Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

SOSBUD · 12 Jan 2026 17:06 WIB ·

Melawan Lupa: Kisah Benteng Pendem Ambarawa Dalam Gerak Tari


					Melawan Lupa: Kisah Benteng Pendem Ambarawa Dalam Gerak Tari Perbesar

Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Benteng Fort Willem I, atau yang lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem Ambarawa, tidak akan lagi sekadar menjadi deretan dinding bata merah yang bisu dan misterius. Pada 17 Januari 2026 mendatang, tabir sejarah militer kolonial yang kaku ini akan “dicairkan” melalui pementasan perdana Sendratari bertajuk “Babad Fort Willem I”.

Pertunjukan ini merupakan sebuah terobosan estetik untuk menghidupkan kembali memori kolektif bangsa. Penonton tidak hanya diajak menonton tarian, tetapi melakukan perjalanan lintas waktu. Narasi dimulai dari era Benteng Stelsel (1834–1845) pasca-Perang Jawa, merayap ke masa kelam pendudukan Jepang, hingga memuncak pada dinamika heroik Palagan Ambarawa.

Koreografer Ino Sanjaya meramu perpaduan drama dan tari untuk mengubah arsip sejarah yang berdebu menjadi pengalaman sensorik yang nyata. “Kami ingin sejarah tidak sekadar menjadi teks, tetapi pengalaman estetik yang hidup bagi generasi sekarang,” ungkap pihak penyelenggara.

Ruh Musik dan Atmosfer Otentik
Keunikan pementasan ini terletak pada lokasinya yang digelar langsung di area benteng. Atmosfer bangunan tua tersebut memberikan energi magis yang tidak bisa didapatkan di gedung pertunjukan modern.

Daya tarik utama lainnya adalah kehadiran Gamelan Ki Gita Parama, sebuah perangkat musik yang diinisiasi oleh Mas R.A. Nugroho Adi dari Hanoman Art. Alunan musik gending yang diaransemen oleh Alrest Kentung berperan sebagai “ruh” pementasan. Musik inilah yang akan membimbing emosi penonton merasakan penderitaan para tawanan masa lalu hingga semangat perjuangan yang tertanam di dinding tebal Fort Willem I.

Upaya ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk penghormatan terhadap sejarah militer Indonesia. Melalui sendratari ini, Benteng Pendem bertransformasi dari simbol kekuasaan kolonial menjadi ruang edukasi kreatif yang mudah dicerna oleh masyarakat luas. Pementasan ini diharapkan menjadi pemantik bagi publik untuk lebih mencintai warisan cagar budaya melalui sudut pandang seni yang lebih humanis.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 41 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Pawai 74 Nagari: Saat Budaya Jadi Napas Pembangunan

20 April 2026 - 21:17 WIB

Kebangkitan BKMT Sungai Limau: Dari Masjid Membangun Ekonomi Desa

19 April 2026 - 15:05 WIB

Satu Dekade Bobok Bumbung: Martabat Desa Lewat Bambu

19 April 2026 - 14:18 WIB

Siltap Langsung dari Pusat: PPDI Karangrejo Perkuat Barisan

18 April 2026 - 21:03 WIB

Silat Sumbar: Dari Nagari Menuju Panggung Olimpiade Dunia

13 April 2026 - 13:35 WIB

Sinergi Pers dan Aparat: Jaga Keamanan Parungpanjang Lewat Informasi

12 April 2026 - 21:12 WIB

Trending di SOSBUD