sebelum pemerintah mendengungkan program strategis ketahanan pangan, para leluhur di pedesaan telah mempraktikkan kearifan lokal ini sebagai urat nadi kehidupan.
2. Kedaulatan Identitas Budaya: Mengangkat kembali lesung adalah ikhtiar merawat identitas sebagai bangsa Nusantara. Jangan sampai kita bernasib seperti masyarakat adat di berbagai belahan dunia yang kehilangan kebudayaan dan kedaulatan pangannya sendiri akibat tergerus zaman.

Melalui dentam nada lesung yang kembali bergema di Desa Banyubiru, kami tidak hanya sedang merayakan tradisi masa lalu, tetapi sedang merawat rasa syukur, memperkokoh kebudayaan, dan menegaskan kesiapan desa dalam menopang ketahanan pangan bangsa.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Ketika Regulasi Kementan Tunduk pada Kuasa Elit Gampong

23 Oktober 2026 - 22:03 WIB

Sengketa Silado: Potret Luka Desa Dijajah Kapitalisme Urban

22 Oktober 2026 - 19:27 WIB

Menghirup Asap, Menghitung Selisih Bantuan di Karang Mulya

13 Oktober 2026 - 23:49 WIB

Retak Rumah Tangga Minang dan Tumpulnya Taji Adat

10 Oktober 2026 - 07:52 WIB

Galodo Arosuka: Bantuan Perantau S3 dan Realita Ratusan Korban

6 Oktober 2026 - 21:37 WIB

Darurat Kasus Kekerasan Seksual: Mengapa Jalur Damai Melanggar UU TPKS?

4 Oktober 2026 - 08:12 WIB

Trending di SOSBUD