Tradisi Syawalan Klaten: Gunungan Ribuan Ketupat Ludes dalam Sekejap
Klaten, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Ribuan ketupat yang disajikan dalam tiga gunungan ludes diserbu warga hanya dalam waktu lima menit di Alun-alun Jimbung, Jumat (28/4/2023). Peristiwa ini menandai puncak perayaan Syawalan Kenduri Ketupat, sebuah tradisi turun temurun yang digelar warga Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten, setiap H+8 Lebaran.
Menurut Sekretaris Desa (Sekdes) Jimbung, Slamet, tradisi ini menyediakan lebih dari 1.000 ketupat yang disusun dalam tiga gunungan. “Kami siapkan tiga gunungan yang berisi lebih dari 1.000 ketupat. Begitu acara seremonial dan doa selesai, gunungan itu langsung ludes dan habis dalam waktu singkat,” jelas Slamet.
Makna ‘Ngaku Lepat’ dalam Tradisi Ketupat
Tradisi Syawalan ini memiliki makna filosofis yang mendalam. Nama ketupat, atau dalam bahasa Jawa disebut kupat, diartikan sebagai ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan. Ritual berbagi ketupat ini menjadi simbolisasi permintaan maaf dan kembali fitrah setelah perayaan Idulfitri.
Tradisi Syawalan Kenduri Ketupat telah berkembang secara turun temurun di Jimbung, dengan salah satu pusat kegiatan dulunya berada di kawasan Sendang Bulus Jimbung. Sendang (mata air) ini ikonik karena dihuni oleh bulus (kura-kura air tawar) yang legendaris, dan secara historis menjadi bagian integral dari perayaan tersebut.
Legenda Kiai Poleng dan Nyai Remeng
Pada masa lalu, Sendang Bulus terkenal karena dihuni dua bulus berukuran besar bernama Kiai Poleng dan Nyai Remeng. Kedua bulus ini sangat dihormati dan menjadi daya tarik utama tradisi.
Slamet menceritakan bahwa di masa kecil, anak-anak akan datang ke sendang dengan mengalungkan ketupat. Satu ketupat diberikan sebagai makanan untuk dua bulus besar tersebut, sementara satu ketupat lainnya dimakan sendiri oleh anak-anak, seringkali ditemani dengan bakso krikil di bukit dekat sendang. Konon, saking besarnya ukuran bulus-bulus itu, anak-anak bahkan bisa menaikinya, dan salah satunya memiliki lekuk mirip punggung manusia.
Meskipun Kiai Poleng dan Nyai Remeng telah tiada, sendang tersebut kini masih dihuni oleh bulus-bulus keturunan mereka. Kisah kedua bulus ini erat kaitannya dengan legenda lokal Desa Jimbung, yang melibatkan tokoh Raden Patohan.
Raden Patohan adalah seorang tokoh yang dihukum oleh ayahnya, Ratu Wiroto dari Kerajaan Jepara, karena suatu kesalahan. Ia dipotong kakinya dan harus meninggalkan kerajaan. Bersama abdi setianya, Raden Patohan mencari obat hingga ke Gunung Botak di sisi selatan Jawa. Setelah sembuh, ia kemudian mendirikan kerajaan di Jimbung.
Wibawa dan ketampanan Raden Patohan menarik hati seorang putri bernama Ratu Keling. Namun, cinta Ratu Keling ditolak oleh Raden Patohan. Tak kehabisan akal, Ratu Keling kemudian mengutus dua abdinya, yaitu Kiai Poleng dan Nyai Remeng, untuk membujuk Raden Patohan. Karena terus mendesak dan tidak berhasil, Kiai Poleng dan Nyai Remeng disumpah dan seketika berubah wujud menjadi bulus. Kedua bulus itulah yang kemudian menjadi penghuni legendaris di Sendang Bulus Jimbung.
Tradisi Kenduri Ketupat ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan perwujudan syukur, permohonan maaf, sekaligus upaya melestarikan warisan budaya dan sejarah yang terikat kuat dengan legenda lokal di Klaten.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.