Kebumen, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Alih-alih terus mengeluh soal kelangkaan pupuk subsidi yang tak kunjung usai, para petani di Desa Tepakyang, Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, memilih jalan pintas yang cerdas: memproduksi pupuk sendiri. Langkah berani ini diambil sebagai upaya nyata menuju kedaulatan pangan desa tanpa bergantung pada pasokan kimia dari luar.
Sudiyo, Ketua Tim Produksi Pupuk Organik Granul (POG) Desa Tepakyang, menjelaskan bahwa mereka memanfaatkan “harta karun” yang selama ini terabaikan di lingkungan desa. Bahan baku seperti kotoran sapi (tlepong), pelepah pisang, jerami, arang sekam, hingga tanah merah diolah menjadi pupuk bermutu tinggi.
“Semua bahan baku masih kami ambil dari dalam desa. Kami mencampurnya dengan dolomit, kokopit, serta Pupuk Organik Cair (POC) buatan sendiri,” ungkap Sudiyo.
Proses Produksi dan Hasil Nyata
Dalam sehari, Sudiyo bersama 11 petani lainnya mampu memproses sekitar 10 meter kubik bahan organik untuk difermentasi. Setelah melewati masa fermentasi selama 21 hari, bahan tersebut diolah menjadi pupuk granul yang siap diaplikasikan ke lahan pertanian.
“Secara kalkulasi, 10 meter kubik bahan baku tersebut bisa menghasilkan sekitar 10 ton pupuk organik,” tambahnya. Uji coba pada berbagai jenis tanaman pun menunjukkan hasil yang memuaskan, membuktikan bahwa kualitas pupuk buatan lokal tidak kalah dengan produk pabrikan.
Misi Besar Kedaulatan Pangan Desa
Kepala Desa Tepakyang, Arbani, menegaskan bahwa gerakan ini adalah bagian dari visi besar pemerintah desa untuk mencapai kedaulatan pangan. Ia bermimpi Desa Tepakyang tidak hanya mandiri dalam hal pupuk, tetapi juga mampu memproduksi benih sendiri.
“Kami ingin petani berdaulat. Masalah kelangkaan pupuk harus diselesaikan dari akarnya, yaitu dengan memproduksi kebutuhan tani secara mandiri,” tegas Arbani.
Meski saat ini produksi masih menggunakan alat sederhana—seperti mesin pengaduk semen (molen bangunan)—Arbani optimis kapasitas produksi akan terus meningkat jika didukung mesin khusus. Komitmen desa terhadap petani pun tidak main-main. Pada musim tanam mendatang, pemerintah desa berencana membagikan benih dan pupuk organik hasil produksi sendiri secara cuma-cuma kepada warga.
Langkah Desa Tepakyang ini menjadi tamparan sekaligus inspirasi bagi wilayah lain, bahwa solusi atas krisis pertanian sering kali berada tepat di bawah kaki kita sendiri, asal ada kemauan untuk berinovasi.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.