Lembata [DESA MERDEKA] – Gunung Lewotolok di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik signifikan, menimbulkan ancaman serius bagi desa-desa sekitarnya. Status gunung saat ini adalah siaga, dengan serangkaian letusan freatik yang mengeluarkan abu vulkanik dan gas. Data dari Badan Geologi mencatat aktivitas seismik tinggi antara 16 hingga 31 Maret 2025, meliputi ratusan gempa erupsi, hembusan, tremor, dan vulkanik dangkal maupun dalam. Teramati pula lontaran lava pijar setinggi ratusan meter dari kawah.
Peningkatan aktivitas visual juga tercatat pada periode yang sama, dengan ketinggian asap mencapai 600 meter dan kolom erupsi hingga 700 meter dari puncak kawah. Kondisi ini menunjukkan aktivitas permukaan yang masih tinggi di kawah Ile Lewotolok.
Mengingat kondisi tersebut, masyarakat dihimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat gunung. Secara khusus, warga Desa Lamatokan dan Desa Jontona diingatkan akan potensi bahaya guguran lava dan awan panas dari sisi timur kawah. Lebih lanjut, warga Desa Jontona dan Desa Todonara dilarang memasuki wilayah selatan dan tenggara dalam jarak 2,5 kilometer dari kawah. Penggunaan masker dan pelindung diri lainnya sangat dianjurkan.
Badan Geologi melalui PVMBG telah mengeluarkan peringatan kepada masyarakat sekitar Gunung Lewotolok, terutama yang berada dalam radius 2 hingga 3 kilometer dari puncak, untuk menghindari aktivitas di area berbahaya. Kepatuhan terhadap arahan otoritas setempat terkait evakuasi dan keselamatan sangat penting. Pendakian dan wisata alam di kawasan gunung juga ditunda demi keselamatan.
PVMBG bekerja sama dengan tim pemantau lokal menggunakan teknologi canggih untuk memantau aktivitas gunung secara berkelanjutan. Data pergerakan magma dianalisis untuk memprediksi potensi letusan lebih lanjut. Pemerintah daerah dan tim penanggulangan bencana bersiap dengan fasilitas pengungsian, logistik, dan bantuan medis. Infrastruktur evakuasi juga disiagakan.
Peningkatan aktivitas Lewotolok berdampak signifikan pada sosial ekonomi desa sekitar. Sektor pertanian terancam abu vulkanik, dan pariwisata mengalami penurunan kunjungan. Kesiapsiagaan dan kerjasama masyarakat dengan pemerintah menjadi kunci menghadapi ancaman ini. Program mitigasi bencana berbasis masyarakat juga krusial dalam mengurangi risiko dan dampak. Kewaspadaan, pemantauan intensif, dan koordinasi antar pihak adalah kunci utama menghadapi potensi bencana Gunung Lewotolok. Langkah mitigasi yang tepat diharapkan dapat mengendalikan dampak dan menjaga keselamatan warga serta pengunjung desa.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.