Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumatera Barat menggebrak paradigma pengelolaan rumah ibadah melalui Seminar dan Tabligh Akbar bertajuk “Masjid Dimakmurkan dan Memakmurkan” di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Minggu (16/2/2025). Ketua Umum PP DMI, M. Jusuf Kalla (JK), menegaskan bahwa kejayaan masjid tidak diukur dari kemegahan arsitekturnya, melainkan sejauh mana masjid mampu memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi umat di sekitarnya.
Jusuf Kalla menyoroti rasio unik di Sumatera Barat, di mana terdapat satu masjid atau surau untuk setiap 200 penduduk. Baginya, angka ini adalah kekuatan sekaligus ancaman jika tidak dikelola dengan sinergi tiga elemen utama: pendiri, pengurus, dan jemaah.
“Ketiga pihak ini harus bersinergi. Jangan sampai masjid hanya bertambah jumlah secara fisik, tetapi aktivitas di dalamnya justru minim. Tantangannya adalah bagaimana masjid yang makmur itu berbalik menjadi pihak yang memakmurkan umat,” ujar Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 tersebut.
Transformasi Masjid Jadi Pusat Inovasi Pemuda
Senada dengan JK, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mendorong pengurus masjid untuk keluar dari zona nyaman. Menjelang Ramadan 1446 H, Mahyeldi meminta masjid bertransformasi menjadi pusat kegiatan yang kreatif dan inovatif agar menarik bagi generasi muda.
Sumatera Barat sendiri telah lama menginisiasi gerakan revolusioner dengan memindahkan aktivitas belajar siswa dari sekolah ke masjid selama bulan suci sejak tahun 2004. “Kami ingin masjid menjadi ‘rumah kedua’ bagi pelajar. Dua kali sebulan, remaja masjid diajak melakukan aktivitas produktif agar masjid tetap hidup dan dinamis,” jelas Mahyeldi.
Visi Baru DMI Sumbar
Ketua DMI Sumbar, Ganefri, menekankan bahwa terminologi “Masjid Makmur dan Memakmurkan” adalah instruksi langsung dari kepemimpinan Jusuf Kalla. Seminar ini menjadi langkah awal bagi kepengurusan baru DMI Sumbar untuk menanamkan pemahaman bahwa masjid memiliki fungsi sosial-ekonomi yang besar.
Kegiatan strategis ini turut dihadiri oleh tokoh nasional seperti mantan Menkominfo Rudiantara, pimpinan ormas Islam (NU, Muhammadiyah, Tarbiyah-Perti), serta jajaran Rektor PTN/PTS se-Sumatera Barat. Kehadiran lintas tokoh ini mempertegas bahwa revitalisasi fungsi masjid memerlukan kolaborasi multisektoral untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera berbasis rumah ibadah.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.