Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KESEHATAN · 22 Jan 2026 00:18 WIB ·

Kader PKK Sigong: Ujung Tombak Intelijen Gizi Lawan Stunting


					Kader PKK Sigong: Ujung Tombak Intelijen Gizi Lawan Stunting Perbesar

Cirebon, Jawa Barat [DESA MERDEKA] Di tengah ambisi besar Indonesia Emas 2045, Desa Sigong, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, memilih strategi “perang” yang sangat membumi. Bukan sekadar menggelontorkan anggaran, mereka mengandalkan dedikasi kader PKK sebagai intelijen gizi yang bergerak senyap dari pintu ke pintu untuk memastikan tidak ada satu pun balita yang lolos dari pantauan kesehatan.

Di bawah komando Kuwu Sumarsono, Pemerintah Desa Sigong menjadikan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai prioritas. Namun, ia menyadari bahwa makanan tambahan setinggi apa pun proteinnya tidak akan berguna tanpa pengawasan ketat dan keterlibatan emosional orang tua.

“Keberhasilan kita menurunkan angka stunting di Sigong adalah buah dari rutinitas PMT yang dibarengi dengan peningkatan kesadaran orang tua. Tanpa pengawasan kader di lapangan, program ini hanya akan menjadi angka di atas kertas,” tegas Sumarsono, Selasa (20/1/2026).

Transformasi Posyandu: Menjemput Bola hingga ke Pelosok Blok
Salah satu terobosan yang dilakukan adalah penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP). Ketua PKK Desa Sigong, Yekti Siswandari, mengubah paradigma Posyandu dari layanan pasif menjadi unit gerak cepat. Layanan kesehatan kini dipecah ke setiap blok desa guna meruntuhkan sekat geografis yang sering menjadi alasan warga enggan memeriksakan gizi anak.

“Melalui Posyandu ILP, kami memantau siklus hidup warga secara utuh. Begitu ada balita dengan berat badan yang meleset dari standar, alarm intervensi langsung berbunyi. Kami segera melakukan PMT dan berkoordinasi dengan Puskesmas agar status gizinya tidak terlanjur jatuh ke kondisi stunting,” jelas Yekti.

Edukasi Perilaku: Lebih dari Sekadar Timbangan
Yekti menekankan bahwa teknologi kesehatan hanyalah alat. Senjata sebenarnya adalah perubahan perilaku di tingkat rumah tangga. Kader PKK tidak hanya menimbang badan, tetapi juga bertindak sebagai pendidik nutrisi yang mengajarkan pola makan gizi seimbang menggunakan bahan pangan lokal yang terjangkau.

Kerja sama organik antara bidan desa, Puskesmas, dan kader PKK menciptakan ekosistem pengawasan yang solid. Pertemuan rutin antar kader dimanfaatkan untuk mendiskusikan kendala riil di lapangan, bukan sekadar urusan administratif.

“Memantau berat badan anak adalah langkah sederhana namun paling krusial. Kami mengimbau ibu hamil dan orang tua balita untuk tidak absen ke Posyandu, karena di sanalah masa depan anak-anak kita ditentukan,” pungkas Yekti.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menghitung Detak Jantung Generasi: Cara Singosari Melawan Stunting

21 Juli 2026 - 21:03 WIB

Rakor Kader Pembangunan Manusia Kecamatan Singosari membahas percepatan penurunan stunting melalui e-HDW di Hall Room Desa Ardimulyo

Layanan Jiwa PDSKJI Sumbar Sasar Pelosok Nagari

20 Juli 2026 - 20:19 WIB

Digitalisasi Hati dari Desa: Gerakan Akar Rumput Sigap Melati

1 Juli 2026 - 19:58 WIB

Penanganan Stunting Desa Langlang melalui Rembuk Stunting

Korupsi SKTM RSUD Tulungagung Cederai Hak Sehat Warga Desa

26 Juni 2026 - 18:05 WIB

Desa Dengkol Mengubah Rembug Stunting Menjadi Laboratorium Solusi

24 Juni 2026 - 13:34 WIB

Syarat MCU Bakal Calon Kades Bekasi Kini Lebih Mudah

18 Juni 2026 - 05:20 WIB

Trending di KESEHATAN