Cirebon, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Di tengah ambisi besar Indonesia Emas 2045, Desa Sigong, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, memilih strategi “perang” yang sangat membumi. Bukan sekadar menggelontorkan anggaran, mereka mengandalkan dedikasi kader PKK sebagai intelijen gizi yang bergerak senyap dari pintu ke pintu untuk memastikan tidak ada satu pun balita yang lolos dari pantauan kesehatan.
Di bawah komando Kuwu Sumarsono, Pemerintah Desa Sigong menjadikan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai prioritas. Namun, ia menyadari bahwa makanan tambahan setinggi apa pun proteinnya tidak akan berguna tanpa pengawasan ketat dan keterlibatan emosional orang tua.
“Keberhasilan kita menurunkan angka stunting di Sigong adalah buah dari rutinitas PMT yang dibarengi dengan peningkatan kesadaran orang tua. Tanpa pengawasan kader di lapangan, program ini hanya akan menjadi angka di atas kertas,” tegas Sumarsono, Selasa (20/1/2026).
Transformasi Posyandu: Menjemput Bola hingga ke Pelosok Blok
Salah satu terobosan yang dilakukan adalah penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP). Ketua PKK Desa Sigong, Yekti Siswandari, mengubah paradigma Posyandu dari layanan pasif menjadi unit gerak cepat. Layanan kesehatan kini dipecah ke setiap blok desa guna meruntuhkan sekat geografis yang sering menjadi alasan warga enggan memeriksakan gizi anak.
“Melalui Posyandu ILP, kami memantau siklus hidup warga secara utuh. Begitu ada balita dengan berat badan yang meleset dari standar, alarm intervensi langsung berbunyi. Kami segera melakukan PMT dan berkoordinasi dengan Puskesmas agar status gizinya tidak terlanjur jatuh ke kondisi stunting,” jelas Yekti.
Edukasi Perilaku: Lebih dari Sekadar Timbangan
Yekti menekankan bahwa teknologi kesehatan hanyalah alat. Senjata sebenarnya adalah perubahan perilaku di tingkat rumah tangga. Kader PKK tidak hanya menimbang badan, tetapi juga bertindak sebagai pendidik nutrisi yang mengajarkan pola makan gizi seimbang menggunakan bahan pangan lokal yang terjangkau.
Kerja sama organik antara bidan desa, Puskesmas, dan kader PKK menciptakan ekosistem pengawasan yang solid. Pertemuan rutin antar kader dimanfaatkan untuk mendiskusikan kendala riil di lapangan, bukan sekadar urusan administratif.
“Memantau berat badan anak adalah langkah sederhana namun paling krusial. Kami mengimbau ibu hamil dan orang tua balita untuk tidak absen ke Posyandu, karena di sanalah masa depan anak-anak kita ditentukan,” pungkas Yekti.
Redaksi Desa Merdeka

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.